BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Senin (26/01/2026) – Artikel “Urgensi Kepemimpinan Islam Global” karya Eulis Wida, seorang penulis yang tinggal di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
Dunia hari ini sedang berada dalam cengkeraman sistem kapitalisme global di bawah Amerika Serikat (AS). Kepemimpinan ini terbukti gagal mewujudkan kesejahteraan yang merata. Sebaliknya, yang terjadi adalah pemusatan kekayaan pada segelintir elite (oligarki global), sementara mayoritas penduduk dunia, khususnya di negeri-negeri muslim terjerumus dalam krisis multidimensi yang mendalam. Sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan, membiarkan nafsu manusia menjadi standar tunggal dalam pembuatan hukum.
Kondisi umat Islam saat ini berada pada titik yang memprihatinkan. Dominasi politik dan ekonomi AS telah menempatkan dunia Islam dalam posisi terjajah secara sistemik. Kita menyaksikan kelemahan politik ─ negara-negara Muslim kehilangan kedaulatan dan hanya menjadi bidak dalam papan catur kepentingan Barat.
Selain itu, kekayaan alam yang melimpah dirampas melalui jeratan utang dan korporasi multinasional, menyisakan kemiskinan bagi rakyatnya. Arus liberalisme dan gaya hidup hedonistik juga kian menggerus akidah dan akhlak, membuat generasi muda muslim tercerabut dari jati diri aslinya sebagai khairu ummah (umat terbaik).

Dampak rusaknya kepemimpinan global saat ini tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga oleh alam semesta. Paradigma yang hanya berorientasi pada keuntungan materi (profit-oriented) telah memicu bencana ekologis yang masif.
Eksploitasi sumber daya alam dilakukan secara masif dan tidak terkendali tanpa memedulikan keseimbangan ekosistem. Hutan digunduli, laut dicemari, dan iklim menjadi tidak menentu; semua ini adalah konsekuensi logis dari sebuah sistem yang memandang alam hanya sebagai komoditas, bukan sebagai amanah Sang Pencipta.
Amerika Serikat semakin menunjukkan arogansi kekuasaannya sebagai “polisi dunia”. Dengan dalih demokrasi dan hak asasi manusia, mereka melakukan intervensi militer maupun politik terhadap negara-negara yang menghalangi kepentingan nasional mereke.
Invasi dan pendudukan AS di berbagai wilayah Timur Tengah meninggalkan jejak darah dan kehancuran, hingga intervensi militer terhadap kedaulatan negara seperti Venezuela. Hukum internasional seringkali hanya menjadi alat legitimasi bagi kepentingan sepihak sang adidaya. Standar ganda diterapkan: keras terhadap lawan, tetapi permisif terhadap sekutu meski melakukan pelanggaran kemanusiaan yang nyata.
Amerika Serikat menggunakan segala upaya untuk mempertahankan hegemoninya. Mereka melakukan aneksasi, baik secara militer maupun ekonomi demi menguasai sumber daya alam negara lain. Tindakan ini dilakukan tanpa memedulikan tatanan hukum internasional maupun kecaman dari masyarakat dunia. Bagi mereka, penguasaan energi dan kekayaan alam adalah harga mati, meskipun harus dibayar dengan darah dan air mata bangsa lain.
Jika ditelaah secara mendalam, akar dari segala permasalahan ini adalah penerapan ideologi kapitalisme sekuler. Di sektor ekonomi, umat terjebak dalam sistem ribawi yang mencampurkan batas halal dan haram, memicu inflasi permanen dan ketimpangan sosial yang tajam.
Sementara itu di sektor pendidikan, kurikulum yang ada cenderung menghasilkan generasi materialistik yang cerdas secara intelektual namun gersang secara spiritual. Selain itu, di sektor sosial, umat terlena pada pemujaan terhadap kebebasan individu (liberalisme) yang merusak keluarga dan menghancurkan tatanan moral masyarakat.
Melihat realitas dunia yang kelam di bawah bayang-bayang sistem sekuler, sudah saatnya umat Islam bangun dari tidur panjangnya dan menyadari keberadaan mabda (ideologi) Islam. Islam adalah ideologi yang benar. Kesadaran ini harus dimulai dengan membedah kembali pemahaman kita terhadap agama ini; bahwa Islam bukanlah sekadar agama ritual-spiritual yang membatasi diri pada ruang privat atau sudut-sudut masjid. Lebih dari itu, Islam adalah sebuah ideologi paripurna yang lahir dari wahyu Sang Pencipta.
Allah SWT telah menegaskan kesempurnaan sistem ini dalam firman-Nya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Q.S. Al-Ma’idah: 3).
Ayat ini merupakan penegasan bahwa Islam memiliki jawaban atas seluruh problem kehidupan. Menjadikan Islam sebagai landasan bangkit adalah sebuah kewajiban karena ia adalah modal untuk kebangkitan yang hakiki—kebangkitan yang memanusiakan manusia di bawah aturan Sang Khalik.
Secara politis, hegemoni global yang merusak saat ini hanya bisa ditandingi jika umat Islam memiliki institusi politik yang kuat dan independen. Kepemimpinan Islam bukan sekadar pilihan sosiologis, melainkan tuntutan keimanan untuk menerapkan hukum Allah secara kaffah (menyeluruh). Tanpa kepemimpinan ini, umat akan terus tercerai-berai seperti buih di lautan, mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan elit global.
Sejarah mencatat, selama lebih dari satu abad, kepemimpinan Islam mampu menjadi penyeimbang kekuatan dunia. Saat Eropa berada dalam Zaman Kegelapan (Dark Ages), peradaban Islam justru menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dan keadilan yang menerangi dunia.
Kepemimpinan Islam tidak hadir untuk diskriminasi. Sebaliknya, ia adalah perwujudan janji Allah, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya: 107).
Bukti sejarah yang tak terbantahkan adalah Piagam Madinah dan masa keemasan di Andalusia (Spanyol Islam). Di bawah kepemimpinan Islam, umat beragama lain (Yahudi dan Nasrani) hidup berdampingan secara damai, terlindungi harta dan jiwanya, serta diberikan hak-hak sipil yang adil—sesuatu yang saat itu tidak ditemukan di belahan dunia manapun. Ini adalah bukti bahwa Islam tidak memaksakan keyakinan, namun memaksakan keadilan bagi semua.
Kepemimpinan Islam adalah membawa manusia keluar dari penyembahan terhadap sesama makhluk (dalam bentuk kepatuhan pada sistem buatan manusia yang cacat) menuju penyembahan hanya kepada Tuhan manusia, Allah subhanahu wata’ala. Inilah misi yang pernah disampaikan oleh sahabat Rib’i bin Amir saat berhadapan dengan panglima Persia:
“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan terhadap sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kedzaliman agama-agama menuju keadilan Islam,” ujar sahabat Rib’i bin Amir.
Inilah jalan menuju cahaya setelah sekian lama dunia terjebak dalam kegelapan sistem jahiliyah modern yang eksploitatif. (Eulis Wida).
***
Judul: Urgensi Kepemimpinan Islam Global
Penulis: Eulis Wida
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang penulis

Penulis bernama lengkap Eulis Wida ini biasa disapa dengan julukan Teh Wida oleh teman-temannya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga kelahiran Bandung, 02 Maret 1991. Senang menulis dan membaca sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.
Pengalaman Teh Wida menulis secara profesional baru dimulai pada 2018. Ia membuat karya tulis berupa novel, cerpen, dan puisi yang diunggah di platform online seperti KBM (Komunitas Bisa Menulis) dan Novel Toon.
Kini, Teh Wida aktif menulis opini publik tentang isu-isu politik yang sedang menjadi topik hangat ditengah masyarakat yang dikemas dalam sudut pandang Islam. Motto hidupnya, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya.” Ia berharap tulisannya bisa memberi manfaat untuk banyak orang.
***






