Bah Sipit: Secangkir Kopi, Seratus Tahun Kesetiaan pada Rasa

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Kamis (24/09/2026) – Artikel berjudul “Bah Sipit: Secangkir Kopi, Seratus Tahun Kesetiaan pada Rasa” merupakan karya Neneng Salbiah, seorang tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika yang juga merupakan seorang ibu rumah tangga –  ibu dari satu orang putri dan satu orang putra. 

Siang itu, matahari seakan tak mau berbagi tempat. Ia berdiri tegak tepat di atas kepala, memancarkan cahaya yang begitu tegas, seolah hendak menyapa setiap inci bumi dengan kehangatan yang sedikit berlebihan. Aku tertawa kecil sendiri, menyapa bola api itu yang tampak mungil namun menyengat dari balik kaca helm. Jam menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit, dan perjalanan baru saja benar-benar dimulai.

Di bawahku, motor metic yang setia. Namun, mulai menua bergetar pelan, seolah mengeluh halus. Suaranya tak lagi segar, tenaganya tak lagi sekuat dulu — ia kini bergerak dengan irama yang lambat, seolah ikut merasakan beratnya terik yang menyelimuti jalanan. Namun, aku tak mengeluh. Justru sebaliknya, getaran itu terasa seperti teman yang setia menemani langkah, meski tak lagi muda dan bertenaga.

Ilustrasi: Aku mengendarai motor metic menuju Kedai Kopi Bah Sipit – (Sumber: BJN)

Dengan berbekal sedikit informasi — entah apa sebutan yang paling tepat untuknya. Apakah seorang kawan? Mungkin belum sedekat itu. Sekadar kenalan? Rasanya sungkan sekali menyebutnya begitu. Ada jarak yang halus. Namun, ada juga keakraban di antara kami, yang pasti rekomendasinya membawaku ke arah tempat yang selama ini hanya menjadi bisikan di telinga — sebuah tempat yang dikatakan legendaris, tersembunyi dan tak pernah benar-benar terlupakan.

Rekomendasi itu datang dari seseorang yang cukup terpandang, orang nomor satu di jajaran Kepolisian Kecamatan Parung. Tentu saja, itulah sebabnya aku merasa sungkan. Sebuah kepercayaan yang berat, memang.

Jalan berkelok pelan, menembus deretan rumah dan pepohonan yang daunnya bergoyang tertiup angin panas. Semakin jauh melangkah, semakin aku tak peduli pada keringat yang mulai menetes pelan di pelipis atau sinar matahari yang seolah ingin mencium hingga ke dalam pori-pori kulit.

Ada rasa penasaran yang tumbuh makin besar, seperti tunas yang tak sabar mekar: tempat seperti apa yang mampu bertahan di ingatan orang-orang selama puluhan. Bahkan, hampir seratus tahun? Apa rahasia yang tersimpan di balik dindingnya? Apa rasa yang mampu mengikat hati generasi demi generasi?

Hingga akhirnya, di sudut jalan yang tenang di daerah Empang, Bogor — di mana hiruk-pikuk kota perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian yang ramah — sesuatu menyapa lebih dulu sebelum mataku melihatnya.

Aroma Toleransi yang Menyapa

Harum yang dalam, hangat, dan begitu memikat. Ia berhembus pelan, menembus udara, seolah memanggil namaku dari kejauhan. Itu bukan sekadar bau kopi biasa. Itu adalah wangi kopi matang yang sudah teruji waktu — perpaduan antara tanah kering, kacang yang baru dipanggang, dan kehangatan yang menenangkan jiwa. Aroma toleransi dari kaum minoritas.

Di sana, tepat di hadapanku, terbuka pintu bercat biru yang terbuka lebar, menyambut siapa saja yang datang dengan hati yang tenang. Kedai kopi Bah Sipit — Cap Kaca Mata.

Kopi bubuk Bah Sipit Cap Kaca Mata – (Sumber: Neneng/BJN)

Aku melangkah masuk, dan seketika itu pula, waktu seakan melambat. Udara di dalamnya terasa sejuk, bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena ketenangan yang menyelimuti setiap sudutnya.

Di hadapanku, etalase kayu cokelat tua berdiri gagah, kacanya jernih memantulkan cahaya lembut, menampakkan deretan bungkus kopi yang tersusun rapi seperti barisan prajurit yang setia.

Di sudut lain, lemari-lemari kayu jati yang usia puluhan tahun berdiri tegak, memeluk cangkir-cangkir porselen bermotif bunga. Vintage. Lantai berwarna abu-abu pudar, dihiasi bayangan lembut cahaya yang masuk lewat jendela, seolah-olah lantai itu sendiri menyimpan jejak sejarah langkah orang-orang yang mencintainya.

