Dari Depan Kelas SMPIT Adzkia 2: Jundi Amir Syuhada Menuju 180 Kilometer Perjuangan

BERITA JABAR NEWS (BJN)  – Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (03/09/2026)  Setiap hari, Jundi Amir Syuhada berdiri di depan kelas. Di SMPIT Adzkia 2 Kota Sukabumi, ia menjalani peran yang akrab bagi seorang guru: mengajar, mendampingi siswa, memberi arahan, dan menjadi bagian dari perjalanan anak-anak yang sedang tumbuh mengejar masa depan mereka.

Namun, ada satu pelajaran yang tidak selalu bisa disampaikan melalui papan tulis yaitu tentang bagaimana memperjuangkan sesuatu yang diyakini penting, juga tentang bagaimana bertahan ketika tubuh dan pikiran mulai meminta berhenti, dan  tentang bagaimana apa yang kita lakukan hari ini bisa membuka jalan bagi masa depan orang lain.

Jundi memilih menyampaikan pelajaran itu dengan cara yang tidak biasa. Ia berlari. Bukan sekadar berlari untuk menjaga kebugaran. Bukan pula semata-mata mengejar catatan waktu. Bersama komunitas Ikatan Alumni Informatika ITB (IAIF ITB), Jundi menjadikan lari jarak jauh sebagai bagian dari perjuangan untuk pendidikan.

Pada ITB Ultra Marathon 2025, ia mengambil bagian dalam perjalanan Jakarta–Bandung sejauh 180 kilometer melalui format relay 16. Tahun ini, ia kembali turun dalam ajang yang sama, kali ini melalui relay 8, dengan sebuah target yang jauh lebih besar: ikut menggerakkan penggalangan dana Beasiswa ALIF hingga mencapai Rp1 miliar.

Jundi Amir Syuhada (kiri) bersama temannya dalam sebuah event lomba lari – (Sumber: Koleksi Pribadi)

Bagi Jundi, garis finis hanyalah salah satu tujuan. Ada tujuan lain yang ingin dicapai jauh setelah perlombaan berakhir: memastikan semakin banyak anak muda memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

Ketika Guru Turun ke Jalan. Menjadi guru membuat Jundi melihat pendidikan dari jarak yang dekat. Setiap hari ia berhadapan dengan siswa SMP yang sedang membangun mimpi dan mencari arah.

Di ruang kelas SMPIT Adzkia 2, Jundi menyaksikan bagaimana pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang membentuk keberanian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki masa depan yang layak diperjuangkan. Pandangan itulah yang kemudian ia bawa ke dunia lari.

“Bagi saya, pendidikan itu bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan di kelas. Pendidikan adalah tentang membuka kesempatan agar seseorang bisa punya masa depan yang lebih baik,” ujar Jundi.

Ketika kesempatan untuk berlari sekaligus menggalang dana pendidikan hadir melalui ITB Ultra Marathon, Jundi melihatnya bukan sebagai dua aktivitas yang terpisah. Berlari dan pendidikan bertemu pada satu kata: perjuangan.

Di kelas, perjuangan itu dilakukan dengan mendampingi siswa. Di jalan raya, perjuangan itu dilakukan dengan setiap langkah kaki.

180 Kilometer yang Memiliki Arti

ITB Ultra Marathon merupakan ajang lari dengan jarak Jakarta–Bandung sejauh 180 kilometer. Jarak tersebut dapat ditempuh secara personal maupun dalam format relay 2, relay 4, relay 8, dan relay 16.

Pada 2025, Jundi bersama rekan-rekannya memilih format relay 16. Artinya, jarak 180 kilometer tersebut dibagi bersama anggota tim. Namun, meski terbagi, perjuangannya tetap sama: setiap pelari harus menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada pelari berikutnya.

Ada sesuatu yang kemudian terasa sangat dekat dengan dunia pendidikan. Tidak ada seorang pun yang berjalan sendirian. Seperti pendidikan yang membutuhkan guru, orang tua, sekolah, masyarakat, dan berbagai pihak yang saling menyambung perjuangan, relay juga mengajarkan bahwa perjalanan panjang dapat diselesaikan ketika banyak orang bersedia mengambil bagian.

Jundi Amir Syuhada bersama pelari Ikatan Alumni Informatika ITB merayakan keberhasilan berlari 180 KM – (Sumber: Koleksi Pribadi)

“Relay mengajarkan bahwa kita tidak harus melakukan semuanya sendiri. Yang penting adalah setiap orang menyelesaikan bagiannya dengan sebaik-baiknya, lalu meneruskan perjuangan itu kepada orang berikutnya,” kata Jundi.

Tahun 2026, tantangan itu kembali ia ambil. Kali ini Jundi akan bergabung dalam relay 8, yang berarti porsi perjalanan setiap anggota tim akan lebih besar dibandingkan relay 16 yang diikutinya tahun sebelumnya. Namun, tantangan fisik tersebut bukan satu-satunya target yang ingin dicapai. Ada target yang lebih besar di baliknya. Berlari untuk Beasiswa.

