BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Rabu (01/07/2026) – Artikel berjudul “Mahalnya Hidup, Murahnya Empati: Ketimpangan Sosial yang Semakin Terasa di Sekitar Kita” ini ditulis oleh Laurensius Bagus yang berprofesi sebagai mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta dan Aktivis Sosial.
Hidup di Indonesia belakangan ini terasa semakin berat. Di pasar, harga beras naik, cabai dan bawang ikut melambung. Ongkos transportasi meningkat, biaya listrik menambah beban, sementara penghasilan tetap saja tidak berubah. Banyak orang kini harus berhitung setiap kali berbelanja. Gaji yang datang cepat sekali menguap hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Masyarakat kecil semakin terhimpit. Di kampung, petani mengeluh harga pupuk yang naik tapi hasil panen tak seberapa. Di kota, buruh harian dan pekerja informal harus memutar otak agar uang cukup sampai akhir bulan. Sementara itu, di dunia maya, muncul pemandangan kontras: pesta pernikahan mewah, gaya hidup berlebihan, dan kemewahan yang dipamerkan tanpa rasa canggung. Perbedaan ini semakin mencolok di mata publik, menciptakan jarak yang makin lebar antara “mereka yang bisa hidup enak” dan “mereka yang berjuang agar tetap bertahan”.

Fenomena ini menandai betapa ketimpangan sosial bukan sekadar wacana statistik, tetapi sudah menjadi pengalaman hidup sehari-hari. Banyak orang merasa tertinggal meski sudah bekerja keras. Seolah-olah kerja keras tak lagi menjamin kehidupan yang layak. Di sisi lain, orang yang hidup berlebihan seakan makin tak peduli, sibuk dalam lingkaran kenyamanan sendiri.
Ironisnya, di tengah beratnya hidup, rasa empati justru makin menipis. Orang yang kesulitan jarang mendapat perhatian, apalagi bantuan. Masyarakat yang dulu dikenal dengan gotong royong dan kepedulian sosial kini semakin terpecah dalam kesibukan masing-masing. Banyak yang memilih menutup mata pada penderitaan orang lain, karena merasa sudah terlalu sibuk dengan beban sendiri.
Krisis ekonomi perlahan berubah menjadi krisis sosial. Orang-orang mulai kehilangan kemampuan untuk merasakan apa yang dialami sesamanya. Di jalanan, orang miskin dan pengemis dianggap gangguan. Di media sosial, penderitaan orang lain sering jadi bahan komentar sinis. Empati kini menjadi barang langka di tengah hidup yang semakin keras.
Dulu, nilai-nilai kemanusiaan seperti tolong-menolong dan solidaritas menjadi identitas masyarakat kita. Di kampung, jika ada tetangga sakit, warga bergotong royong membantu. Jika ada yang kehilangan pekerjaan, orang-orang datang membawa makanan. Sekarang, tradisi itu mulai hilang. Banyak orang bahkan tidak tahu siapa nama tetangga sebelah rumahnya.
Tekanan ekonomi membuat orang lebih fokus pada diri sendiri. “Yang penting saya dan keluarga cukup,” begitu kira-kira logika yang kini banyak tumbuh di masyarakat. Namun, dari cara berpikir inilah lahir masyarakat yang individualistis — masyarakat yang hidup berdampingan, tapi tak lagi saling mengenal.
Kesenjangan sosial semakin memperparah situasi. Di satu sisi, segelintir orang menikmati kemewahan berlebihan. Di sisi lain, jutaan orang bekerja tanpa kepastian. Sementara itu, ruang dialog antara dua dunia ini hampir tidak ada. Orang kaya sibuk dalam lingkaran bisnis dan investasi, sedangkan orang miskin sibuk memikirkan bagaimana agar anaknya bisa makan hari ini.
