Dari Pameran Menuju Episentrum Seni Rupa Cimahi, Kreativitas Jadi Jawaban Perlambatan Ekonomi

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kota Cimahi, Jawa Barat, Minggu (09/08/2026) – Di tengah tantangan perlambatan ekonomi atau slow economy, kreativitas dinilai dapat menjadi salah satu kekuatan untuk menciptakan peluang, menggerakkan aktivitas masyarakat, serta membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru. Berangkat dari semangat tersebut, Episentrum Seni Rupa Cimahi resmi dihadirkan sebagai ruang kolaborasi antara seni, pendidikan, komunitas, dan ekonomi kreatif.

Kegiatan bertajuk “Episentrum Seni Rupa Cimahi: Merdeka Berkarya“ yang digelar Cima’Art Eduprenuer ini berlangsung di Lantai 1, Cimahi Mall, Jalan Gandawijaya Nomor 1, Kota Cimahi. Kegiatan art fair ini dilaksanakan secara berkelanjutan sejak 1 Agustus 2026 hingga 30 September 2026. Masyarakat dapat mengunjungi berbagai kegiatan seni yang diselenggarakan secara gratis dan terbuka.

Pengelola Cima’Art Edupreneur, Drs. Deden Mulyana A., M.Ds., mengatakan bahwa kehadiran Episentrum Seni Rupa Cimahi merupakan pengembangan dari pameran kolektif yang telah digelar tahun lalu, tepatnya pada 25 Oktober 2025. Setelah mendapatkan respons positif, kegiatan tersebut kini diperluas menjadi sebuah ekosistem kreatif yang tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga mendorong interaksi, pembelajaran, serta aktivitas ekonomi.

Drs. Deden Maulana A., M.Ds., Pengelola Cima’Art Edupreneur – (Sumber: BJN)

“Berawal dari pameran kolektif pada 25 Oktober 2025, kini kami ingin melangkah ke tahap yang lebih besar. Pada 2026, Episentrum Seni Rupa Cimahi hadir sebagai ruang bersama untuk membangun ekosistem seni dan ekonomi kreatif yang lebih kuat,” ujar Deden Mulyana.

Menurut Deden, perlambatan ekonomi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai hambatan. Kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum untuk melahirkan gagasan baru dan menciptakan nilai tambah melalui kreativitas.

“Di tengah ekonomi yang melambat, kami tidak ingin hanya diam. Kami berupaya membangun poros baru melalui ekonomi kreatif. Krisis harus dijawab dengan kemampuan menciptakan nilai baru, salah satunya melalui seni, inovasi, dan kolaborasi,” kata Deden.

Dalam pelaksanaannya, Cimahi Mall akan difungsikan sebagai laboratorium kota, yakni ruang terbuka yang mempertemukan seniman, pelajar, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat. Pusat perbelanjaan tidak hanya menjadi tempat melakukan transaksi atau berbelanja, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang belajar, berkarya, berdialog, dan membangun jejaring kreatif.

“Program Episentrum Seni Rupa Cimahi mencakup tiga kegiatan utama, yaitu pameran berkelanjutan, art fair, dan edukasi vokasi,” tambah Deden dengan semangat.

Melalui pameran berkelanjutan, para seniman memperoleh ruang untuk menguji gagasan, menampilkan karya, serta membangun dialog dengan masyarakat. Karya seni tidak hanya diposisikan sebagai objek pajangan, melainkan menjadi bagian dari proses pertukaran ide dan pengalaman.

Sementara itu, program art fair akan membuka kesempatan bagi seniman untuk menjual karya secara langsung kepada pembeli. Pola tersebut diharapkan dapat memperpendek rantai transaksi dan mempercepat perputaran ekonomi di tingkat akar rumput.

