Cerpen “Ibu, Aku Tak Mau Sendiri”

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA, Sabtu (03/10/2026) – Cerpen berjudul “Ibu, Aku Tak Mau Sendiri”merupakan karya original dari Neneng Salbiah yang sering menggunakan nama nama pena “Violet Senja”. Cerpen lainnya bisa Anda lihat di sini: “Anak Kopaja Sejati”, “Perempuan di Ujung Belati”, dan “Kupersembahkan Kenikmatan Terakhir untuk Bapak”.

Hari ini berjalan seperti biasa, bangun pagi, berangkat ke sekolah, hanya saja tidak ada sarapan seperti biasanya. Matahari memancarkan semangat. Sinarnya menembus celah jendela kelas, menyentuh meja-meja kayu yang mulai kusam, jatuh di atas punggung anak-anak yang menunduk tekun menorehkan tinta di atas kertas.

Di barisan ketiga, duduk Ananda. Tangan kecilnya bergerak tenang, menyusun huruf demi huruf, seakan tiada beban yang membenam dadanya. Wajahnya teduh. Namun, siapa pun yang memandang lekat-lekat akan menyadari adanya kabut tipis yang menyelimuti manik bening kedua bola matanya, sepasang mata yang sempat memandang perpisahan, tapi memilih untuk tetap melangkah.

Neneng Salbiah
Neneng Salbiah, penulis – (Sumber: Kompasiana)

Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang menyadari bahwa sejak semalam, sebelum fajar menyapa, dunia kecilnya telah runtuh perlahan-lahan. Tanpa suara. Tanpa gemuruh yang terdengar tetangga. Hanya ia yang mendengar napas terakhir ibunya. Hanya ia yang memeluk tangan yang perlahan mendingin, menatap wajah yang selama ini menjadi pelabuhan pulangnya, kini tenang selamanya.

Pagi ini, Ananda tetap mengenakan seragam yang rapi, menyisir rambutnya sendiri, menutup pintu rumah yang kini terasa luas, dan melangkah ke sekolah. Bukan karena ia tidak sedih. Bukan juga karena ia tidak rindu. Melainkan karena ia tak sanggup membayangkan langkah kakinya sendiri kembali ke rumah yang tak lagi menyambutnya.

Suasana kelas berjalan damai. Papan tulis penuh angka dan penjelasan, suara guru yang menjelaskan ibarat aliran sungai yang tenang. Ananda mendengarkan. Ia berusaha menahan agar pikirannya tak melayang pulang, ke ruang tamu yang sunyi, ke kamar yang tak lagi berisi suara lembut Ibu. Ia berusaha mencengkeram setiap kata yang diucapkan gurunya, sebagai jangkar agar ia tak hanyut kembali ke kesunyian yang menanti.

Hingga suara ketukan di pintu terdengar pelan. Seorang lelaki berdiri di ambang pintu, wajahnya tertutup bayang duka yang mendalam. Nada suaranya pelan menyapa guru dan seketika itu pula, udara di dalam kelas terasa berubah. Seperti ada angin dingin menyelinap masuk, membuat daun jendela bergetar. Tatapan guru perlahan beralih dari tamu itu ke arah Ananda, lalu kembali ke arah lelaki tersebut. Ada rasa tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Ananda,” panggil sang guru, suaranya bergetar halus.

Ananda mendongak. Kertas ulangan di tangannya masih setengah terisi. Ia meletakkan pulpen perlahan, berdiri, berjalan mendekat dengan langkah yang tetap tenang, seakan ia telah menyangka panggilan ini akan datang.

“Ananda,” ulang Bu Indah, menatap gadis kecil yang melangkah pelan kehadapannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, “Bapak ini membawa kabar. Kabar yang sangat berat. Katanya, ibumu…” Suara Bu Indah terbata.

Kata-kata itu terhenti di kerongkongan, seakan enggan turun. Namun, Ananda mengangguk pelan, seolah menegaskan sesuatu yang sudah ia ketahui sejak lama.

“Iya, Bu,” jawabnya dengan suara yang lembut dan teguh,”Saya tahu.”

Suasana hening seketika. Hening yang memeluk setiap sudut ruangan, menyelimuti napas anak-anak yang kini saling berpandangan dengan bingung.

 “Kau sudah tahu?” Tanya gurunya, tak kuasa menahan keheranan yang bercampur duka, “Sejak kapan, Nak?” Tanya Bu Indah heran, seraya memegang kedua bahu Ananda.

“Sejak semalam, Bu. Sebelum saya berangkat ke sini,” jawab Ananda dan di kalimat itulah pertahanannya mulai meleleh.

Ananda menunduk. Bahunya bergetar pelan.

“Ibu pergi saat saya sedang memeluknya,” ujar Ananda dengan ada haru.

Tatapan mata Ananda yang semula terlihat tegar kini berubah drastis. Air matanya mulai menetes jatuh di ujung sepatu hitam yang warnanya mulai pudar.

