Penghargaan Guru Membekas di Permukaan, Hilang di Kedalaman

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Selasa (13/01/2026) ─ Artikel berjudul “Penghargaan Guru Membekas di Permukaan, Hilang di Kedalaman ini ditulis oleh Ina Agustiani, S.Pd. yang sehari-hari bekerja sebagai aktivis pendidikan dan pegiat literasi.

Pendidikan adalah cahaya yang menembus gelapnya zaman, tetapi cahaya itu redup bila guru dibiarkan lapar.  Penghargaan hanyalah bunga di permukaan, sementara akar persoalan masih terikat pada tanah sekularisme.

Guru adalah lentera yang menuntun jiwa, tetapi lentera itu meredup bila minyak kesejahteraan tak pernah dituangkan.  Digitalisasi adalah jendela yang terbuka. Namun, jendela itu tak berarti bila rumah pendidikan rapuh di fondasi.

Guru mengajar
Ilustrasi: Guru sedang mengajar – (Sumber: Arie/BJN)

Kapitalisme menjerat guru dalam utang, menukar peluh dengan angka, menukar ikhlas dengan beban

Rangkaian prestasi ditorehkan dalam dunia pendidikan di Jawa Barat (Jabar). Pada 15 Desember 2025 lalu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menerima Anugerah Pengimbasan dan Pemanfaatan Rumah Pendidikan Terbaik dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) atas prestasinya bukti pemanfaatan platform digital yang berdampak langsung bagi guru dan peserta didik Jabar. Penyerahan dilakukan pada malam penganugerahan di Jakarta oleh Inspektur Jenderal Kemendikdasmen, Faisal Syahrul.

Penghargaan ini adalah bukti pendidikan Jabar mengalami transformasi, inovasi, dan kolaborasi untuk kemajuan pelayanan pendidikan, terlebih salah satu sekolah yaitu SMAN 6 Bandung menjadi pemenang Hackathon Rumah Pendidikan 2025 ─ AI (kecerdasan buatan) akan menjadi bagian keseharian untuk membantu proses pembelajaran nyata terhadap kualitas pembelajaran dan daya saing sumber daya manusia.

Digitalisasi Menambah Beban Guru

Kemudahan memang datang dengan era digitalisasi, tetapi itu hanya menyentuh permukaan. Guru tetap dibebankan dengan sejumlah administrasi dengan gaji yang kurang layak. Bahkan, terkadang berbagai masalah hidup menghimpit bebannya mengikis energi positif di kelas. Kondisinya akan berubah jika guru digaji dengan layak, sepadan, seberat apapun beban administrasi dan peningkatan skill yang dipikul itu bukan masalah karena sebagian beban hidup tertangani dengan tuntas.

Masalahnya yang dihadapi tak demikian. Gaji setara UMR pun belum sanggup negeri ini kecuali hanya untuk kalangan tertentu saja, semisal PPG, P3K, PNS. Honorer pada umumnya tetap dalam penantian pengangkatan yang tidak pasti kapan datangnya. Guru guru harus punya profesional tinggi, tetapi gajinya kurang dari layak. Tugas guru serius, tetapi gajinya main-main.

Dalam jerat paradigma sekuler kapitalis saat ini menempatkan pendidikan dalam fragmen sekolah bagai produk, guru tenaga kerja dengan gaji murah dan murid sebagai konsumen. Sampai pada akarnya, penghargaan digitalisasi  tidak selalu menyelesaikan problem dasar yaitu kesejahteraan guru, kualitas pendidik, dan murid dalam pembinaan akhlak, serta arah pendidikan untuk melanjutkan generasi cemerlang dan berkualitas.

Terkadang juga pemerintah perannya hanya sebagai regulator dengan memberi alat digital sedangkan output pendidikan tidak diperhatikan. Merasa sudah bekerja banyak dengan memberi bantuan digital, tetapi minim orang yang bisa mengoperasikannya. Lebih jauh lagi bagaimana dengan daerah terpencil dengan listrik seadanya, apakah program ini hanya menyasar kota besar dan akses informasi dan teknologi yang maksimal?

Program apapun sebenarnya baik tetapi harus sampai pada menyolusi persoalan kompetensi guru naik beserta persoalan sistemiknya yaitu berbarengan dengan meningkatnya kesejahteraan agar bisa dijalani dengan bahagia, ringan, tanpa memikirkan yang lain.

Solusi Sismtematis Islam

Islam punya visi besar pendidikan untuk sebuah peradaban besar dan serius mendidik guru dan muridnya sehingga output memenuhi unsur pendidikan hakiki, selain ilmu dan intelektualitas, tetapi juga faktor amal, iman, dan kepribadian Islam yang menyempurnakan jiwa setiap insan. Seperti dalam terjemahan Q.S. Mujadalah: 11, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadalah [58]: 11).

Keberhasilan sistem bukan hanya di faktor teknis, tetapi sistem politik ikut andil dalam pendidikan termasuk pembiayaan (masalah utama yang harus diselesaikan di awal). Karena peran negara sebagai raa’in (pengurus) urusan bukan hanya regulator. Pendidikan adalah kebutuhan publik, merupakan tanggung jawab negara untuk melayani rakyatnya, bukan sebagai ladang bisnis. Peradaban Islam sukses melahirkan para ulama dan ilmuwan di sepanjang masa dan keilmuwan itu dapat dirasakan dan dinikmati hingga kini.