Jumari Haryadi
Jumari Haryadi mewakili Pengelola Cima’Art saat acara pembukaan Pameran Seni Rupa bertajuk “Episentrum Seni Rupa Cimahi: Merdeka Berkarya“ yang digelar Cima’Art Eduprenuer sejak 1 Agustus – 30 September 2026 – (Sumber: BJN)
Drs. Moh. Sobirin
Drs. Moh. Sobirin sebagai Ketua Panitia saat membuka acara Pameran Seni Rupa bertajuk “Episentrum Seni Rupa Cimahi: Merdeka Berkarya“ yang digelar Cima’Art Eduprenuer sejak 1 Agustus – 30 September 2026 – (Sumber: BJN)
Suasana di Cima’Art Room yang menjadi tempat ajang Pameran Seni Rupa bertajuk “Episentrum Seni Rupa Cimahi: Merdeka Berkarya“ yang digelar Cima’Art Eduprenuer – (Sumber: BJN)

“Seniman tidak hanya membutuhkan ruang untuk memamerkan karya, tetapi juga membutuhkan akses pasar. Karena itu, art fair menjadi bagian penting agar karya dapat memiliki nilai ekonomi dan memberikan manfaat langsung kepada para kreator,” tutur Deden.

Selain pameran dan transaksi karya, Episentrum Seni Rupa Cimahi juga menghadirkan program edukasi vokasi yang menggabungkan pembelajaran seni, desain, bisnis, dan teknologi digital. Program ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan serta memperkuat kemandirian para peserta dalam menghadapi perkembangan industri kreatif.

Deden menjelaskan, penguatan kemampuan kreatif perlu disertai dengan pemahaman mengenai pengelolaan usaha dan pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, pelaku kreatif tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga dapat mengembangkan karya tersebut menjadi peluang yang berkelanjutan.

Suasana di Cima’Art Room yang menjadi tempat ajang Pameran Seni Rupa bertajuk “Episentrum Seni Rupa Cimahi: Merdeka Berkarya“ yang digelar Cima’Art Eduprenuer – (Sumber: BJN)
Suasana di Cima’Art Room yang menjadi tempat ajang Pameran Seni Rupa bertajuk “Episentrum Seni Rupa Cimahi: Merdeka Berkarya“ yang digelar Cima’Art Eduprenuer – (Sumber: BJN)

“Kami ingin membangun generasi kreatif yang tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga memahami bagaimana mengelola ide, membangun jejaring, memanfaatkan teknologi digital, dan menciptakan peluang ekonomi secara mandiri,” ujar Deden yang juga merupakan owner Mozi Design Institute dengan nada serius.

Episentrum Seni Rupa Cimahi juga mengajak berbagai elemen masyarakat untuk terlibat. Para seniman didorong mendaftarkan karya dan memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai ruang promosi sekaligus pasar. Pelajar serta komunitas dapat mengikuti kegiatan belajar, lokakarya, eksperimen, dan proses kreatif lainnya.

Di sisi lain, pelaku usaha diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap perkembangan kreativitas lokal melalui kemitraan, investasi, maupun kolaborasi. Sementara masyarakat Kota Cimahi diajak untuk menjadikan pusat perbelanjaan sebagai ruang bertumbuh dan berinteraksi, bukan hanya sebagai tempat berbelanja.

“Episentrum Seni Rupa Cimahi adalah ajakan untuk bergerak bersama. Seni membutuhkan dukungan masyarakat, dan kreativitas akan tumbuh lebih kuat ketika seniman, komunitas, dunia pendidikan, pelaku usaha, serta pemerintah dapat saling berkolaborasi,” kata Deden.

Foto bersama seniman dari Cirebon, anggota Paguyuban Pelukis Cirebon (PPC) – (Sumber: BJN)
Foto bersama panitia pameran, seniman, dan aktivis dari berbagai komunitas – (Sumber: BJN)

Melalui kegiatan ini, Cimahi diharapkan mampu membangun identitas sebagai kota yang menjadikan kreativitas sebagai salah satu kekuatan dalam menghadapi tantangan ekonomi. Dari karya seni, diharapkan lahir dampak yang lebih luas, baik bagi perkembangan budaya, pendidikan, komunitas, maupun kesejahteraan pelaku ekonomi kreatif.

“Harapannya, Cimahi dapat menjadi salah satu kota yang menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi dapat dijawab melalui kreativitas. Dari karya, kita bergerak menuju dampak yang nyata bagi masyarakat,” pungkas Deden.

***

Judul: Dari Pameran Menuju Episentrum Seni Rupa Cimahi, Kreativitas Jadi Jawaban Perlambatan Ekonomi

Jurnalis: Raka Alvaro Triputra

Editor: JHK