Jundi dan komunitas IAIF ITB tidak ingin menjadikan ITB Ultra Marathon sekadar ajang olahraga. Di balik perjalanan Jakarta–Bandung tersebut terdapat misi sosial untuk menghimpun dukungan bagi Beasiswa ALIF, sebuah gerakan yang ditujukan untuk membantu mahasiswa mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan.

Tahun ini, misi tersebut ingin dibawa lebih jauh. Jundi bersama kawan-kawannya menargetkan penggalangan dana Beasiswa ALIF hingga Rp1 miliar.  Angka itu tentu bukan angka kecil.

Jika 180 kilometer adalah jarak yang harus ditempuh kaki, maka Rp1 miliar adalah “jarak” lain yang harus ditempuh melalui kolaborasi, kepercayaan, dan kepedulian banyak orang.

Jundi memahami bahwa dirinya tidak mungkin mencapai target tersebut sendirian. Oleh karena itu, setiap langkah dalam ITB Ultra Marathon 2026 diharapkan dapat menjadi pintu untuk mengajak lebih banyak orang ikut mengambil bagian.

“Target Rp1 miliar ini bukan tentang saya. Justru saya ingin semakin banyak orang merasa bahwa mereka bisa ikut memperjuangkan pendidikan, meskipun kontribusinya berbeda-beda. Ada yang berlari, ada yang berdonasi, ada yang membantu menyebarkan informasi. Semuanya punya arti,” tutur Jundi.

Dari Sukabumi untuk Pendidikan

Ada ironi kecil sekaligus pesan besar dalam perjalanan Jundi. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya mendampingi anak-anak SMP di Sukabumi, tetapi untuk memperjuangkan pendidikan, ia justru harus keluar dari ruang kelas dan menempuh jalan panjang menuju Bandung. Namun, bagi Jundi, keduanya tidak pernah benar-benar terpisah.

Siswa-siswa yang ia temui setiap hari di SMPIT Adzkia 2 adalah bagian dari alasan mengapa pendidikan begitu penting baginya. Ia ingin anak-anak yang sedang belajar hari ini tumbuh menjadi generasi yang percaya bahwa pendidikan dapat mengubah hidup dan ketika ada mahasiswa yang membutuhkan dukungan agar tetap bisa melanjutkan pendidikan, ia merasa perjuangan tersebut juga layak mendapatkan perhatian.

“Sebagai guru, saya setiap hari melihat bagaimana pendidikan membentuk masa depan anak. Karena itu, ketika ada kesempatan untuk berkontribusi pada pendidikan dengan cara yang saya bisa, saya merasa harus mengambil bagian,” ujar Jundi.

Bagi SMPIT Adzkia 2, kisah Jundi juga menghadirkan bentuk pembelajaran yang lain. Seorang guru tidak hanya mengajarkan nilai melalui materi pelajaran. Ia juga dapat mengajarkan nilai melalui pilihan hidupnya. Tentang disiplin, ketika ia terus berlatih. Tentang ketangguhan, ketika ia tetap melangkah meski lelah. Tentang kepedulian, ketika ia menggunakan sesuatu yang ia sukai untuk membantu orang lain, dan  tentang perjuangan ketika ia memilih berlari bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Tahun Kedua, Perjuangan yang Lebih Panjang

ITB Ultra Marathon 2025 menjadi pengalaman pertama Jundi membawa misi pendidikan melalui ajang tersebut. Tahun ini, ia kembali. Format relay berubah dari 16 menjadi 8. Porsi perjuangan setiap pelari bertambah. Namun, begitu pula dengan harapan yang dibawanya.

Jika tahun lalu Jundi dan kawan-kawan membuktikan bahwa olahraga dapat menjadi medium untuk berbuat baik, tahun ini mereka ingin memperbesar dampaknya. Targetnya jelas: Rp1 miliar untuk Beasiswa ALIF.

Bagi seorang pelari, 180 kilometer mungkin dapat dihitung dengan jarak. Namun bagi seorang guru, perjalanan itu memiliki ukuran yang berbeda. Berapa banyak mahasiswa yang bisa terus kuliah? Berapa banyak mimpi yang bisa diselamatkan? Berapa banyak keluarga yang terbantu? Berapa banyak masa depan yang tetap terbuka?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat perjalanan Jakarta–Bandung menjadi lebih dari sekadar perlombaan karena pada akhirnya, Jundi tidak hanya membawa dirinya sendiri ketika berlari. Ia membawa pesan dari ruang kelas SMPIT Adzkia 2 Kota Sukabumi: bahwa pendidikan adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.

Dari depan kelas, Jundi mengajarkan kepada siswa tentang pentingnya berusaha. Di jalan sepanjang 180 kilometer, ia berusaha menjalankan pelajaran itu, dan tahun ini, ketika kembali melangkah dalam ITB Ultra Marathon 2026, ia berharap semakin banyak orang bersedia berjalan bersamanya. Bukan untuk sekadar mencapai garis finis, tetapi untuk membantu lebih banyak anak muda sampai pada garis awal masa depan mereka.

***

Judul: Dari Depan Kelas SMPIT Adzkia 2: Jundi Amir Syuhada Menuju 180 Kilometer Perjuangan

Kontributor: Muchlis

Editor: JHK