Prof. Indira Santi Kertabudi Hadiri Art Fair Cima’Art, Bahas Seni dan Wawasan Kebangsaan

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kota Cimahi, Minggu (20/09/2026) – Suasana  di Cima’Art Edupreneur, Kota Cimahi, terasa semakin hangat ketika Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi hadir memberikan dukungan kepada para seniman sekaligus berdiskusi tentang kebudayaan dan wawasan kebangsaan, Sabtu (19/09/2026).

Kehadiran Guru Besar Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) tersebut dalam acara Art Fair yang diselenggarakan oleh Cima’Art Edupreneur bisa menjadi momentum untuk mempertemukan dunia seni, kebudayaan, dan pemikiran kebangsaan dalam suasana yang santai dan penuh keakraban.

Prof. Indira tiba di Cima’Art sekitar pukul 16.00 WIB. Ia disambut Pengelola Cima’Art Edupreneur, Jumari Haryadi yang didampingi oleh Ketua Panitia Art Fair, Drs. Moh. Sobirin yang merupakan alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Guru Besar Lemhannas RI, Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi (kanan) di dampingi Ketua Art Fair Cima’Art Edupreneur, Drs. Moh. Sobirin saat menyaksikan karya para pelukis Jawa Barat yang dipamerkan di Cima’Art Room – (Sumber: BJN)

Kedatangan Prof. Indira juga didampingi dua orang rekannya, yaitu Dr. Ir. Rosad MEH., M.Pd., IPU, Asean Eng., seorang Dosen dari Industrial Engineering Telkom University dan Ir. H. Rudy Subagyo M.Si., Direktur PT. Tiga Talenta Resa Utama.

Setibanya di lokasi, Prof. Indira diajak berkeliling Cima’Art Room untuk melihat langsung karya-karya yang dipamerkan dalam Art Fair selama dua bulan (1 Agustus – 30 September 2026). Pameran “Episentrum Seni Rupa Cimahi: Merdeka Berkarya“ tersebut menghadirkan karya 30 perupa Jawa Barat, 18 perupa berasal dari Kota Cimahi,  Indramayu satu orang, Cirebon dua orang, Garut dua orang, Bekasi satu orang, Depok dua orang, Kota Bandung tiga orang, dan Kabupaten Bandung Barat satu orang.

Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi (kiri) dan pelukis wanita Kota Cimahi, Diah Rachmawati (kanan) saat mampir di Art Shop “Griya Rahma” – (Sumber: BJN)

Di hadapan berbagai karya lukisan tersebut, Prof. Indira menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas para perupa. Baginya, ruang seni tidak hanya menjadi tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, pengalaman dan nilai-nilai yang tumbuh di tengah masyarakat.

Setelah berkeliling melihat karya seni, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan diskusi budaya serta kebangsaan. Diskusi berlangsung di tengah area Cima’Art Room, dikelilingi karya-karya para perupa.

Suasana diskusi berlangsung informal. Seni dan kebudayaan menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas mengenai kehidupan kebangsaan, terutama bagaimana masyarakat tetap memiliki identitas dan rasa kebersamaan di tengah perubahan zaman.

Suasana diskusi yang berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan di Cima’Art Room antara Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi dan para seniman pada Sabtu (19/09/2026) – (Sumber: BJN)
Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi (paling kanan) saat berdiskusi dengan para seniman pada Sabtu (19/09/2026) – (Sumber: BJN)

Keterkaitan antara kebudayaan dan wawasan kebangsaan memiliki landasan yang kuat. Kementerian Kebudayaan menyebut kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan bagian dari identitas dan jati diri bangsa. Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 juga menegaskan peran negara dalam memajukan kebudayaan nasional dengan menjamin masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Dalam konteks tersebut, keberadaan ruang seni seperti Cima’Art dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kebersamaan melalui ekspresi budaya. Perbedaan latar belakang seniman dan daerah asal karya justru memperlihatkan wajah Indonesia yang beragam. Pameran ini menjadi salah satu ruang yang mempertemukan seniman dari berbagai daerah sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan dunia seni rupa. 

Suasana diskusi yang berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan di Cima’Art Room antara Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi dan para seniman pada Sabtu (19/09/2026) – (Sumber: BJN)

Kajian mengenai wawasan kebangsaan dari perspektif budaya juga menempatkan keragaman tradisi dan ekspresi budaya sebagai potensi untuk memperkuat kesadaran hidup dalam pluralitas. Karena itu, dialog kebudayaan dapat menjadi salah satu ruang untuk merawat persatuan sekaligus menghargai perbedaan.

Hal tersebut sejalan dengan peran Lemhannas RI yang antara lain menyelenggarakan pemantapan nilai-nilai kebangsaan guna meningkatkan wawasan kebangsaan dalam rangka membangun karakter bangsa. Lemhannas juga mengkaji berbagai persoalan strategis, termasuk aspek sosial budaya, dalam upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Diskusi di Cima’Art pun diikuti sejumlah seniman dan budayawan, di antaranya Yudi Samudra, Abdussalam, Diah Rachmawati, Drs. Moh. Sobirin, Heri Heriana, Yoyo C. Durachman, Endang, Lin Karliana dari Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC), Gerah Sontani dan Elin dari KORMI Kota Cimahi, serta Jumari Haryadi selaku pengelola Cima’Art Edupreneur.

Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi (kelima dari kiri) berfoto bersama para seniman usai acara diskusi yang berlangsung pada Sabtu (20/09/2026) – (Sumber: BJN)

Pertemuan ini menunjukkan bahwa seni rupa dapat menjadi lebih dari sekadar aktivitas estetis. Di dalamnya terdapat ruang dialog tentang identitas, keberagaman, nilai-nilai sosial dan masa depan kebudayaan Indonesia. 

Menjelang pukul 17.00 WIB, kegiatan ditutup dengan pemberian cendera mata berupa lukisan dari Cima’Art yang diserahkan Drs. Moh. Sobirin kepada Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi, dilanjutkan foto bersama.

Dari ruang pamer yang dipenuhi warna dan goresan para seniman itu, satu pesan terasa kuat: kebudayaan bukan sekadar catatan masa lalu. Ia hidup dalam karya, dialog dan kreativitas masyarakat—menjadi salah satu cara untuk mengenali siapa diri kita sebagai bangsa sekaligus merawat persatuan di tengah keberagaman.

***

Judul: Prof. Indira Santi Kertabudi Hadiri Art Fair Cima’Art, Bahas Seni dan Wawasan Kebangsaan

Jurnalis: Jumari Haryadi

Editor: JHK