“Terus, kenapa kau tetap datang ke sekolah? Mengapa tidak ada di sampingnya? Mengapa tidak menunggunya di rumah?” Tanya sang guru.

Ananda mengangkat wajahnya. Matanya bening, penuh luka yang dalam. Ia menelan ludah, menahan isak yang ingin meledak. Di antara hening yang memagari mereka, terdengar jawabannya yang lembut, memecahkan hati siapa pun yang mendengarnya.

“Saya tidak mau melihat jenazah ibu,” suara Ananda pecah, tangis yang ia tahan sejak semalam akhirnya tumpah, “Saya hanya tinggal berdua sama ibu, pasti sekarang rumah sepi sekali.”

Kalimat itu melayang di udara, ringan. Namun, menghantam setiap jiwa yang hadir di sana. Rumah sepi. Dua kata sederhana, tetapi menyimpan ketakutan terdalam seorang anak. Ketakutan kembali ke tempat yang tak lagi memilikinya. Tempat yang dulu hangat oleh tawa dan nasihat ibunda, kini hanya menyisakan dinding yang diam dan lantai yang dingin.

Ananda tak ingin pulang bukan karena tak mencintai. Ia tak ingin melihat jenazah ibunya bukan karena tak rindu. Melainkan karena baginya, melihat ibunya terbaring diam berarti menerima kenyataan bahwa ia kini benar-benar sendirian, tak ada lagi tangan yang mengusap kepala saat sakit. Tak ada lagi suara yang memanggil namanya saat pagi tiba. Tak ada lagi tempat mengadu di mana ia merasa butuh sesuatu.

“Kalau saya lihat ibu begitu, saya takut percaya,” lanjutnya di sela isak yang tertahan, “Di sini, di sekolah, saya merasa ibu masih ada. Seperti biasa. Nanti pulang sekolah, ia akan menunggu di depan pintu, tersenyum menyambut saya. Tapi kalau saya pulang sekarang, saya tahu ia takkan menyambut saya lagi.”

Ananda meremas jemari tangannya erat, berusaha menahan bayangan kepergian itu agar tak pergi terlalu jauh, “Rumah kami kecil Bu dan sekarang terasa terlalu besar. Sepi sekali. Sepi yang menakutkan. Saya takut masuk ke sana sendirian.”

Seketika, ruang kelas berubah menjadi samudra duka. Tak ada yang sanggup menahan air mata. Guru mendekat, merentangkan peluk, dan Ananda memeluknya erat, seakan memeluk sisa-sisa kehangatan dunia yang masih tersisa.

Teman-teman Ananda pun berdatangan satu per satu. Mereka memeluk bahu dan punggung Ananda, berbagi kekuatan yang mereka miliki, meski mereka sendiri masih anak-anak yang belum sepenuhnya paham betapa pahitnya kehilangan.

“Kau tidak sendirian Ananda,” bisik salah satu teman, memeluknya dari samping, “Kami di sini, selalu ada di sisimu.”

“Kau tidak akan sendirian,” tambah yang lain.

Ananda hanya menggeleng pelan. Air mata mengalir membasahi pipinya.

“Terima kasih, tapi ibu tak tergantikan. Tak ada yang bisa menggantikan tempatnya,” ujar bocah yang masih duduk di kelas Lima sekolah dasar tersebut dengan nada pilu.

Ananda tahu itu. Ia tahu bahwa kehangatan ibunya adalah sesuatu yang tak bisa dibeli, diganti, atau dipinjam dari siapa pun. Ketika jam pulang sekolah nanti, ia harus pulang ke rumah yang tak lagi memancarkan cahaya. Ia harus menutup pintu sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, di ruangan yang dulu dipenuhi kasih sayang, kini hanya dipenuhi kenangan yang berbisik pelan.

Jam berakhir. Bel berbunyi pelan, memecah keheningan yang sempat tercipta. Ananda membersihkan air matanya, menarik napas panjang, berusaha tersenyum. Senyum yang rapuh. Namun, berusaha kuat dan berani.

Kemudain Ananda merapikan seragamnya, mengambil tas punggungnya, dan bersiap melangkah keluar. Teman-temannya berjalan bersamanya, memegang tangan kecilnya, memberi sedikit kekuatan agar ia sanggup melangkah pulang.

Semakin dekat ia ke rumah, semakin pelan langkah kakinya. Dari kejauhan sudah terlihat kerumunan. Pintu pagar yang biasanya tertutup rapat kini terbuka lebar. Suara isak tangis, bisik-bisik tetangga, bau dupa dan bunga melati yang menyengat memenuhi udara, menyapanya sebelum ia sempat menyapa siapa pun.

Langkahnya terasa begitu berat. Ia berhenti di ujung jalan, tak berani melangkah lebih jauh. Di sana, di halaman rumahnya yang sempit, warga sibuk bergerak. Ada yang menata kain penutup, ada yang merapikan tempat peristirahatan terakhir, ada yang membaca doa dengan suara gemetar. Di tengah-tengah keramaian itu, terbaring sesuatu yang dibalut kain putih. Diam, sunyi, tak bergerak.