Di dinding, terpasang sebuah papan kecil yang tulisannya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam: Kopi Legendaris Sejak 1925. Seratus tahun.

Suasana di Kedai Kopi Bah Sipit yang terkesan “tempo doeloe” banget – (Sumber: Neneng/BJN)

Hatiku berdesir pelan. Seratus musim hujan dan kemarau telah berlalu sejak tempat ini berdiri. Seratus tahun orang-orang datang dan pergi — berbagi cerita, tawa, rindu, harapan, dan kesedihan — semuanya terbungkus dalam aroma yang tak pernah berubah.

Aku duduk di sebuah kursi kayu yang kokoh, menyentuh permukaan mejanya yang halus karena sering diusap tangan-tangan yang penuh kasih sayang. Menelusuri daftar menu, mataku tak hanya menemukan nama-nama jenis kopi, tetapi juga camilan-camilan yang nyaris punah dari ingatan — hidangan yang dulu menjadi sahabat sore hari dan kini sulit dicari di pasar modern maupun warung pinggir jalan. Bagiku, tempat ini bukan sekadar kedai, melainkan jendela yang membuka ke masa lalu, membiarkan kita melihat betapa indahnya kesederhanaan yang dihargai.

Tak lama, secangkir kopi datang. Warnanya pekat, hitam sempurna — seperti malam tanpa bulan, namun memancarkan kehangatan yang tak bisa dijelaskan kata-kata. Aromanya menyergap lembut, kuat. Namun, kasar, murni dan jantan.

Bersama kopi itu juga terhidang sepiring roti gambang — berwarna cokelat keemasan, beraroma rempah yang lembut, empuk di dalam, sedikit renyah di luar. Begitu suapan pertama menyentuh lidah, manisnya gula merah dan hangatnya rempah perlahan menyatu, menyeimbangkan rasa pahit yang tegas dari kopi robusta yang kuminum. Dua rasa yang saling melengkapi — satu tak akan sempurna tanpa yang lain. Seperti kehidupan, pikirku.

Saat itu, sebuah kehadiran menyapa dari samping. Seorang wanita berdiri di dekat meja, menatapku dengan senyum yang begitu tulus — senyum yang tak dipaksakan, yang lahir dari kedamaian di dalam hati. Wajahnya teduh, matanya lembut, usianya kira-kira empat puluh lima tahun. Namun, di sorot matanya terlihat kebijaksanaan yang melebihi usianya. Aku segera berdiri, merasa malu sekaligus terhormat, menyambut uluran tangannya.

“Selamat datang di Bah Sipit,” ucap wanita itu pelan, suaranya merdu dan menenangkan, “Saya Nency.

Ibu Nency — pemilik keturunan ketiga kedai ini.”

Sebelum obrolan kami berlanjut, ia menawarkan secangkir lain — kopi arabika, andalan kedai itu, yang menjadi kesayangan banyak pengunjung hingga kini.

“Cobalah,” kata wanita itu lembut, “Rasanya berbeda. Namun, tetap setia pada prinsip kami.”

Ketika kopi itu datang, tampilannya sungguh berbeda. Cairannya lebih terang, keemasannya memancar lembut di bawah cahaya ruangan. Tak sepekat robusta, tapi menyimpan kedalaman yang tak kalah menarik. Aku menyesapnya perlahan.

Di awal, ada kelembutan asam yang menyegarkan — seperti sentuhan angin pagi di kebun teh. Lalu perlahan, rasa itu berubah, berganti menjadi manis yang halus, diikuti aroma kacang panggang yang gurih dan hangat. Tak ada rasa yang mendominasi berlebihan; semuanya berjalan beriringan, berirama, menari di lidah dengan harmoni yang indah.

“Kami menyeduhnya dengan metode V60,” jelas Ibu Nency, sembari matanya berbinar saat berbicara tentang kopi — seolah ia sedang bercerita tentang orang-orang yang dicintainya.

“Setiap cangkir dibuat dengan lima belas gram biji pilihan, dituang bertahap dalam tiga kali tuangan. Pertama untuk membangkitkan rasa kopi, kedua dan ketiga untuk menarik setiap lapis rasa yang tersimpan di dalamnya. Tak ada yang terburu-buru. Seperti hal-hal berharga lainnya, kopi butuh waktu untuk menampakkan wajah sejatinya.” Kata-kata Ibu Nency begitu sederhana, tetapi mengandung kebenaran yang dalam.

