BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA, Minggu (06/09/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Konspirasi Para Penyamun” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat. Cerpen ini merupakan lanjutan dari cerpen sebelumnya yang berjudul “Pagi Sejuk yang Membakar“.
Hanya perlu beberapa saat berada di dalam Masjid sudah membuat Dewo merasa tenang. Kusut, carut-marut dan pikiran ciut akibat kehilangan barang berharganya di warung Mak Izah perlahan susut.
Kehilangan laptop dan handphone nyaris membuat Dewo kalut. Dewo merasa kehilangan segalanya karena segala informasi, baik yang penting maupun yang sampah, ada di dua benda itu. Dia merasa separuh jiwanya ikut hilang dan masjid memang tempat yang tepat untuk memperoleh ketenangan. Air wudhu bisa menyejukkan raga dan sholat bisa menenangkan jiwa.
Kecerahan kembali memancar di wajahnya yang dihiasi sisa butir-butir air wudhu di pipi dan janggutnya. Wajahnya juga tampak kembali segar apalagi rambutnya masih basah sisa percikan air wudhu.
Dalam salatnya sebagian beban hidup telah dia pasrahkan ke Allah Yang Maha kuasa. Dewo meyakini hanya Dia Yang Maha mengatur segalanya. Kepasrahan itu membuat dahinya yang kerut berangsur kembali mulus.

Saatnyalah sekarang dia keluar untuk segera ke warung Mak Izah lagi, kali ini untuk mencari barangnya yang hilang. Harapannya, warung sudah buka kembali dan dia bisa ketemu Mak Izah.
Sambil memakai kembali jaketnya pelahan dia melangkah ke serambi Masjid lalu duduk di ambal-ambal. Di sini Dewo mengenakan sepatu, menggendong tas punggung dan memakai helm. Kemudian berdiri pelahan, mengibas-ibaskan kedua telapak tangan layaknya membuang sial dari sekujur tubuh.
Kepalanya juga diputar ke kanan dan ke kiri seperti petinju yang naik ring siap bertempur. Rambut hitam lurusnya turut terlempar kesana-kemari mengikuti gerak kepala. Kini, lengkap dan siap sudah semuanya.
Sambil melangkah ke halaman parkir Dewo hirup dalam-dalam udara halaman Masjid. Dinikmatinya sisa kesejukan pagi menjelang siang. Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu, meski udara sejuk tapi kepala dan hatinya terasa panas membara. Membara terbakar kejengkelan.
Siapa yang tidak jengkel hatinya, siapa yang tidak mendidih darahnya dan siapa yang tidak terbakar kepalanya ketika barang-barang berharganya diambil orang. Dengan susah payah lelaki ini meraih ketenangan dan berdamai dengan rasa jengkelnya.
Ketenangan itu bukan kepasrahan yang bermakna menyerah dan membiarkan barangnya hilang lenyap bak ditelan setan. Dewo telah bertekad menemukannya kembali. Salah satu doanya ketika tadi di Masjid: “Ya Allah, aku merasakan sendiri jengkelnya kehilangan barang, beri aku kekuatan untuk menemukannya kembali…”
Dewo berjanji pada dirinya sendiri dengan tenang akan mencari siapa yang telah mencuri barang-barang berharganya. Dia berusaha sungguh-sungguh agar di warung Mak Izah nanti hati dan kepalanya tetap dingin, tenang dan tidak rusak oleh emosinya sendiri.
Dewo berharap tidak sulit mencari barangnya kembali. Tidak sulit karena kehilangan itu terjadi di sebuah warung yang jelas siapa pemiliknya dan siapa saja pengunjungnya saat itu. Kehilangan itu bukan di tempat umum yang dikunjungi banyak orang dan bukan pula di tengah-tengah keramaian.
Di lain sisi muncul sesal di hati kecil Dewo. Lelaki ini menyesal, musibah yang menimpanya itu sebenarnya juga tidak lepas dari kecerobohannya sendiri. Dia terlalu percaya pada orang-orang yang saat itu ada di warung makan Mak Izah. Lelaki ini memang punya kelemahan, terlalu mudah percaya pada orang.
“Ah, sudahlah,” kata Dewo setengah berbisik pada dirinya sendiri. Lalu, dinaikinya sepeda motor dan pelan-pelan menuju warung. Ia ingat detik demi detik yang dia alami di warung pagi tadi. Betul, baru tadi pagi. Belum berganti hari.
Masih lekat dalam ingatan, Mak Izah, si pemilik warung yang menyambutnya masuk dengan ramah adalah wanita setengah baya berwajah bulat, alis matanya tebal dan mata “belo”. Bibirnya yang tidak tebal dan tidak tipis tampak tidak pernah berhenti tersenyum.
