POV-mu Menentukan Jalan Hidupmu

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Rabu (04/11/2026) – Artikel berjudul “POV-mu Menentukan Jalan Hidupmu” ini merupakan karya tulis Yuli Yana Nurhasanah yang akrab disapa Yuli dan aktif dalam dalam Komunitas Menulis “Muslimah Peduli Umat”.

Pada zaman yang serba digital ini, derasnya arus informasi dan tren media sosial menjadi gempuran bagi anak muda saat ini. Berbagai sudut pandang atau Point of View (PoV)  tentang kehidupan berkembang dan menjadi bagian dari gaya hidup. Mulai dari standar kecantikan, gaya berpakaian, kuliner, traveling, healing, hingga cara memaknai kebahagiaan dan kesuksesan.

Gaya hidup atau pandangan hidup para influencer dan opini yang sedang viral sering dijadikan rujukan dalam bersikap oleh anak muda zaman sekarang. Bahkan nasihat orang tua maupun guru sering dianggap angin lalu karena pengaruh lingkungan pergaulan dan media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa PoV bukan sekadar persoalan selera atau perbedaan pendapat. Cara pandang yang diadopsi seseorang dapat memengaruhi pilihan hidup, standar kebahagiaan, serta nilai-nilai yang diyakininya.

Mirisnya,  fenomena ini bagaikan efek domino. Budaya saling meniru terjadi, misalnya bergaul dengan teman yang  mereka anggap up-to-date, meski apa yang mereka tiru sering kali keluar dari norma sosial dan keagamaan. Untuk anak muda saat ini PoV sangat penting untuk menunjukkan kalau mereka punya lifestyle tersendiri.

Media sosial bukan hanya ruang untuk berbagi informasi dan berekspresi, tetapi juga menjadi sarana pemasaran yang sangat kuat. Algoritma, iklan, dan strategi influencer dapat mendorong tren tertentu agar terus dilihat, diikuti, bahkan dianggap sebagai kebutuhan. Tanpa sadar, sudut pandang anak muda saat ini dibentuk oleh kepentingan sistem.

Ilustrasi: Sudut pandang sangat menentukan bagaimana seseorang itu melihat persoalan yang sama dengan kaca mata yang berbeda – (Sumber: BJN)

Dalam sistem kapitalisme, perhatian manusia memiliki nilai ekonomi. Anak muda menjadi salah satu kelompok konsumen yang dibidik melalui berbagai produk dan gaya hidup. Keinginan untuk tampil menarik, mengikuti tren, mencari pengakuan, hingga memenuhi standar kebahagiaan yang ditampilkan di media sosial dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi.

Ketika cara pandang sekuler-liberal mendominasi, kebahagiaan berisiko diukur dari kepemilikan materi, kebebasan tanpa batas, popularitas, dan kepuasan pribadi. Akibatnya, seseorang dapat terjebak dalam budaya konsumtif, materialistik, serta kebiasaan membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Memang tidak semua tren atau pandangan hidup seorang influencer yang populer itu negatif; ada juga  sisi positifnya. Persoalannya adalah ketika suatu pandangan diterima tanpa ditimbang dengan kebenaran di sisi masyarakat banyak dan dinilai benar dalam pandangan agama sehingga ada pertimbangan pantas atau tidak dijadikan pedoman hidup.

Bagi seorang Muslim, bahaya yang lebih mendasar muncul ketika standar benar dan salah tidak lagi merujuk pada syariat Allah, melainkan pada apa yang dianggap wajar, keren, dan menguntungkan oleh lingkungan.

Allah SWT berfirman, “Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. (Q.S. Al-An’am: 116).

Ayat di atas mengingatkan bahwa banyaknya pengikut bukanlah ukuran kebenaran. Karena itu, generasi muda Muslim membutuhkan cara pandang yang kokoh agar tidak mudah terseret arus yang bertentangan dengan Islam.

Pandangan yang kokoh berasal dari keyakinan Islam memiliki landasan berpikir dan standar perbuatan yang bersumber dari wahyu Allah. Seorang Muslim tidak menjadikan tren sebagai penentu utama kehidupannya, tetapi menjadikan halal dan haram serta ketentuan syariat sebagai pedoman dalam bertindak.

Anak muda Muslim harus memahami bahwa kehidupan bukan sekadar mengejar kesenangan dunia, popularitas, atau pencapaian materi. Tujuan hidup seorang Muslim adalah beribadah  kepada Allah dan meraih ridha-Nya. Dengan landasan ini, setiap pilihan hidup akan dipertimbangkan berdasarkan tuntunan Islam.

Tidak semua yang viral layak diikuti. Generasi muda harus bersikap kritis terhadap tren dan propaganda media sosial. Generasi muda perlu membiasakan diri memeriksa informasi, memahami kepentingan di balik suatu tren, serta menimbangnya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah. Jangan sampai keinginan untuk diterima lingkungan membuat mereka mengorbankan prinsip beragama.

Generasi muda harus dibentuk dengan kepribadian Islam melalui pembinaan dan pendidikan. Keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menanamkan pemikiran dan perilaku Islam. Generasi muda perlu dibekali pemahaman Islam yang benar, dibiasakan menaati syariat, serta didorong untuk berdakwah dan memberikan manfaat bagi umat.

Generasi muda membutuhkan teman dan komunitas yang saling menguatkan dalam kebaikan dan mendukung dalam ketaatan, bukan sekadar berlomba mengejar tren. Lingkungan yang baik membantu mereka menjaga prinsip, memperluas ilmu, dan menggunakan media sosial sebagai sarana menyebarkan kebenaran.

Pembentukan generasi berkepribadian Islam tidak cukup berhenti pada perubahan individu. Diperlukan pula pendidikan, budaya, dan kehidupan masyarakat yang mendukung ketaatan kepada Allah. Dalam perspektif Islam, penerapan syariat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara menjadi bagian dari upaya mewujudkan kehidupan yang berlandaskan petunjuk-Nya.

Generasi muda harus disiapkan menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, kritis terhadap pemikiran yang bertentangan dengan Islam, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan umat.

Bangun PoV berdasarkan  akidah Islam. Jadikan Al-Quran sebagai pedoman, syariat sebagai standar perbuatan, dan ridha Allah sebagai tujuan kehidupan. Karena generasi yang memiliki cara pandang Islam bukan hanya mampu menjaga dirinya dari arus  pemikiran yang menyesatkan tetapi juga berpotensi menjadi generasi yang berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang mulia. Wallahu ‘alam bishawab.

***

Judul: POV-mu Menentukan Jalan Hidupmu

Penulis: Yuli Yana Nurhasanah

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Yuli Yana Nurhasanah atau  akrab dipanggil Yuli ini lahir di Ciamis, pada 8 Juli 1984. Menulis Opini Islam menjadi kegiatan kesehariannya beberapa bulan belakang ini. Semua ini berawal dari keprihatinannya terhadap realitas kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat saat ini.

Yuli Yana Nurhasanah, penulis – (Sumber: BJN)

Menulis opini dengan sudut pandang Islam mencoba menyuarakan pemikiran dan isi hati, mencoba membuka pemikiran, dan pemahaman umat melalui tulisan.

Wanita yang suka berpikir ini mulai menulis saat ia bergabung dengan Komunitas Menulis “Muslimah Peduli Umat”. Beberapa tulisan Yuli tentang berbagai topik sudah dimuat di media online. Ia juga aktif di media sosial Facebook dengan akun Yuli Yana Nurhasanah.

***