Aku pun bertanya dengan rasa hormat tentang asal mula tempat yang begitu istimewa ini. Ibu Nency menatap pintu yang terbuka pelan, seolah melihat ke masa lalu yang jauh.

“Pendiri kami adalah Kakekku, Yoe Hong Keng,” kata wanita itu lembut, “Seorang keturunan Tionghoa yang hidup di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam dan berketurunan Arab, di sini, di Empang, Bogor. Tahun 1925, ia membuka kedai kecil ini. Orang-orang memanggilnya Bah Sipit — karena matanya yang sipit. Nama itu tak sekadar nama. Ia menjadi tanda pengenal, menjadi milik bersama, melekat pada kedai ini hingga kini.”

Ibu Nency berhenti sejenak, tersenyum mengenang, “Kala itu, perbedaan bukanlah dinding pemisah. Penduduk Bogor datang — siapa saja, dari mana saja — duduk berdampingan, menyeruput kopi buatan Kakek, berbagi cerita tanpa memandang asal usul. Perbedaan etnis, agama, dan latar belakang. Semuanya luruh bersama uap panas yang mengepul dari cangkir. Kekeluargaan itu yang membuat Bah Sipit bertahan.”

“Dan rahasia bertahannya hingga kini?” tanyaku tak sabar.

Ibu Nency menatap lurus ke mataku, jujur dan tulus, “Kesetiaan pada keaslian. Kopi kami murni, diambil langsung dari petani-petani lokal yang kami kenal baik. Tak ada campuran tepung jagung, tak ada pengisi, tak ada yang disembunyikan. Murni biji kopi, dipanggang dengan hati, diseduh dengan sabar. Resep Kakek tetap kami jaga, meski kini kami menambah ragam baru. Kami tak mengubah jati diri Bah Sipit hanya karena zaman berubah. Kami tetap Bah Sipit — tempat yang menyajikan rasa sejati, bukan sekadar tren yang berlalu.”

Matahari mulai condong ke barat saat kami mengakhiri percakapan. Cahayanya yang tadi menyengat kini berubah menjadi keemasan lembut, menyelimuti jalanan dengan kehangatan yang menenangkan.

Neneng Salbiah
Neneng Salbiah, penulis – (Sumber: Kompasiana)

Aku berpamitan, mengucapkan terima kasih yang tak cukup hanya dengan kata-kata. Sebelum melangkah pergi, aku membeli satu bungkus kopi — murni, tanpa campuran — untuk dibawa pulang. Bukan sekadar oleh-oleh, melainkan tanda terima kasih yang tulus, penghormatan kecil pada seratus tahun kesetiaan, kesederhanaan, dan kebaikan yang tak pernah pudar.

Saat melaju pulang, angin sore menyapa wajah dengan lembut. Hatiku terasa begitu ringan, tenang, dan penuh. Rasa penasaran yang membawaku ke sini telah terjawab — bahkan jauh lebih indah dari yang kubayangkan.

Di tengah gempuran kafe-kafe modern yang datang dan pergi dengan cepat, Bah Sipit berdiri tegak, tak berteriak, tak memamerkan kemewahan — ia hanya menjadi dirinya sendiri, setia pada rasa, setia pada orang-orang yang mencintainya. Ia bukan sekadar kedai kopi. Ia adalah bukti bahwa hal-hal yang tulus, yang dijaga dengan sepenuh hati, akan selalu menemukan jalan untuk tetap hidup.

Sore itu, aku pulang bukan hanya membawa bungkus kopi di tangan, melainkan juga ketenangan di dada — sebuah keyakinan bahwa di dunia yang terus berubah terlalu cepat, masih ada tempat yang berhenti sejenak, menatap kita dengan senyum lama, dan berkata: Aku di sini. Aku tetap sama dan aku akan tetap ada, selama ada yang menghargai.

Bah Sipit — warisan yang tak ternilai, rasa yang patut dicintai, dan tentu saja, sangat layak untuk direkomendasikan kepada siapa saja yang masih percaya pada keindahan kesederhanaan. Aroma yang menyatukan berbagai etnis. Bukan sekedar aroma kopi, tetapi  aroma toleransi yang patut mendapatkan apresiasi. (Neneng Salbiah)

***

Judul: Bah Sipit: Secangkir Kopi, Seratus Tahun Kesetiaan pada Rasa

Penulis: Neneng Salbiah

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang Penulis

Wanita kelahiran Bogor, 02 Juni 1978 bernama lengkap Neneng Salbiah ini aktif menulis artikel dan novel di berbagai platform. Tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika ini juga merupakan seorang ibu rumah tangga,  ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.