Wanita yang ditinggal mati suaminya karena tabrak lari, ditempa kehidupan yang keras, terlihat dari guratan di wajahnya. Sorot matanya tajam dan memancarkan kewibawaan seorang ibu. Mak Izah memberi kesan wanita yang kuat. Dewo membayangkan, ketika muda dia pasti wanita yang menarik.
***
Pagi tadi, ketika Dewo masuk, di dalam sudah ada dua orang lelaki. Satu memakai jaket kulit dan satunya memakai baju hitam. Penampilan dan gerak tubuh mereka tampak biasa saja seperti orang kebanyakan.
Mereka duduk di sisi kanan dan kiri Dewo, masing-masing menyanding sepiring gorengan dan segelas kopi. Selama di warung, antara mereka berdua tidak sekalipun terdengar saling bicara. Si jaket kulit sesekali menyahut ketika disapa, sedang si baju hitam diam seribu bahasa.
Terhadap dua orang lelaki itu Dewo awalnya tidak menyangka dan tidak menaruh curiga apapan. Tapi Dewo yakin, mereka berdua pasti saling kenal dan bahkan lebih dari itu, mereka bekerjasama. Dewo menduga kuat, dua orang inilah operator yang menggasak barang-barangnya.
“Ah, pasti tadi mereka berdua itu yang ambil barangku…” katanya berbisik sendiri.
Kini, beberapa meter lagi, Dewo akan sampai warung. Batinnya berkata: aku harus hati-hati, warung ini mirip sarang para penyamun…
Dewo termasuk orang yang sulit menyembunyikan perasaan maka dia akan menghadapi Mak Izah sebagai kenalan lama.
Warung semakin dekat dan semakin jelas ketika Dewo sampai di pelataran. Ternyata warung masih tutup. Iya, warung Mak Izah masih tutup. Pintunya tertutup rapat.
Dewo celingukan dan dilihatnya si Cungkring yang ketemu tadi pagi masih berdiri di tempat yang sama, persis di tempat seperti ketika dia melintas menuju Masjid tadi. Rasa ingin tahunya mulai naik. Otaknya bertanya-tanya: Untuk apa lelaki kurus ini berdiri lama-lama di depan warung di tengah terpaan debu jalanan dan sinar matahari yang mulai panas?
Lanjutnya: Kalau dia menunggu kendaraan tumpangan umum, sudah sekian lama berdiri, pasti sudah banyak yang lewat. Lalu, apa yang dia tunggu? Menunggu aku? Mengamati aku?
Sambil masih duduk di sepeda motor, Dewo menyapa ramah, “Warung ini masih tutup juga ya Pak?”
Bapak Cungkring itu hanya berpaling, mengangguk sedikit dan menatap mata Dewo dalam diam, bahkan salamnya pun tidak dijawab.
Dewo mencoba lagi, “Bapak mau masuk ke warung ini juga?”
Beberapa detik tidak dijawab, Dewo menyambung, “Kopinya enak sekali Pak, saya sebenarnya ingin ngopi, tapi sudah siang kok tidak buka juga?”
“Ya kalau begitu cari warung yang lain saja,” ujar lelaki setengah baya yang akhirnya ikut bersuara.
“Sayang sekali, tidak bisa minum kopi sekarang. Mungkin nanti sore sepulang kerja saya ke sini lagi Pak,” kata Dewo.
Dalam hati berharap pesannya ini nanti sampai ke telinga Mak Izah. Sementara itu si lelaki berbaju putih lengan panjang digulung sampai ke siku menatap Dewo lagi tanpa menjawab.
“Atau besok saya ke sini lagi? Pokoknya saya mau ke sini lagi,” lanjut Dewo.
Si lelaki berbaju putih menatap lagi, kali ini agak tajam. Setelah sedikit berbasa-basi Dewo berpamitan.
“Sampai ketemu lagi Pak,” ujar Dewo.
“Ya,” jawab si lelaki itu singkat sambil memainkan gulungan kertas di tangannya. Otaknya terus berkecamuk penuh dengan dugaan, curiga dan prasangka. Semakin curiga karena warungnya tutup.
Kenapa harus tutup? Apa yang Mak Izah takuti? Bukankah sekarang jam sibuk dan banyak orang perlu makan atau minum di warung? Ah, itu hanya Mak Izah yang bisa menjawab. Isi kepala Dewo terus berputar mengira-ira di mana barang berharganya berada sekarang.
Biarlah tutup, nanti sore pulang kerja aku mampir lagi, ujar Dewo dalam hati.
