Hitam Putih Seorang Karmila: Menjelang 52 Tahun Kisah Hidupnya

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Rabu (01/07/2026) – Artikel berjudul “Hitam Putih Seorang Karmila: Menjelang 52 Tahun Kisah Hidupnya” ini merupakan karya Mila Karmila Rohmah Sari, anggota Pendidikan Perempuan Indonesia (PPI) Angkatan XI.

Autobiografi ini merupakan rangkaian kisah perjalanan hidupku, mulai dari masa kecil, proses tumbuh dan belajar, hingga berbagai pengalaman yang membentuk diriku menjadi pribadi seperti saat ini. Setiap peristiwa yang aku alami, baik suka maupun duka, memberikan pelajaran berharga yang mengajarkan arti perjuangan, kesabaran, dan rasa syukur.

Melalui tulisan ini, aku berharap pembaca dapat mengenal perjalanan hidupku lebih dekat, serta mengambil hikmah dan inspirasi dari setiap pengalaman yang kubagikan. Aku menyadari bahwa autobiografi ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, aku menerima segala saran dan masukan yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.

Lahir Dibantu Dukun Beranak

Seorang gadis kecil memakai baju kaos dan celana pendek berlarian di pematang sawah, diikuti oleh teman-temannya. Mereka bermain di pematang sawah itu dengan bersenda gurau, tertawa bahagia, seperti tak ada beban hidup sedikitpun. Gadis kecil itu biasa dipanggil oleh teman-temannya dengan sebutan “Ila”. 

Mila Karmila Rohmah Sari – (Sumber: Koleksi pribadi)

Ya, itulah aku, seorang gadis kecil yang lahir dari rahim seorang ibu bernama Suyatmi yang biasa kupanggil Umi dan mempunyai seorang bapak bernama Kemala Sari. Orang tuaku memberiku nama Mila Karmila Rohmah Sari.

Dengan perjuangan selama sembilan bulan Umi mengandung diriku. Pada 11 Juli 1974 pukul 12.00 WIB, tepat saat azan Zuhur berkumandang, aku dilahirkan di Jalan Cihanjuang, Kampung Sukawargi, RW 013, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi. Ibu melahirkanku dibantu oleh seorang paraji atau dukun beranak bernama Mak Li ─ sekarang beliau sudah meninggal dunia.

Pada masa itu masih belum benyak keluarga yang memutuskan untuk melahirkan di bidan atau Rumah Sakit Bersalin. Alasannya, selain biaya melahirkan di paraji lebih terjangkau, juga karena profesi bidan pada 1970-an masih jarang dan proses melahirkan di Rumah Sakit terbilang mewah dan sangat mahal pada saat itu.

Sejak awal aku dilahirkan hingga bulan kelima, kondisi Umi masih sehat. Namun, pada bulan ke enam, payudara Umi terdapat benjolan yang ternyata itu adalah sebuah bisul yang terasa sangat menyakitkan. Akibatnya terjadi luka dan terjadi infeksi yang menyebabkan payudara Umi menjadi bengkak sehingga Umi tidak bisa menyusui aku lagi dalam jangka waktu yang lama.

Di sinilah awal kisah hidupku berubah total. Akibat kondisi Umi yang sakit-sakitan, akhirnya atas persetujuan Umi dan Bapak, aku diasuh oleh nenek yang biasa kusebut Amih dan kakek yang biasa kupanggil Bapak Aki.

Bapak Aki mempunyai tiga orang anak dari pernikahan sebelumnya dengan nenek kandungku, tetapi sudah bercerai dengan Bapak Aki. Dari pernikahan keduanya dengan Amih, Bapak Aki tidak mempunyai keturunan sehingga keinginan Amih untuk mengurus aku begitu besar ─ Amih belum pernah merasakan mempunyai anak. Jadi, Amih itu bukan nenek kandungku. Sementara nenek kandungku tinggal jauh di luar kota dan sejak kecil aku jarang bertemu dengan beliau.

