BERITA JABAR (BJN), Artikel, Rabu (20/05/2026) – Artikel berjudul “Belajar Merasa Cukup di Era Digital” ini adalah sebuah artikel karya Febri Satria Yazid, seorang penulis dan pemerhati sosial, tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Di zaman media sosial seperti sekarang, uang bukan lagi sekadar alat tukar. Ia berubah menjadi simbol status, ukuran keberhasilan, bahkan alat untuk mencari pengakuan. Setiap hari kita melihat orang memamerkan rumah baru, kendaraan mewah, liburan ke luar negeri, pesta pernikahan megah, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna. Tanpa sadar, semua itu memengaruhi cara kita memandang uang dan kebahagiaan.
Buku The Art of Spending Money karya Morgan Housel mengajak kita untuk bertanya, sebenarnya uang itu kita gunakan untuk apa?.Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya menentukan arah hidup seseorang.
Housel menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia menggunakan uang dengan dua cara. Pertama, uang dipakai sebagai alat untuk membuat hidup lebih nyaman dan bermakna. Kedua, uang dipakai sebagai alat pembanding sosial, untuk terlihat lebih sukses daripada orang lain.
Masalahnya, banyak orang mengira mereka sedang menjalani cara pertama, padahal diam-diam terjebak dalam cara kedua. Hari ini fenomena itu terlihat sangat jelas. Banyak anak muda bekerja keras bukan hanya demi kebutuhan hidup, tetapi juga demi memenuhi standar sosial yang terus bergerak.
Ketika teman membeli rumah, kita merasa tertinggal. Ketika rekan kerja ganti mobil, kita mulai resah. Ketika media sosial dipenuhi foto liburan dan gaya hidup mewah, hati mulai bertanya, “Kenapa hidupku belum seperti mereka?”
Ketenangan hidup sering kali hilang bukan karena kita kekurangan, melainkan karena terlalu sibuk membandingkan. Di sinilah salah satu pemikiran terpenting dalam buku tersebut muncul bahwa kekayaan bukan hanya tentang berapa banyak uang yang dimiliki, tetapi tentang seberapa sedikit hal yang terus kita inginkan.
Sederhananya, kekayaan adalah apa yang kita punya dikurangi apa yang kita mau. Kalimat ini terasa sederhana, namun sangat dalam maknanya. Banyak orang berpenghasilan besar tetap merasa miskin karena keinginannya tumbuh lebih cepat daripada pendapatannya. Gaji naik, gaya hidup ikut naik. Pendapatan bertambah, pengeluaran juga membesar. Akibatnya, rasa cukup tidak pernah datang.
Sebaliknya, ada orang dengan penghasilan biasa saja tetapi hidupnya tenang karena mampu mengendalikan keinginan. Mereka tidak merasa perlu mengikuti semua tren. Mereka tidak memaksakan diri membeli sesuatu hanya demi terlihat berhasil.
Dalam kehidupan modern, kemampuan mengendalikan keinginan justru menjadi bentuk kekayaan yang paling langka.
Ironisnya, masyarakat hari ini sering mengajarkan bahwa sukses harus terlihat. Rumah harus besar, kendaraan harus baru, tempat nongkrong harus mahal. Bahkan kebahagiaan pun seolah wajib dipamerkan.
Banyak orang sebenarnya tidak membeli barang karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena ingin dihargai. Inilah yang disebut Housel sebagai “junk food”-nya rasa hormat. Rasanya menyenangkan sesaat, tetapi cepat hilang dan tidak pernah benar-benar mengenyangkan hati.
Seseorang membeli jam mahal agar dianggap berhasil. Membeli mobil mewah agar dipandang hebat. Mengunggah semua pencapaian agar mendapatkan pengakuan. Namun perhatian orang lain biasanya hanya berlangsung beberapa menit. Setelah itu, semua kembali biasa saja.
Lebih menyedihkan lagi, orang-orang yang benar-benar kita cintai sering kali tidak menilai kita dari benda yang kita miliki. Coba renungkan, ketika kita mengagumi seseorang, apakah kita benar-benar kagum karena rumah atau mobilnya?. Biasanya tidak demikian.
Kita menghormati seseorang karena sikapnya, ketulusannya, integritasnya, kepeduliannya kepada orang lain, atau ketenangan yang ia pancarkan. Hal-hal seperti itu tidak bisa dibeli di pusat perbelanjaan. Karena itu, mengejar pengakuan lewat barang sering kali hanya membuat hidup lelah.
Buku ini juga mengingatkan bahwa uang yang lebih banyak tidak otomatis menyelesaikan kegelisahan batin. Jika seseorang tidak tenang ketika penghasilannya kecil, belum tentu ia akan damai ketika penghasilannya besar.
Ada banyak hal penting dalam hidup yang tidak bisa dibeli dengan uang. Hubungan keluarga yang sehat tidak bisa dibeli. Tidur yang nyenyak tidak bisa dibeli. Tubuh yang sehat tidak bisa dibeli sepenuhnya. Persahabatan yang tulus tidak bisa dibeli. Begitu pula ketenangan hati.
Sayangnya, banyak orang menunda kebahagiaan sambil berkata, “Nanti kalau gaji sudah besar, baru hidup tenang.” Padahal hidup terus berjalan.
Anak-anak terus tumbuh. Orang tua terus menua. Waktu terus bergerak. Jika kebahagiaan selalu ditunda menunggu angka tertentu di rekening, bisa jadi seseorang tidak pernah benar-benar menikmati hidupnya.
Bukan berarti uang tidak penting. Uang tetap penting karena membantu manusia memenuhi kebutuhan dan memberi rasa aman. Namun uang seharusnya menjadi alat, bukan tujuan hidup. Ketika uang dijadikan ukuran harga diri, manusia mudah kehilangan arah. Tetapi ketika uang dipakai dengan sadar untuk mendukung hidup yang sehat, bermakna, dan tenang, di situlah ia menjadi berkah.
Di tengah budaya digital yang penuh pencitraan, pelajaran terbesar dari The Art of Spending Money mungkin justru tentang keberanian untuk hidup secukupnya. Berani tidak ikut perlombaan yang melelahkan. Berani merasa cukup ketika dunia terus menyuruh kita merasa kurang.
Hidup yang baik bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki, melainkan siapa yang paling damai menjalani hidupnya.(fsy)
Penulis : Febri Satria Yazid
Editor : Tiyut