Ananda menelan ludah. Tenggorokannya kering dan perih. Ia mundur selangkah, lalu selangkah lagi. Tidak. Ia tak bisa mendekat. Ia tak sanggup melihat tubuh ibunya yang tak lagi bergerak, tak lagi tersenyum, tak lagi memanggil namanya. Ia tak ingin melihat sosok yang melahirkannya dibungkus kain dan diturunkan ke dalam lubang tanah yang gelap dan dingin.

Kalau ibu masuk ke dalam tanah, lalu siapa yang akan menemaniku? Bisiknya dalam hati.

Pertanyaan itu berputar kacau di kepala Ananda, menabrak dinding ketakutan yang paling dalam. Ia membayangkan tanah menutup wajah ibunya, menutup tangan yang dulu mengusap keningnya saat demam, menutup suara yang dulu berbisik, “Nanda, makanlah, Nak”. Semua itu hilang, lenyap, tertimbun di bawah bumi yang tak peduli siapa yang ia ambil.

Ananda berdiri terpaku, memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, seakan ingin memeluk sisa-sisa kehangatan yang belum hilang sepenuhnya. Pikiran kecilnya gemetar: Apa yang harus kulakukan setelah ini? Siapa yang akan membangunkanku saat pagi tiba? Siapa yang akan menanyakan apa yang kupelajari di sekolah? Siapa yang akan tersenyum saat aku pulang?

Ananda tidak pernah mengenal sosok Ayah. Ibu pernah bilang, Ayah pergi menjadi TKI keluar negeri ketika ia masih berusia delapan bulan dalam kandungan. Namun, hingga Ananda tumbuh besar, sosok ayah itu tidak pernah hadir dalam hidupnya. Bahkan, dalam mimpinya sekalipun.

Ananda tak ingin hidup sendirian. Dunia terasa begitu luas dan asing tanpa satu orang yang paling ia kenal. Ia masih anak-anak. masih butuh tangan yang menuntun, masih butuh bahu tempat bersandar, masih butuh suara yang berkata, “Aku di sini, Nak”. Namun, suara itu kini bungkam selamanya.

Ada tetangga yang menyadari kehadirannya, memanggil pelan, hendak menghampiri. Namun, Ananda menggeleng, mundur perlahan, matanya terpaku pada kerumunan itu dengan tatapan yang bercampur takut dan duka. Ia tak mendekat. Ia tak sanggup. Baginya, mendekat berarti mengakui bahwa perpisahan itu nyata dan ia benar-benar ditinggalkan sendirian.

Ananda berbalik perlahan, menjauh dari rumah yang kini penuh orang tapi terasa kosong. Ia tak tahu ke mana ia harus pergi. Ia hanya tahu satu hal, belum siap melepaskan ibunya ke dalam tanah yang dingin. Ia belum siap menjadi anak seorang diri di dunia yang masih terlalu besar untuk dijalani sendirian.

Dalam keraguan langkah kecilnya terus menjauh. Di punggungnya masih tersimpan sisa-sisa harapan yang mulai rapuh bahwa jika ia tak melihat, mungkin ibunya belum benar-benar pergi. Bahwa jika ia menutup mata, ia masih bisa mendengar panggilan itu, “Nanda,” dengan lembut, hangat, seperti biasa.

Angin sore berhembus pelan, membawa suara doa dari rumahnya, dan di hembusan itulah ia paham dunia tak akan berhenti hanya karena hatinya hancur. Matahari tetap terbenam, langit tetap berganti warna, dan ia harus belajar melangkah tanpa tangan yang dulu menuntunnya.

Ananda berhenti di bawah pohon randu tak jauh dari rumahnya, memeluk lututnya, dan menangis. Bukan tangis yang meledak-ledak, melainkan tangis yang lemah dan panjang, menumpahkan segala kesepian yang tak tahu lagi harus dititipkan kepada siapa. Di sana, di tempat yang tak ada orang melihatnya, ia berbisik pelan pada angin. 

“Ibu,  jangan tinggalkan Nanda. Nanda takut sendirian.”

Angin menjawab dengan desiran daun, seolah mengusap kepalanya yang pilu, meski tak ada tangan yang memeluknya. Tak ada suara yang menjawab. Hanya kesunyian yang luas, dalam, dan tak berujung. (Violet Senja).

***

Judul: Ibu, Aku Tak Mau Sendiri

Pengarang: Neneng Salbiah

Editor: JHK

Sekilas tentang pengarang

Wanita kelahiran Bogor, 02 Juni 1978 bernama lengkapNeneng Salbiah ini aktif menulis artikel dan novel di berbagai platform. Tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika ini juga merupakan seorang ibu rumah tangga,  ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.