Dalam buku Nizham Al-iqtisadi Fi Al-Islam (Sistem Ekonomi Islam) karangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, menyatakan bahwa sektor pendidikan adalah salah satu pos anggaran yang diprioritaskan oleh Amir (pemimpin) meski baitulmal kosong/krisis (tidak ada harta), ini menunjukkan bahwa pendidikan itu punya peran strategis dan vital.

Aspek teknis yang akan dilakukan dalam pendidikan sistem Islam adalah dukungan terhadap kompetensi guru yang tidak hanya pembiayaan dan penyediaan fasilitas pendidikan saja, tetapi pada beberapa aspek ini. Kurikulum yang berbasis pada akidah Islam (materi ajar harus sesuai tujuan utama yaitu membentuk kepribadian Islam sehingga guru tidak bingung dalam mengimplementasi pembelajaran). Lalu pengaturan fasilitas pendidikan disediakan dengan baik dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dengan standar kualifikasi guru ditentuan dari pembentukan syakhsiyah (kepribadian).

Setelah itu pembangunan infrastruktur yang memadai dan merata. Negara wajib memenuhi itu di semua jenjang, termasuk teknis tempat belajar (penyediaan perpustakaan, media ajar, komputer dan internet cepat, laboratorium, pelatihan kompetensi guru). Gaji yang layak untuk guru sebagai peran sentral dedikasinya mencerdaskan umat dengan memenuhi kebutuhan ekonominya agar fokus menjalani amanah tanpa khawatir kesulitan ekonomi.

Tinta sejarah menuliskan pada masa Khalifah Al-Ma’mun (813-833 M) masa Khalifah Abbasiyyah memberikan tunjangan besar bagi para ilmuwan dan guru di madrasah Nizhamiyah mendapat gaji dari baitulmal dengan tunjangan besar. Gaji sebagai bentuk jaminan kesejahteraan ini bisa mencapai puluhan dinas. Bahkan, bisa lebih yaitu ratusan dinar emas per bulan.

Nilai satu dinar setara 4,25 gram emas murni. Jika saat ini dikalkulasikan Rp4-5 juta maka gajinya sebanding 10 dinar yaitu Rp40-50 juta per bulan. Ini bentuk penghargaan negara untuk menyejahterakan pendidik sebagai faktor penting mendukung sistem pendidikan berjalan stabil.

Berinfak dan sedekah menjadi gaya hidup pada masa Islam, para hartawan dan dermawan antusias mewakafkan hartanya dan berlomba-lomba berkontribusi dalam pendidikan, misalnya dengan mendirikan universitas, laboratorium, perpustakaan lengkap dan itu dilakukan Fatimah Al-Fihri muslimah yang mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko tahun 859 M. Kemudian Baitul Hikmah di Bagdad. Dukungan finansial itu nyata. Sekolah-sekolah berkualitas dan gratis itu tersebar di seluruh penjuru negeri sehingga aksesnya lebih mudah.

Guru juga punya peran politis untuk membangun perubahan dan menciptakan peradaban secara struktural dan fundamental. Guru bukan sekadar “pahlawan tanpa tanda jasa”, melainkan sosok mulia yang dijamin kesejahteraannya. Penghargaan teknologi hanyalah ornamen, pendidikan membutuhkan perubahan paradigma dari sekularistik disempurnakan dengan Islam Kaaffah. Wallahu A’lam. (Ina).

***

Judul: Penghargaan Guru Membekas di Permukaan, Hilang di Kedalaman
Penulis: Ina Agustiani, S.Pd.
Editor: JHK

Sekilas Penulis

Ina Agustiani, S.Pd.
Ina Agustiani, S.Pd., penulis – (Sumber: Pratama Media News)

Ina Agustiani, S.Pd. adalah seorang penulis wanita yang aktif sebagai pendidik dan pegiat literasi di Jawa Barat. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa online, di antaranya tulisan berjudul Putus Sekolah Putus Harapan: Jabar Tertinggi” yang dimuat di media online inijabar.com pada Rabu, 11 Oktober 2023.

Tulisan Ina Agustiani, S.Pd. lainnya berjudul “Derita Keluarga dan Pendidikan di Masa Pandemi” yang terbit di media online radarindonesianews.com pada 29 Desember 2020. Tulisan ini dibuat saat wabah Pandemi Covid-19 sedang melanda Indonesia. Kemudian tulisan berjudul “Merdeka Belajar, Tapi Tak Merdeka Kritik” yang terbit pada 10 November 2020 di media yang sama.

Kemudian tulisan tentang pendidikan berjudul “Saat Kisruh Zonasi Masih Mendominasi” terbit di Suara Muslimah Jabar pada 29 Juli 2023 dan tulisan berjudul “Sawang Sinawang Turunnya Kemiskinan di Jawa Barat” yang terbit di media online terasjabar.co pada 2 Agustus 2023.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *