Dolar Naik, Rupiah Tercekik: Rakyat pun Jadi Panik

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Minggu (24/05/2026) – Artikel berjudul “Dolar Naik, Rupiah Tercekik: Rakyat pun Jadi Panik” ini ditulis oleh Suryani, seorang ibu rumah tangga kelahiran Jakarta yang kini menetap di Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar bikin kondisi ekonomi kita makin mengkhawatirkan karena hal ini langsung memicu lonjakan harga barang baku dan biaya energi. Per Jumat (15/05/2026) kurs dolar menyentuh Rp 17.600. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat kecil dan menengah semakin terjepit hingga terpaksa mereka terjerat lingkaran setan pinjol (pinjaman online) demi bisa menyambung hidup sehari-hari.

Ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor yang nilainya hampir mencapai 70 persen. Dalam kondisi kehidupan yang serba sulit ini, pemerintah justru memandang situasi ini masih aman-aman saja. (BBC new.com 16/05/2026).

Suryani
Suryani, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Latar Belakang Permasalahan

Badai Geopolitik yang Bikin Rupiah langsung mengacak-ngacak pasar keuangan global. Efek dominonya sangat terasa di tanah air. Nilai tukar rupiah makin loyo dan babak belur dihantam dolar. Karena ketidakpastian global ini, para investor global berbondong-bondong menyelamatkan modal mereka ke aset yang lebih aman (safe haven). Akibatnya, pasokan dolar di dalam negeri seret. Mau tidak mau ongkos impor bahan baku serta energi melonjak drastis.

Pemerintah Gagal Membaca Kenyataan di Lapangan

Ketika rakyat sudah mulai megap-megap menghadapi kenaikan harga sembako, pemerintah justru terkesan menutup mata dan kurang peka terhadap kenyataan pahit di lapangan. Mereka sering kali berdalih bahwa fundamental ekonomi kita masih “aman” dan “terkendali” hanya berdasarkan angka-angka statistik di atas kertas.

Ketidakpekaan dalam membaca realitas ini akhirnya berujung pada kekeliruan fatal saat mengambil kebijakan ekonomi. Bukannya memberikan bantuan atau insentif yang meringankan, solusi yang dikeluarkan justru kerap meleset dari kebutuhan riil masyarakat. 

Rakyat Berjuang Sendiri di Tengah Tumpukan Utang

Pada akhirnya rakyat kecil dipaksa menjadi tameng dan menanggung sendiri beban hidup yang makin mencekik akibat absennya peran nyata dari negara. Saat ruang gerak ekonomi semakin sempit, kebijakan pemerintah alih-alih meredakan badai, justru memperkeruh suasana.

Permaslahan yang tak kunjung selesai dari kasus korupsi para pejabat, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di mana-mana, lapangan kerja pun sulit didapat sehingga kejahatan terjadi karena kehimpitan ekonomi rakyat.

Ditambah lagi dengan dengan melihat beban utang negara yang semakin melambung tinggi. Ketika negara sibuk mengamankan posisinya sendiri, masyarakat dibawa dibiarkan hidup ditengah kepungan harga bahan pokok yang menggila hingga banyak yang terpaksa mengambil jalan pintas  demi menyambung napas dapur mereka.

Sistem Moneter Berbasis Emas dan Perak yang Stabil

Sebagai solusi fundamental, Islam menawarkan sistem ekonomi yang jauh lebih stabil melalui penerapan mata uang dinar (emas) dan dirham (perak). Berbeda dengan mata uang kertas hari ini yang nilainya gampang merosot dan rapuh terhadap guncangan global, emas dan perak memiliki nilai intrinsik yang melekat pada dirinya sendiri.

Artinya, uang tersebut tidak bisa dicetak sembarangan oleh pemerintah dan tidak akan terkena inflasi gila-gilaan. Dengan sistem ini, daya beli masyarakat tetap terjaga. Tabungan tidak menguap begitu saja dan stabilitas ekonomi jangka panjang bukan lagi sekadar mimpi.

Negara Menjaga Pasar dengan Mekanisme Syariat

Selain uang yang stabil, negara dalam sistem Islam bertindak aktif menjaga stabilitas harga barang kebutuhan melalui mekanisme pasar yang adil sesuai aturan syariat.

Negara akan memberantas habis praktik riba, perjudian ekonomi (spekulasi), serta penimbunan barang yang sering membuat harga melonjak secara tidak wajar. Distribusi kekayaan dipastikan mengalir lancar ke seluruh lapisan masyarakat tanpa ada monopoli oleh segelintir orang kaya.

Negara mengelola kepemilikan umum seperti tambang, minyak, dan energi untuk dikembalikan hasilnya kepada rakyat, bukannya malah diserahkan ke pihak swasta atau asing.

Pemimpin adalah Pelindung dan Penanggung Jawab Kesejahteraan

Kunci utama dari semua keteraturan ini terletak pada paradigma kepemimpinannya. Di dalam Islam, kesejahteraan setiap individu rakyat merupakan tanggung jawab mutlak seorang pemimpin. Pemimpin dipandang sebagai ra’in (pengurus rakyat) sekaligus junnah (perisai/pelindung) yang wajib berdiri di garda terdepan untuk menyelamatkan masyarakat dari kesengsaraan hidup.

Pemimpin tidak akan bersembunyi di balik kalimat “kondisi masih aman” ketika rakyatnya sedang menjerit. Sebaliknya, ia akan memastikan kebutuhan pokok berupa pangan, sandang, papan hingga kesehatan dan pendidikan dapat diakses secara mudah dan gratis oleh seluruh warga negara.

Judul: Dolar Naik, Rupiah Tercekik: Rakyat pun Jadi Panik

Penulis: Suryani, Ibu Rumah Tangga

Editor: JHK