Menikmati Kehidupan di Bandung

BERITA JABAR (BJN), Kolom OPINI, Jumat (02/10/2026) – Tulisan berjudul “Menikmati Kehidupan di Bandung” ini merupakan karya Mariska Lubis, seorang penulis berpengalaman yang pernah bekerja di berbagai  majalah nasional, di antaranya Femina Grup.

Sewaktu memutuskan pindah kembali ke Kota Bandung pada 2007, pertanyaan yang paling banyak dilontarkan oleh rekan-rekan di Jakarta adalah: “Ngapain pindah ke Bandung?”. Pada waktu itu saya tidak berpikir jauh, hanya bosan saja dengan hiruk pikuk kehidupan di Jakarta. Menurut saya, sudah tidak sehat, apalagi untuk membesarkan anak.

Di bayangan saya, alangkah kasihannya anak saya bila harus menempuh jarak jauh untuk sekolah, belum lagi ditambah macetnya. Waktu habis di jalan, minimal tiga jam sehari hanya untuk di jalan saja. Ditambah lagi dengan cuaca panas, budaya konsumerisme yang tinggi,  dan segala serba mahal, sungguh membuat tidak nyaman.

Mariska Lubis, Penulis - (Sumber: Instagram)
Mariska Lubis, Penulis – (Sumber: Instagram)

Yang pasti, saya tidak nyaman dengan kehidupan sosial anak-anak muda di Jakarta. Kebebasan berkarya dan berekspresi terlalu mudah dipatahkan oleh “uang”. Kerasnya kehidupan di Jakarta memang sekejam ibu tiri jahat.

Pengalaman saya yang lahir dan tumbuh remaja di Bandung, baru kemudian pindah ke Jakarta untuk sekolah dan kuliah, serta kerja, Bandung tetap membuat saya merasa lebih nyaman. Udara sejuk, banyak makanan enak, tempat-tempat wisata yang menarik, dan teman-teman yang lebih “membumi serta ramah”. Pokoknya, segalanya enaklah!

Yang tidak pernah terpikirkan oleh saya adalah soal bagaimana mendapatkan penghasilan di Bandung. Di Jakarta, bisa dibilang karier saya lumayan dan penghasilan juga cukup, malah sering berlebih. Baik usaha sendiri maupun kerja di perusahaan orang lain, sama-sama bisa memberikan penghasilan.

Jujur saja, saya sempat bingung sendiri, karena setelah beberapa lama tinggal di Bandung, saya tidak bisa mendapatkan penghasilan, padahal segala ketrampilan dan ilmu yang saya miliki, semestinya dibutuhkan di manapun. Saya jadi masih harus bolak balik Jakarta untuk mendapatkan uang. Bahkan sampai sekarang, saya masih tidak tahu harus bagaimana di Bandung.

Setelah terlibat di dalam pembuatan Buku Serial Apa Kata Rakyat yang berjudul “Bagaimana Mencari Uang di Bandung” karya  Ariyo Bimmo  dan akan diluncurkan tanggal 16 Oktober 2026, saya baru paham bahwa memang banyak juga yang seperti saya. Sebagai editor dan penulis yang membantu wawancara banyak orang dari berbagai kalangan dan usia,  saya mendapat banyak sekali masukan. Sungguh tidak mudah, tetapi juga mudah mencari uang di Bandung, asal tahu “slag-nya”.

Saya jadi kembali lagi berpikir soal untuk apa pindah ke Bandung. Apakah tujuan awal pindah sudah tercapai?  Kehidupan selama di Bandung harus diakui lebih santai, tidak banyak stress. Mau ke mana-mana dekat, meski sekarang sudah sering macet, tetapi masih jauh lebih baik daripada Jakarta.

Anak-anak juga bisa memiliki kehidupan sosial yang lebih “manusiawi”, berteman dengan banyak teman dari berbagai kalangan dan bukan hanya dari satu sekolah. Kesempatan untuk bereskpresi lewat karya juga besar, Bandung masih menjadi kota yang memberikan tempat bagi aktivitas seni. Pengeluaran juga lebih kecil, tidak perlu bayar bensin, tol, dan parkir yang mahal seperti di Jakarta.

Menikmati senja di Kota Bandung, cukup dari balik jendela rumah – (Sumber: Mariska Lubis)

Saya memiliki banyak waktu untuk menulis, menggambar, melukis, mengurus tanaman, dan melakukan banyak aktivitas di rumah bersama anak-anak. Kualitas kehidupan terasa menjadi lebih baik. Sementara soal penghasilan, sekarang ini sudah zaman serba online.

Meski masih lebih banyak mendapatkan penghasilan dari Jakarta dan tempat-tempat lain, tetapi saya sudah tidak perlu lagi mondar-mandir dan wara-wiri. Semua bisa dikerjakan dari rumah yang tetap sejuk biarpun tidak ada AC.

Slow living? Tidak juga, tetapi saya menikmati kehidupan santai di Bandung. Saya tidak menjadi robot yang setiap hari dikuasai kehidupan, tetapi bisa menjadi manusia yang menikmati kehidupan. Bagaimana dengan yang lain? (Mariska Lubis).

***

Judul: Menikmati Kehidupan di Bandung

Kontributor: Mariska Lubis

Editor: JHK

Sekilas tentang penulis

Mariska Lubis adalah salah seorang tokoh literasi nasional yang sangat berpengalaman. Wanita kelahiran Bandung, 6 Agustus 1974 ini pernah bersekolah di TK-SDK Yahya, lalu meneruskan di SMPN 5 Bandung. Ketika kelas 3 SMP, ia pindah sekolah di SMPN 3 Manggarai, Jakarta dan lanjut ke SMAN 8 Jakarta.

Wanita yang pernah dijuluki blogger seks terpopuler oleh Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia) ini melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Trisakti pada 1992 dengan mengambil Jurusan Ekonomi dan lulus pada 1996. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Sydney, Australia dengan mengambil Jurusan International Studies dengan topik utamanya Politik Asia Tenggara.

Selain menulis dan membaca, Mariska memiliki  hobi melukis, travel, dan fotografi. Ia pernah menerbitkan lima buah buku yaitu buku berjudul “Wahai Pemimpin Bangsa! Belajar Dari Seks, Dong!”, “Ayahku Inspirasiku”, “Seni, Politik, & Perjuangan”, “Gelegar Suara Kalbu”, dan “Mewarnai Gambar Puisi Mariska”.

***