Aku Diasuh dan Dibesarkan oleh Kakek dan Nenek

Kebahagiaan adalah kata yang tepat untuk mengungkapkan kisah masa kecilku. Selama aku diasuh oleh Amih dan Bapak Aki, kehidupanku sangatlah bahagia. Mereka berdua sudah menganggapku seperti anak kandung mereka sendiri. Bayangkan, sejak bayi berusia enam bulan sampai besar, aku merasa seperti anak bungsu, padahal aku adalah anak sulung dari Umi dan Bapak.

Setelah Umi sembuh, beliau mengandung dan melahirkan adik pertamaku yang bernama Muhammad Ramdan. Dua tahun berikutnya lahirlah adik keduaku yang bernama Mira Nurbayanti. Namun, adikku ini meninggal dunia pada saat umur tiga tahun karena kecelakaan.

Sekarang aku aktif di TP PKK. Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara – (Sumber: Karmila)

Adikku Mira terjatuh saat sedang digendong oleh saudara. Kepala adikku terbentur cukup keras sampai ia mengalami pendarahan dan gegar otak. Setelah dibawa ke Rumah Sakit beberapa hari, kondisinya semakin memburuk sehingga nyawanya pun tidak bisa tertolong. Umi dan Bapak sangat sedih dan merasa kehilangan. Namun, seiring waktu, alhamdulillah akhirnya mereka bisa ikhlas, sabar, dan bertawakal.

Dua tahun kemudian lahirlah adik ketigaku yang bernama Maulana Sidik dan tiga tahun berikutnya lahir kembali adik keempatku yang bernama Wahyu Hidayat, sehingga aku terlahir dalam lima bersaudara.

Masa kecilku sangatlah seru, bermain di sawah, sungai dan kebun, tidak seperti anak zaman sekarang yang sudah tidak ada lagi yang merasakan serunya bermain di alam. Dengan perkembangan zaman, mereka sudah jarang yang bisa bermain permainan tradisonal, seperti galah asin, main loncat tinggi pakai karet gelang, bermain benteng-bentengan, dan permainan tradisional lainnya. Anak zaman sekarang sudah terbiasa bermain melalui handphone dan gadget saja.

Masa Sekolah yang Penuh Dinamika

Masa kecilku adalah masa Golden Years-ku karena akan mulai bertemu dengan teman-teman baru. Pada 1980 aku mulai masuk Sekolah Dasar (SD) di SDN XV Tagog Cimahi ─ sekarang itu adalah Komplek SD Cimahi Mandiri. Masa sekolah yang menyenangkan, meskipun di kelas VI sudah mulai merasakan kebosanannya karena berteman selama enam tahun dengan teman yang sama dan guru-guru yang sama.

Alhamdulillah akhirnya aku lulus SD pada 1986 dengan prestasi yang sedang-sedang saja. Aku belum pernah menjadi tiga besar di kelas, tetapi alhamdulillah selalu masuk 10 besar.

Dengan jumlah NEM 33,73, ternyata aku diterima di SMPN 3 Cimahi yang berlokasi di Komplek KPAD Sriwijaya, Kota Cimahi. Aku mulai beradaptasi lagi dengan teman-teman baru, mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS) selama seminggu.

Sungguh ini merupakan pengalaman baru yang berkesan. Tegang, tetapi menyenangkan karena ditatar oleh kakak-kakak kelas yang baik. Mereka mengajarkan tentang kedisiplinan, kecekatan, dan rasa tanggung jawab. Manfaat dari penataran tersebut akan terasa kelak ke depannya, sebagai bekal untuk sekolah ke jenjang selanjutnya.

Setelah mulai masuk SMP pada 1986, dua tahun di SMPN 3 Cimahi, aku mulai mengalami masa pubertas. Aku mulai dapat mens pertama tepat ketika mau naik ke kelas dua. Meskipun aku termasuk seorang  anak yang cenderung pendiam, pemalu, dan kurang percaya diri, tetapi aku mulai merasakan rasa suka ketika melihat teman laki-laki sekelas, sebut saja namanya Indra. Dia murid yang pintar. Mungkin saat itu bukan rasa cinta yang serius, tetapi aku merasa semangat ke sekolah kalau ada dia. Sisi positifnya aku jadi rajin sekolah dan termotivasi untuk rajin belajar biar dapat nilai bagus terus.

