BERITA JABAR NEWS (BJN), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (05/10/2026) – Melestarikan permainan tradisional atau kaulinan barudak di tengah pesatnya perkembangan era digital bukanlah perkara mudah. Tanpa langkah nyata dari berbagai pihak, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi budaya lokal dikhawatirkan semakin terkikis dan perlahan menghilang.
Generasi Alfa yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi digital cenderung lebih akrab dengan hiburan modern, budaya populer, K-Pop, serta berbagai tarian viral yang marak di media sosial. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pelestarian seni dan budaya tradisional, termasuk permainan rakyat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Berangkat dari kepedulian tersebut, TBM Bina Kreasi Muda menggelar Festival Kaulinan Barudak sebagai upaya mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda sekaligus menanamkan nilai-nilai kearifan lokal. Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Rangkaian kegiatan diawali dengan gelar wicara yang menghadirkan Samson, CMS, S.Sos., M.I.Kom., dosen Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Padjadjaran, serta Dadan Hermawan, M.Pd., seorang praktisi sekaligus budayawan.
Selain gelar wicara, festival ini juga menghadirkan lokakarya yang melibatkan Komunitas Hong melalui Kudrat Firmansyah, yang akrab disapa Mang Koko, sebagai narasumber. Kehadiran akademisi dan praktisi budaya tersebut diharapkan dapat memperkaya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan permainan tradisional.
Pembukaan Festival Kaulinan Barudak dilaksanakan pada 27 September 2026, kemudian dilanjutkan dengan lokakarya pada 4 Oktober 2026. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Kadakajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Permainan tradisional merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia. Tidak hanya berkembang di Jawa Barat, permainan rakyat juga tersebar di berbagai daerah di Nusantara dengan nama, aturan, dan karakteristik yang beragam. Bahkan, sejumlah permainan masih dikenal namanya oleh masyarakat, tetapi tata cara bermain serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mulai terlupakan.
Gelar wicara diselenggarakan sebelum festival dan lokakarya untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna, manfaat, serta filosofi kaulinan barudak. Dengan demikian, masyarakat tidak sekadar mengenal permainan tradisional sebagai hiburan, tetapi juga memahami perannya dalam pendidikan karakter anak.
Dalam tradisi Sunda, filosofi kaulinan barudak berkaitan erat dengan pembentukan karakter generasi muda melalui prinsip cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Cageur berarti sehat jasmani dan rohani, bageur bermakna baik hati dan berakhlak mulia, bener berarti menjunjung kebenaran dan kejujuran, pinter berarti cerdas, sedangkan singer menggambarkan kecakapan dan keterampilan.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai permainan tradisional yang dilakukan secara berkelompok. Anak-anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, menghargai teman, menaati aturan, serta membangun sikap toleran dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat kebersamaan dan gotong royong pun tumbuh melalui aktivitas bermain yang melibatkan banyak peserta.
Keunikan permainan tradisional lainnya terletak pada penggunaan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Beberapa permainan bahkan tidak membutuhkan alat khusus, sedangkan permainan lainnya memanfaatkan bahan alami seperti daun kelapa, bambu, jerami, dan daun singkong.

Dari bahan-bahan tersebut, anak-anak dapat menciptakan beragam bentuk permainan dan karya kreatif. Selain merangsang daya imajinasi, aktivitas ini juga membantu melatih keterampilan motorik, ketangkasan, serta kepekaan anak terhadap lingkungan.
Melalui Festival Kaulinan Barudak, TBM Bina Kreasi Muda berharap semakin banyak anak yang tertarik memainkan permainan tradisional dan tidak hanya terpaku pada hiburan berbasis gawai.
“Semoga anak-anak terpacu untuk semakin mau bergerak. Jangan mager (malas bergerak). Ditambah jika para orang tua terlibat, selain mempererat kedekatan emosional keluarga, mudah-mudahan bisa mengurangi penggunaan gadget pada anak-anak,” demikian harapan TBM Bina Kreasi Muda yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Festival ini menjadi salah satu langkah nyata untuk memperkenalkan kembali kekayaan permainan tradisional kepada generasi muda. Dengan keterlibatan anak-anak, orang tua, komunitas, akademisi, dan para pelaku budaya, kaulinan barudak diharapkan tetap hidup sebagai warisan budaya sekaligus sarana pendidikan karakter di tengah perubahan zaman.
***
Judul: Festival Kaulinan Barudak di Sumedang: Upaya Melestarikan Permainan Tradisional dan Membentuk Karakter Generasi Muda
Kontributor: Rohman Gumilar
Editor: Jumari Haryadi