Ketika Dewo hendak menjalankan motornya untuk meluncur kembali ke tempat kerjanya, tiba-tiba melihat seseorang berkelebat di depannya. Pengamen muda tampak lari cepat menjauh menyeberang jalan.
Dewo tidak mengejar. Dia hanya heran, kenapa dia harus lari, padahal tidak ada Satpol PP atau Aparat mengejar atau merazia pengamen dan pedagang asongan di sekitar situ. Kepala Dewo lagi-lagi bertanya-tanya, kenapa dia lari begitu cepat? Apa menghindari aku? Apa takut karena merasa bersalah?
Lelaki berkumis tipis sambil berkendara, kepalanya semakin curiga, dia adalah korban konspirasi jahat sekelompok orang. Dewo ingat saat di warung tadi pagi, selain ada dua orang, beberapa menit kemudian datang pengamen muda memainkan lagu kesukaan Dewo “the firth of fifth” dengan biolanya.
Masak iya ada pengamen yang penyamun bisa mainkan lagu barat dengan biola, kata hati Dewo. Lalu ia ketawa sendiri. Sekarang jaman serba gak jelas, profesor saja ada yang jadi koruptor, lanjut bisikan hatinya.
Bagi Dewo, pengamen muda itu memang beda. Lagu yang dimainkan dan cara menggesek biola membuat Dewo terlena dan pikiran melayang-layang ke masa lampau. Suara biola yang kadang melengking dan tiba-tiba merendah mengayun-ayun khayalnya ke romantisme masa muda dulu.
Saat si pengamen terus menggesek biola, Dewo seperti dibuai asap candu lalu terbang tinggi kea lam mimpi. Lalat yang hinggap di cangkir kopinya pun tidak dia peduli.
Kini kecurigaan Dewo semakin kental. Oh, saat aku terpesona, terlena dan lupa segalanya itulah rupanya si pencuri beroperasi sehingga barang berhargaku hilang tanpa terasa, katanya dalam hati.
***
Sampailah Dewo ke tempat kerjanya kembali mencoba bekerja dengan tenang, tetapi sulit sekali. Pikirannya terbagi dengan usahanya yang belum berhasil menemukan kembali barang-barangnya.
Sambil kerja otak Dewo membayangkan apa yang sedang mereka para penyamun sedang berkumpul dan membagi hasil kejahatannya. Ia menduga wanita pemilik warung itu tahu semua yang terjadi. Bahkan, mungkin sekali wanita itulah dalang dari musibah yang dia alami. Wanita itu adalah si pengatur laku.
Dewo lalu mereka-reka sendiri peran para pengunjung warung pagi itu, yaitu Mak Izah, dua lelaki, si Pengamen muda dan si Cungkring. Dalam rekaannya itu, warung ditutup karena mereka akan berkumpul di sebuah tempat, entah di mana, untuk membagi hasil kejahatan.
Kebersamaan mereka berlima diliputi suasana batin yang gelisah. Berganti-ganti ada yang duduk, ada yang berdiri atau duduk lagi tanpa keluar dari ruangan. Persis seperti sekumpulan kucing makan ikan asin hasil curian.
Di antara mereka, tampaknya Mak Izah disegani oleh yang lain. Wanita ini dengan suara tenang, tetapi dalam, menyampaikan kekecewaannya, “Kali ini kita tidak dapat banyak, itu karena kalian semua tidak becus.”
Kesangaran dan kekekaran tubuh bukan ukuran untuk bisa disegani. Mak Izah, wanita berpenampilan lemah-lembut ini mendominasi pertemuan. Katanya kepada pria berjaket kulit warna hitam dengan nada tinggi, “Kamu Item, tiga kali gagal karena kamu terlalu lembut hati. Kerja seperti ini jangan lemah, kalian harus menjadi raja tega. Harus tega ke siapa saja, ke wanita cantik maupun ke nenek-nenek renta.”
Kepada si lelaki pendiam Mak Izah ngomong, “Kalau ada kesempatan, jangan lewatkan, langsung sikat!”
“Iya Mak, tapi….” si pendiam mencoba berdalih, tapi Mak Izah langsung memotong, “Tidak ada tapi-tapian!”
Lalu kepada semuanya Mak Izah berpesan, “Ingat tiap hari kebutuhan kita makin banyak, BBM naik, sembako naik dan kita harus makan,” lanjut Mak Izah, “Kurang apa lagi? Sudah aku gratiskan makan di warung, tapi ingat, jangan lewatkan setoran kalian!”
“Kamu Cungkring, kerja intel kamu bagaimana? Jangan makanmu saja yang banyak!” kata Mak Izah ketus, “Jangan ulangi memberi info yang salah. Tas hanya isi pakaian dalam kamu bilang tas isi barang-barang mahal!”