Pada tahun ketiga, tibalah masa Ujian Nasional. Aku berusaha keras belajar biar lulus dan memperoleh NEM yang tinggi. Alhamdulillah pada Juni 1989 aku dinyatakan lulus dengan NEM 34,75. Memang ini nilai yang tidak terlalu tinggi, tetapi ternyata aku diterima di SMA yang menjadi harapanku, yaitu SMA Negeri 3 Cimahi yang biasa disebut SMALUCHI. Sekolah ini  berlokasi di Jalan Pesantren, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara.

Singkat cerita, setelah bisa diterima di SMAN 3 Cimahi, kemudian aku mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS). Saat itu aku masuk di kelas 1-2. Selama di kelas 1, tidak terlalu banyak dinamika, semua berjalan normal-normal saja dengan prestasi pelajaran yang sedang-sedang saja.

Menginjak kelas 2, kelas sudah dibagi dalam kelas Biologi, IPS, dan Fisika. Kebetulan aku lebih tertarik di kelas IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Aku kurang menyukai pelajaran berhitung, apalagi Kimia dan Fisika.

Sebuah dinamika terjadi pada masa kelas 2 SMA ini. Aku merasakan perasaan suka terhadap teman yang setiap hari bertemu dan selalu satu angkot ketika berangkat sekolah. Dia masuk di Kelas Fisika, kelas yang level kecerdasannya di atas jurusan Biologi dan Sosial.

Perasaaan suka itu terasa kuat sekali. Ternyata dia pun mempunyai perasaan yang sama, sehingga dia mengungkapkan perasaannya ingin aku menjadi pacarnya. Singkat cerita, kami berpacaran dan dia adalah pacar pertama dalam hidupku. 

Semua teman akhirnya mengetahui kalau aku berpacaran dengan dia. Alhamdulillah kami berpacaran secara sehat. Kami bertemu untuk membantu aku mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), khususnya di pelajaran berhitung.

Duh, betapa senangnya punya pacar yang pintar dan cerdas. Aku pun mulai diperkenalkan di keluarga dia, sehingga aku jadi mulai dekat dengan Bapak, Mamah, dan dua adiknya.

Singkat cerita, masa ujian pun tiba. Kami fokus belajar dengan serius supaya lulus,. Alhamdulillah kita dan sahabat-sahabat lulus SMA pada 1992.

Dinamika selanjutnya adalah setelah lulus SMA. Tiba-tiba dia melamar aku. Dia ingin segera menikah. Mamah dan Bapaknya pun akhirnya datang ke rumah untuk menyampaikan niat tersebut, tapi Amih dan Bapa Aki belum bisa menerima maksud tersebut karena mereka berpikir aku baru saja lulus SMA, juga dia belum punya pekerjaan.

Dengan halus Amih dan Bapak Aki menolak maksud kekasihku dan keluarganya tersebut. Ternyata dia sangat kecewa dengan penolakan tersebut. Hubungan kami menjadi terasa beda. Dia merasa terpukul dan sangat kecewa. Dia mulai menghilang. Isu yang beredar, dia pergi ke Jakarta bersama temannya, sementara akupun sibuk meneruskan pendidikan di Program Pendidikan Diploma 1 Sekretaris Terampil ASASI selama setahun.

Mungkin bukan jodoh. Setahun kemudian dia datang ke rumah hanya untuk memberitahu bahwa dia sudah menikah dengan jodoh yang dipilihkan oleh imamnya. Dia tidak mengenal sama sekali istrinya. Entah aliran Islam apa yang dianutnya.

Setelah mendapat info dari temannya, aku baru tahu ternyata dia masuk ke dalam organisasi NII (Negara Islam Indonesia) yang sangat kontra dan memusuhi sekali kepada pemerintah. Alhamdulillah kabar terakhir yang aku dengar, dia dan keluarganya sudah bertaubat dan keluar dari organisasi terlarang tersebut dan dia memilih melanjutkan hidupnya dengan istri pilihan imamnya tersebut.

Pasca Kuliah, Bekerja, dan Bertemu dengan si ”Dia”

Satu tahun berlalu sudah. Aku mulai kuliah pada 1993. Begitu banyak ilmu yang didapat selama belajar di Pendidikan Sekretaris ASASI, mulai dari ilmu tentang kesekretarisan, akuntansi dasar, stenografi, cash register, bahasa Inggris, komputer, mesin tik manual dan listrik, merias wajah dan table manner, sampai melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang kebetulan aku ditempatkan di Kantor Pos dan Giro Cimahi. Setelah itu penyusunan Tugas Akhir dan pelaksanaan  Ujian Sidang, Alhamdulillah pada 1994 aku dinyatakan lulus dengan nilai istimewa (cumlaude).

Begitu lulus kuliah Sekretaris aku langsung mulai mencari pekerjaan, tawaran pertama adalah di Bagian Tata Usaha FISIP UNJANI, tetapi sayang hanya berjalan dua bulan. Aku kalah saing dengan calon lain yang lulusan sarjana (S1). Jadi yang terpilih memang yang sudah punya gelar sarjana dan sudah berpengalaman.

Kemudian pada 1994 aku  melamar kerja ke PT Oriental Embroidery ─ perusahaan tekstil besar yang berlokasi di Jalan Leuwi Gajah. Alhamdulillah aku diterima dan ditempatkan di Bagian Administrasi Gudang dan Packing.

Tak terasa setelah lima tahun bekerja, bertemulah aku dengan si “Dia” yang selalu bertemu ketika pergi dan pulang di Bis Jemputan Karyawan. Awalnya belum kenal, cuek aja, tapi ganteng juga sih.

Tiba-tiba dia negur dan mengajak kenalan. Ya sudah kenalan aja. Setiap hari bertemu, mulai akrab dan mulai ngobrol kalau lagi di bis jemputan karyawan. Oh ternyata dia usianya lebih muda tiga tahun dari aku.  Kata hatiku, mungkin lebih seperti ke adik. Sampai suatu hari tiba-tiba dia bilang ingin tahu rumah aku. Kataku, ya boleh-boleh saja kalau hanya sekedar mampir main.

Tak terasa ternyata dia lumayan juga sering main ke rumah, sampai akhirnya dia bilang suka dan sayang sama aku. Akhirnya kami resmi pacaran dan bertunangan pada tahun ke-2 pacaran, hingga di tahun ketiga kami memutuskan untuk menikah.

Tragedi  Pra-Pernikahan

Flash back, kembali ke cerita Umi, Bapak dan ketiga  adik laki-lakiku yang belum terceritakan lagi. Mungkin dulu ketika rumah Umi dan Bapak masih berdekatan dengan rumah Amih dan Bapak Aki, aku dan orang tua, serta adik-adik masih bisa sering bertemu. Namun, setelah aku menginjak masa SMP, orang tuaku pindah tempat tinggal dan membangun rumah di daerah Cihanjuang Atas, tepatnya di Kampung Babut Girang, berjarak kurang lebih 3 kilometer dari Cihanjuang, Kampung Sukawargi.

Setelah bekerja, aku sibuk dengan kehidupanku sendiri, sehingga jarang sekali ke rumah orang tuaku. Aku masih tinggal bersama Amih dan Bapak Aki. Setelah beberapa tahun aku bisa bekerja, Amih mulai sakit-sakitan dan terdiagnosa sakit kanker rahim, hingga akhirnya Amih yang sudah seperti ibu kandungku meninggal pada 1995.

Bapak Aki masih sehat dan hidup sendiri tanpa istri. Untungnya saudara yang sudah seperti kakak sendiri yang bernama Bibi Ati, mau membantu mengurus Bapak Aki setiap hari. Akhirnya Bapak Aki menyuruh Bi Ati dan keluarganya untuk tinggal di rumah Bapak Aki saja. Bi Ati lah yang mempunyai ide agar aku segera tunangan karena memperhatikan kedekatan aku dan sudah seringnya si “Dia” main ke rumah dan akrab dengan keluargaku.

