Berita Jabar News (BJN), Rubrik OPINI/ARTIKEL/FEATURE, Rabu (20/05/2026) – Artikel berjudul “Sunan Gunung Djati: Sang Penyair Dakwah dari Tanah Cirebon” merupakan karya Jehaka Barajati, seorang penulis berdarah Baturaja, Sumatra Selatan dan Kediri, Jawa Timur yang kini berdomisili di Kota Bandung.
Di pesisir utara Jawa Barat, ketika angin laut membawa aroma garam dan rempah-rempah dari kapal-kapal dagang yang datang dari Gujarat, Arab, dan Tiongkok, lahirlah seorang tokoh besar yang kelak mengubah wajah spiritual tanah Sunda. Ia dikenal sebagai Sunan Gunung Djati ─ seorang wali yang bukan hanya menyebarkan agama Islam, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan peradaban ke dalam denyut kehidupan masyarakat Jawa Barat.
Tokoh Islam yang sangat dikenal oleh bangsa Indonesia ini bernama asli Syarif Hidayatullah. Dalam catatan sejarah dan berbagai penelitian akademik, ia disebut sebagai salah satu anggota Wali Songo yang memiliki pengaruh sangat besar dalam proses Islamisasi di wilayah Cirebon, Banten, hingga sebagian besar Tatar Sunda.

Sunan Gunung Djati lahir dari garis keturunan yang istimewa. Ayahnya bernama Syarif Abdullah ─ seorang bangsawan keturunan Arab, sedangkan ibunya adalah Nyai Rara Santang atau Syarifah Muda’im ─ putri dari Kerajaan Pajajaran. Dari rahim budaya Sunda dan darah Timur Tengah itulah tumbuh seorang ulama yang memahami bahwa agama tidak bisa ditegakkan dengan pedang semata, melainkan dengan kebijaksanaan dan kelembutan hati.
Konon, ketika masih muda, Syarif Hidayatullah melakukan perjalanan panjang untuk menuntut ilmu ke Timur Tengah. Ia belajar ilmu agama, tasawuf, dan strategi pemerintahan Islam. Namun, jalan hidupnya bukan untuk menetap di negeri jauh. Ia justru kembali ke nusantara membawa sesuatu yang lebih berharga daripada emas: pengetahuan dan semangat dakwah.
Ketika tiba di Cirebon pada abad ke-15, masyarakat di wilayah itu masih berada dalam pengaruh kuat tradisi Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal. Akan tetapi, Sunan Gunung Djati tidak datang sebagai penghancur tradisi. Ia hadir sebagai penafsir baru kehidupan. Ia memahami bahwa budaya adalah pintu masuk menuju hati manusia. Hal itulah yang membuatnya berdakwah dengan cara lembut, tanpa paksaan, tetapi mengakar sangat dalam.
Cara dakwah Sunan Gunung Djati sangat berbeda dibanding pendekatan keras yang sering dibayangkan banyak orang tentang penyebaran agama. Ia memilih jalan akulturasi budaya. Seni dijadikan bahasa dakwah. Wayang, tari topeng, barong, hingga gamelan sekaten dipakai sebagai media untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.
Dalam pertunjukan wayang, misalnya, ia menyisipkan pesan tentang tauhid dan moralitas. Tokoh-tokoh pewayangan tidak dihapus, tetapi dimaknai ulang agar selaras dengan ajaran Islam. Masyarakat yang sebelumnya akrab dengan kisah Mahabharata dan Ramayana perlahan mengenal nilai-nilai Islam melalui cerita yang sudah mereka cintai sejak lama.
Begitulah Sunan Gunung Djati berdakwah: tidak mencabut akar budaya masyarakat, melainkan menyiramnya dengan nilai-nilai baru agar tumbuh menjadi pohon peradaban yang lebih teduh.
Sunan Gunung Djati juga dikenal sebagai pemimpin politik yang cerdas. Dalam berbagai kajian sejarah disebutkan bahwa ia berhasil membangun Kesultanan Cirebon sebagai pusat dakwah dan perdagangan Islam di pesisir utara Jawa. Dari pelabuhan-pelabuhan Cirebon, ajaran Islam menyebar bersama aktivitas perdagangan. Para saudagar Muslim dari berbagai negeri menjadi mitra penting dalam proses penyebaran agama.
Strategi ini sangat efektif. Masyarakat pesisir yang terbuka terhadap perdagangan internasional mulai mengenal Islam bukan hanya sebagai agama ibadah, tetapi juga sebagai etika sosial dan ekonomi. Islam hadir dalam cara berdagang yang jujur, dalam keramahan kepada tamu, dan dalam semangat gotong royong.
Selain itu, Sunan Gunung Djati membangun masjid dan pusat pendidikan agama. Salah satu warisan pentingnya adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa, sebuah masjid bersejarah yang hingga kini menjadi simbol perpaduan budaya Jawa, Sunda, Hindu, dan Islam.
Di tempat-tempat pendidikan itu, Islam diajarkan dengan pendekatan sufistik atau tasawuf. Pendekatan ini menekankan kelembutan hati, cinta kepada Tuhan, dan penghormatan kepada sesama manusia. Itulah sebabnya dakwah Sunan Gunung Djati mudah diterima masyarakat Sunda yang dikenal memiliki karakter lemah lembut dan menjunjung tinggi harmoni sosial.
Dalam sebuah kajian ilmiah mengenai metode dakwah Sunan Gunung Djati di masyarakat multikultural, disebutkan bahwa ia berhasil membangun identitas keagamaan yang moderat dan inklusif. Ia tidak menjadikan perbedaan budaya sebagai alasan konflik, tetapi justru sebagai jembatan persaudaraan.

Di tengah perubahan besar yang terjadi pada masa itu, Sunan Gunung Djati juga memainkan peran penting dalam hubungan politik antarkerajaan di Jawa. Ia memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Demak dan turut mendukung penyebaran Islam di Banten. Bahkan, beberapa sumber sejarah menyebut bahwa pengaruhnya menjangkau hingga Sunda Kelapa, wilayah yang kelak berkembang menjadi Jakarta.
Di balik kebesarannya sebagai wali dan pemimpin, Sunan Gunung Djati tetap hidup sederhana. Dalam banyak kisah tutur masyarakat Cirebon, ia digambarkan sebagai sosok yang dekat dengan rakyat kecil. Ia mendengar keluhan nelayan, berdialog dengan petani, dan menghormati para seniman. Dakwah baginya bukan sekadar ceramah di mimbar, tetapi keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Warisan terbesar Sunan Gunung Djati sesungguhnya bukan hanya berdirinya kerajaan Islam atau megahnya bangunan bersejarah. Warisan terbesarnya adalah cara berpikir: bahwa agama dapat tumbuh tanpa harus memusnahkan budaya. Bahwa Islam dapat hadir dengan wajah yang ramah, penuh seni, dan menghargai tradisi lokal.
Hingga hari ini, makam Makam Sunan Gunung Djati masih ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah. Mereka datang bukan sekadar untuk mengenang seorang wali, tetapi juga untuk merasakan denyut sejarah tentang bagaimana Islam pernah disebarkan dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Sunan Gunung Djati adalah bukti bahwa dakwah yang paling kuat bukanlah yang memaksa, melainkan yang menyentuh hati manusia. Ia tidak menaklukkan tanah Jawa dengan senjata, tetapi dengan kebudayaan, keteladanan, dan cinta kepada sesama. Mungkin, di situlah letak keagungannya yang sejati.
***
Judul: Sunan Gunung Djati: Sang Penyair Dakwah dari Tanah Cirebon
Penulis: Jehaka Barajati
Editor: JHK