“Siap, maaf Mak…” sahut si Cungkring.
Ke si pengamen Mak Izah memuji, “Kerjamu bagus, bisa membuat orang terlena, tapi uang sewa alat ke pak Cungkring segera dibayar ya.”
Mak Izah lalu menutup pertemuan dengan membagi hasil dalam amplop tertutup. Mereka bubar dan Mak Izah kembali ke warungnya tanpa sepatah kata maaf maupun terima kasih.
Sampai di situ reka-laku Dewo berhenti. Dia kembali bekerja dan tidak sabar menunggu jam pulang, ingin segera ketemu Mak Izah. Mudah-mudahan barang berharganya belum dijual.
Lama-lama, tanpa disadari, Dewo menganggap reka laku yang dia karang itulah yang terjadi.
***
Jam pulang kerja sudah lewat sepuluh menit, tanpa ba-bi-bu Dewo langsung meluncur ke warung Mak Izah. Dia tak sabar ingin ketemu barang-barang berisi isi kepalanya. Bagi orang lain mungkin tidak seberapa nilainya tapi bagi Dewo barang-barang itu setara harga separuh jiwanya.
Dewo membawa motornya seperti kesetanan. Sepanjang jalan matanya jelalatan mencari celah-celah untuk bisa terus maju. Dia juga tidak menunggu lampu merah menjadi hijau, terobos terus, maju terus.
Semua dia lakukan karena ingin masalahnya cepat selesai. Dia tidak mau malam nanti tidak bisa tidur gara-gara memikirkan barang separuh jiwanya itu. Matanya yang jelalatan menangkap dari jauh tanda-tanda warung makam Izah sudah kembali buka.
Dewo tidak mau kecolongan lagi, kecepatan motornya ditambah. Dalam beberapa kejap dia sudah sampai di tritisan warung. Kemudian ia langsung loncat masuk warung dengan wajah kaku. Mulutnya terkatup rapat, matanya menyapu ke seluruh ruang. Tidak ada orang, tidak ada pembeli, tidak ada si Cungkring. Mak Izah juga tidak terlihat batang hidungnya.
Tapi kenapa pintunya terbuka? Tanya Dewo dalam hati.
Jemari tangan kiri mencengkeram tepi daun pintu dan tangan kanan berkacak pinggang. Ketika pantatnya hampir mendarat di kursi panjang, Dewo kaget dan batal duduk karena tiba-tiba muncul Mak Izah dari dapur.
Raut wajahnya biasa dan senyumnya ramah seperti tadi pagi saat ketemu pertama kali. Sangat berbeda dengan bayangan dan gambaran yang sudah dibangun Dewo, Mak Izah seperti biasa dengan wajah polos menyambut Dewo.
“Begini Mak Izah,” kata Dewo membuka percakapan, “Saya ke sini untuk mengambil Laptop dan handphone yang tertinggal di sini saat minum kopi tadi pagi.”
Mak Izah langsung menyahut, “Oh iyaa, tadi pagi Mak temukan di kolong meja. Mak juga kaget, kok ada barang-barang berharga di kolong meja?”
Wanita itu lalu membalikkan badan sambil ngomong, “Sebentar Mak ambil ya,” suaranya halus dan keibuan, meluluhkan hati Dewo yang terbakar dan ingin ngamuk.
Tanpa menunggu jawaban, Mak Izah masuk ke dalam dan dalam beberapa detik sudah kembali dengan membawa laptop dan handphone, lalu menyerahkan ke Dewo. Lelaki ini senang bukan main, barangnya telah kembali tanpa harus bersusah-susah dan marah-marah. Kalaulah pantas Dewo ingin berteriak, “Alhamdulillah… yes…, yes…, yes…!”
Rasa senang, bahagia dan syukur telah menutup hati dan pikiran Dewo dari syakwasangka dan pikiran buruk yang dibangun dalam ceritanya sendiri. Sederet pertanyaan tidak terucap dari bibir Dewo, seperti: Kenapa di tas punggungnya ada sekeping keramik dan segenggam batu. Siapa dua lelaki misterius? Siapa si pengamen muda dan siapa pula si Cungkring?
Berderet pertanyaan itu ditambah pertanyaan siapa sebenarnya Mak Izah, Dewo simpan dalam hati, tidak diucapkannya. Kini yang penting laptop dan handphone telah kembali ke pangkuan.
Dewo ngebut, ngibrit pulang ke rumah. Dia ingin tidur. Sehari ini rasanya capek sekali.
***
Judul: Konspirasi Para Penyamun
Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: Jumari Haryadi
Tentang Penulis/Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.
Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.
Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.
Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.
***