Akhirnya pertunangan pun dilaksanakan pada 1998, tapi sesuatu terjadi. Memasuki tahun 1999, Umi  baru terdiagnosa sakit diabetes. Tiba-tiba kondisinya drop, tidak sadarkan diri, dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Belum lama selang infusan terpasang, Umi sudah menghembuskan napas terakhirnya.

Sungguh teramat sedih. Rasa penyesalanpun terasa sangat menyayat hati. Kenapa aku sebagai anak tidak begitu dekat dengan Umi dan Bapak sebagai orang tua kandungku? Kenapa aku malah lebih sedih dan menangis ketika Amih yang meninggal dunia? Apakah karena aku sejak bayi usia enam bulan sudah diasuh oleh Amih dan Bapak Aki? Apakah orang tua kandungku juga sibuk dengan mengurus adik-adik ku sehingga melupakan aku?

Rasa penyesalan begitu menyiksaku. Kenapa aku tidak berusaha dekat dengan Umi? Kenapa aku tidak tahu ketika Umi sakit Diabetes? Kenapa aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri? Semua itu hanya menjadi penyesalan. Memang benar apa kata orang bijak, kita akan “merasa kehilangan dan menyesal setelah ditinggalkan” Hal yang ingin aku perbaiki adalah dengan mulai lebih memperhatikan Bapak dan adik-adik.

Pernikahanku yang Pertama

Rasa sedih kehilangan seorang Umi terobati oleh waktu, terganti oleh rasa bahagia karena setahun dari kepergian Umi, aku akan menikah. Pada 20 Agustus 2000, akhirnya aku menikah di kediaman Bapak di daerah Cihanjuang Atas karena Bapak ingin merasakan menikahkan anak perempuannya di rumahnya sendiri, mengingat aku adalah satu-satunya anak perempuannya.

Dua bulan setelah menikah, aku dinyatakan positif hamil oleh bidan dengan usia kandungan tujuh  minggu. Aku dan suami bahagia, meskipun tidak menyangka akan secepat ini bisa hamil. Saat itu aku masih bekerja dan mungkin karena kecapean dan sering lembur, aku mengalami keguguran. Aku tidak merasa sedih sama sekali karena merasa sehat dan pasti aku hamil lagi.

Tahun demi tahun berlalu. Aku dan suami berharap aku bisa hamil lagi, tapi ternyata belum juga, sehingga kami diobati secara bersama-sama. Menurut  dokter, kami disarankan mengambil jalan bayi tabung karena sperma suami yang lemah dan sel telurku yang terlalu kecil. Pada saat itu biayanya sangatlah besar, sedangkan tabungan kami belum tercukupi sehingga akhirnya kami memutuskan untuk bersabar saja sambil menjalani pengobatan-pengobatan herbal dan non medis.

Menginjak pernikahan yang ke enam, kami belum juga dikaruniai anak, dan problema pun mulai muncul. Suami kehilangan pekerjaan karena melakukan pelanggaran, akibatnya penghasilan keluarga jadi menurun.

Saat itu kami belum bisa mengatur keuangan, sehingga kami selalu kekurangan. Untuk mengatasinya dengan cara berhutang. Hutang kami cukup besar. Akhirnya setelah delapan tahun bekerja, demi mendapat pesangon dan mau bayar hutan, aku terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaan di PT. Oriental Embroidery.

Dari sisa pesangon, kami memutuskan untuk membuka usaha warung kecil-kecilan dengan berjualan lotek, gorengan, kopi, dan jajanan. Dengan menyewa sebuah warung kecil di pinggir jalan, kami mulai berjualan, sementara kami masih tinggal menumpang di rumah Bapak bersama adik-adik.

Seiring waktu, adik-adik laki-lakiku pun mendapatkan jodoh dan alhamdulillah dua orang adikku sudah menikah. Begitu pula Bapak, akhirnya menemukan jodoh kembali, menikah dengan Elvi Melinda Mentang ─ seorang ibu dari dua orang anak perempuan. Dari pernikahan dengan Bapak, mereka dikarunia seorang anak perempuan bernama Devina Adinda Nursyifa. Dia seperti pengganti adik perempuanku yang meninggal dunia pada waktu usianya masih balita.