Kesenjangan ini menciptakan jurang sosial yang berbahaya. Ia melahirkan rasa iri, ketidakpercayaan, bahkan kemarahan yang terpendam. Masyarakat bawah merasa ditinggalkan oleh sistem, sedangkan masyarakat atas hidup dalam gelembung yang tak tersentuh realitas. Ketika empati hilang, yang tumbuh bukan lagi kebersamaan, melainkan ketegangan sosial.
Kita bisa melihat tanda-tanda itu di berbagai peristiwa sehari-hari. Ketika ada berita tentang orang miskin yang mencuri karena lapar, komentar di media sosial sering kali lebih kejam dari keadaan itu sendiri. Banyak yang menghakimi tanpa mencoba memahami. Empati terkikis, digantikan oleh budaya menilai dan mencaci.
Fenomena ini juga diperparah oleh budaya digital yang mendorong semua orang untuk tampil sempurna. Di dunia maya, orang berlomba-lomba menunjukkan kesuksesan, bukan kepedulian. Akibatnya, masyarakat jadi terbiasa melihat kehidupan orang lain bukan untuk memahami, tetapi untuk membandingkan. Ketika perbandingan menjadi kebiasaan, kepedulian ikut hilang.
Kehidupan sosial yang sehat bergantung pada rasa saling peduli. Masyarakat yang kuat bukan hanya yang ekonominya tumbuh, tetapi juga yang saling menopang. Kita bisa belajar dari hal-hal kecil yang masih tersisa. Masih ada warga yang diam-diam membantu tetangga tanpa perlu publikasi. Masih ada anak muda yang menyisihkan waktu untuk berbagi makanan kepada tunawisma. Masih ada komunitas yang turun tangan ketika ada bencana tanpa menunggu perintah.
Kepedulian seperti ini seharusnya menjadi kebiasaan sosial, bukan hanya respons sesaat. Empati perlu dibangun kembali dalam skala kecil — di lingkungan, di tempat kerja, di sekolah, dan di ruang keluarga. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari tindakan sederhana yang lahir dari hati.
Mahalnya hidup memang fakta, tetapi mahalnya hidup tidak seharusnya membuat hati kita kering. Justru di saat-saat sulit seperti ini, empati menjadi modal sosial paling penting untuk bertahan bersama. Kalau semua orang hanya sibuk menyelamatkan diri sendiri maka yang hancur bukan hanya ekonomi, tetapi juga nilai kemanusiaan.
Pemerintah tentu punya tanggung jawab untuk menekan biaya hidup dan memperkecil kesenjangan. Tapi tanggung jawab moral tidak berhenti di sana. Masyarakat pun harus ikut membangun kesadaran bahwa solidaritas bukan sekadar slogan. Dalam situasi sulit, kita perlu saling menjaga, bukan saling menjauh.
Satu hal yang harus diingat: rasa empati tidak hilang karena orang menjadi jahat, tetapi karena orang terlalu sibuk untuk peduli. Di tengah tekanan ekonomi, kita semua diuji — apakah kita masih punya ruang dalam hati untuk orang lain?
Mungkin kita tak bisa mengubah keadaan secara langsung, tetapi kita bisa memulai dari hal kecil. Menyapa tukang parkir dengan ramah. Membeli dagangan tetangga. Tidak menertawakan mereka yang kesulitan. Hal-hal sederhana seperti itu yang perlahan menghidupkan kembali rasa kemanusiaan yang mulai pudar.
Masyarakat yang kehilangan empati akan kehilangan arah karena tanpa empati, keadilan hanya tinggal wacana, dan kesejahteraan hanya milik segelintir orang. Hidup boleh mahal, tetapi jangan sampai hati ikut kering. Bangsa ini bisa berdiri tegak bukan karena kaya, tetapi karena peduli. (Laurensius Bagus).
***
Judul: Mahalnya Hidup, Murahnya Empati: Ketimpangan Sosial yang Semakin Terasa di Sekitar Kita
Penulis: Laurensius Bagus
Editor: JHK