Waktu berlalu begitu cepat. Selama tujuh tahun pernikahan, kami belum juga dikaruniai anak. Akhirnya kondisi ini menjadi awal masalah dan menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga kami.

Setelah usaha warung kurang berhasil dan pemilik warung akan memakai kembali warungnya, aku ditawari pekerjaan untuk menjaga butik baju muslim. Lalu aku bekerja di sana, sementara suami yang masih menganggur lebih sering pulang ke rumah orang tuanya dan menginap di sana.

Ternyata selain usaha butik, pemiliknya juga mempunyai Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) yang pada saat itu belum mempunyai tenaga administrasinya. Karena aku kebetulan bisa mengoperasikan komputer, aku pun ditawari untuk menjadi pegawainya juga. Alhamdulillah akhirnya ada penghasilan tambahan.

Dua tahun bekerja di butik dan di sekolah TK, siswa ternyata makin sedikit karena mulai adanya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan kebetulan yayasan ditempat aku bekerja akan membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Aku ditawari untuk bergabung menjadi  tenaga tata usahanya, sehingga aku memilih untuk fokus bekerja di SMK dengan nama SMK BINA ESSA yang berlokasi masih di Jalan Cihanjuang dan dekat dengan rumah.

Tidak terasa bekerja di SMK BINA ESSA dari nol murid sampai berkembang menjadi ratusan siswa-siswi. Setelah hampir empat tahun bekerja, aku dipercaya untuk menjadi Kepala Tata Usaha. Di situlah awal kesibukan bekerja, sampai jarang pulang dan tidur di yayasan karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Hal ini tentunya makin berpengaruh dengan kondisi pernikahan kami yang mulai berkonflik.

Aku dan suami semakin jauh, semakin kurang komunikasi dan tidak terasa sudah hampir setahun aku tidak diberi nafkah lahir maupun batin, sehingga terpikirkan niat untuk menggugat cerai saja. Akhirnya setelah tujuh tahun pernikahan, kami resmi bercerai pada 2010.

Masa Sendiri dan Pernikahan Keduaku

Sejak bercerai pada 2010, hal yang aku lakukan hanya bekerja. Selama kurang lebih enam tahun menjadi seorang Kepala Tata Usaha, tugasku begitu banyak, seakan aku tak punya waktu untuk diriku sendiri. Aku bertahan dengan penghasilanku sebanyak Rp. 575.000 per bulan karena aku berpikir di mana aku bisa bekerja lagi pada usia 40 tahun, usia yang sudah tidak muda lagi.

Tiba-tiba, ada salah seorang teman menghubungiku. Dia memberi kabar bahwa salah satu staf di bagian Dyeing dan Finishing di PT Oriental Embroidery tempat aku bekerja dulu, ada yang mau dipensiunkan dan posisinya kosong. Tentu saja aku tidak mau melewatkan kesempatan itu.

Akhirnya aku melamar dan alhamdulillah diterima. Lalu aku resmi resign dari jabatanku sebagai Kepala Tata Usaha di SMK BINA ESSA pada 2015 dan mulai bekerja kembali di PT Oriental Embroidery, bagian administrasi Dyeing dan Finishing dengan status karyawan kontrak.

Tak terasa hampir sudah sembilan tahun aku menyendiri dengan status janda. Setiap hari yang kulakukan hanya bekerja dan bekerja.

Suatu hari, ada seorang teman baikku yang berusaha menjodohkan aku dengan temannya. Awalnya aku menolak, tetapi karena nasehat seorang ustaz, akhirnya aku mulai membuka hati kembali. Mencoba berkenalan lebih jauh dan akhirnya aku menyatakan bersedia menikah dengan seorang pria bernama Syahril Harzani pada Maret 2020. Ia merupakan salah satu karyawan kontrak di pabrik tekstil yang berdarah Minang dan mempunyai tiga orang anak yang sudah besar-besar. Ketiga anaknya ikut dengan ibunya semua, suami hanya memberikan biaya bulanan saja.

Aku bersama suami keduaku yang bernama Syahril Harzani – (Sumber: Karmila)

Pada 2019 terjadi pandemi Covid yang mulai merajalela dan banyak karyawan yang diberhentikan. Tepat sebulan setelah pernikahan kami, secara bersamaan tiba-tiba kamipun selaku karyawan kontrak diberhentikan dari pekerjaan kami. Qadarullah, baru saja menikah, kami sudah menjadi sepasang pengangguran, menyedihkan sekali.

Kamipun memutar otak. Apa yang harus dilakukan ditengah pandemi Covid ini? Demi menghasilkan uang, kami pun belajar membuat usaha Kerupuk Kulit Lumpia yang kami beri nama “Kroekoel”. Kerupuk tersebut kami buat dan kemas sendiri, kemudian kami titipkan di warung-warung dan alhamdulillah laku dan cepat habis. Seiring waktu, covid pun semakin mereda, suami mulai ada tawaran kerja kembali, tepatnya di daerah Tangerang dan ekonomi keluarga pun mulai membaik.

Pertemuanku dengan PPI Angkatan ke-XI

Sekitar Agustus 2025, Ibu RW menawariku untuk mau menjadi anggota PKK Kelurahan, kebetulan di RW 20 belum ada perwakilan di PKK Kelurahan. Pada 25 September 2025 aku mulai bergabung di TP PKK Kelurahan Cibabat bersama Bapak Lurah Bambang Wahyu Purwasto dan Ibu Lurahnya yang bernama Ibu Irma Yuliawantini.

Kegiatan di TP PKK Kelurahan Cibabat sangat menarik sekali. Baru beberapa minggu saja dijalani begitu banyak ilmu dan pengalaman yang didapat. Belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru memang tidak mudah, tetapi tetap semangat dan terus harus belajar itu yang harus menjadi motivasinya.

Sekitar akhir 2025, Ibu Lurah Irma membicarakan tentang kerja sama yang akan dilaksanakan dengan Pendidikan Perempuan Indonesia (PPI). Kemudian pada Selasa, 13 Januari 2026 pukul 12.30 WIB, acara Pembukaan PPI Angkatan XI yang bertempat di Aula Kantor Kelurahan Cibabat, resmi dibuka dengan sangat meriah dan penuh semangat. Acara ini dihadiri oleh Ibu dr. R.A. Irma Indriyani sebagai founder PPI.

Aku bersama suami keduaku yang bernama Syahril Harzani - (Sumber: Karmila)
Aku bersama keluarga pada momen Idul Fitri 2026 – (Sumber: Karmila)

Kesan aku selama mengikuti PPI, aku sangat menikmati setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh PPI-XI karena semua materi yang disampaikan sangat menarik dan sangat berguna untuk kehidupan kami.

Aku mengucapkan terima kasih kepada founder PPI yaitu dr. RA. Irma Indriyani dan Ketua PPI-XI  Ibu Dewi Trihandayani, S.T., serta teman-teman pengurus PPI-XI yang telah sangat membantuku  menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap semangat untuk selalu bersaha memberikan versi terbaik dari diri kita.

Akhir yang Membahagiakan

Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidupku yang penuh suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, serta berbagai pelajaran berharga yang membentuk diriku hingga saat ini. Setiap pengalaman mengajarkan bahwa hidup adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Saya menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang dan masih banyak impian yang ingin diwujudkan.

Semoga kisah sederhana ini dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Aku percaya bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh, bangkit dari setiap keterpurukan, dan menjadi versi terbaik dari dirinya.

Dengan penuh rasa syukur, aku melangkah ke masa depan dengan harapan, semangat, dan keyakinan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan akan membawa makna yang besar dalam kehidupan.

***

Judul: Hitam Putih Seorang Karmila: Menjelang 52 Tahun Kisah Hidupnya

Penulis: Mila Karmila Rohmah Sari

Editor: JHK