BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom Artikel/Featrue, Kamis (25/06/2026) – Tulisan berjudul “Turritopsis Dohrnii: Keajaiban Ubur-ubur ‘Abadi’ dan Pelajaran dari Al-Quran” ini ditulis oleh Ir. Sunar Kartiko Roeslan, alumni Fakultas Teknik UNINUS Bandung.
Di hamparan luas samudra yang menutupi lebih dari dua pertiga permukaan bumi, tersembunyi makhluk mungil yang selama puluhan tahun membuat dunia ilmu pengetahuan takjub. Namanya Turritopsis Dohrnii atau lebih populer disebut “ubur-ubur abadi” — immortal jellyfish.
Ukuran tubuh makluk ini tidak lebih dari sebutir beras, hanya sekitar 4–5 milimeter, bening transparan, dan hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan mekanisme biologis yang luar biasa. Kemampuannya memunculkan pertanyaan besar: benarkah ada makhluk yang menantang hukum kematian? Bagaimana fakta ini selaras dengan ajaran Al-Quran yang tegas menyatakan bahwa segala sesuatu yang hidup di alam semesta ini pasti semuanya akan binasa/mati?

1. Jejak Penelitian: Siapa yang Pertama Meneliti?
Pada 1907, seorang zoolog asal Swiss bernama Carlo Bedot adalah orang pertama yang menamai spesies ini secara ilmiah dengan nama Turritopsis Dohrnii. Nama “Dohrnii” diberikan untuk menghormati zoolog asal Jerman, Carl August Dohrn. Namun, penelitian Carlo Bedot saat itu masih sebatas klasifikasi taksonomi, belum membahas fenomena “abadi”.
Berikutnya pada 1996 dilakukan sebuah penelitian modern tentang kemampuan Turritopsis Dohrnii membalik siklus hidupnya yang dipublikasikan pertama kali secara luas oleh Prof. Shin Kubota dari Universitas Kyoto, Jepang. Saat itu Shin Kubota bersama timnya di Laboratorium Zoologi Laut, Seto Marine Biological untuk pertama kalinya mendokumentasikan secara detail proses transdiferensiasi pada Turritopsis Dohrnii di laboratorium. Dari ubur-ubur dewasa →mencair → sel jadi polip → tumbuh ubur-ubur muda lagi.

Makalah Shin Kubota telah membuat spesies ini viral dan menjadi populer di dunia sains sehingga dijuluki immortal jellyfish. Sejak itu Turritopsis Dohrnii jadi riset penuaan dan regenerasi sel. Laboratoriumnya menjadi rujukan utama riset Turritopsis Dohrnii di dunia.
Setelah Kubota, beberapa laboratorium besar ikut meneliti genom dan mekanisme Turritopsis Dohrnii. Salah satunya adalah Maria Pia Miglietta dan kawan-kawan yang berasal dari Texas A&M University, Amerika Serikat. Pada periode 2007-2018 Ilmuan AS fokus pada pemetaan filogenetik dan penyebaran global spesies ini, mulai pakai DNA untuk meluruskan identitas spesies.
Peneliti berikutnya dalah tim internasional proyek sekuensing genom 2022 – konsorsium ilmuwan dari AS, Italia, Spanyol. Mereka berhasil memetakan genom Turritopsis Dohrnii untuk pertama kalinya mencari gen “anti-penuaan”, gen yang atur transdiferensiasi = gen yang sama dipakai sel punca manusia. Hasil temuan dipublikasikan di jurnal PNAS.
2. Mengenal Lebih Dekat: Siapa Turritopsis Dohrnii?
Pertama kali diidentifikasi di Laut Mediteranian, ubur-ubur ini memiliki kemampuan unik yang belum ditemukan pada hewan lain. Hewan pada umumnya akan menua, melemah, lalu mati. Turritopsis dohrnii tidak mati demikian, dia “abadi”. Kemampuannya disebut transdiferensiasi. Ini adalah proses di mana sel-sel dewasa di tubuhnya dapat “membalik arah” menjadi sel muda yang belum memiliki fungsi khusus, lalu berdiferensiasi lagi menjadi jenis sel baru.
Analoginya sederhana: Bayangkan sebuah rumah lengkap dengan kamar, dapur, dan atap. Ketika ada bahaya, rumah itu dibongkar total hingga menjadi bata dan semen. Lalu dari bahan yang sama, dibangun kembali menjadi rumah baru mulai dari fondasi. Begitulah cara kerjanya.
Saat menghadapi stres—kelaparan, luka, air tercemar, atau tubuhnya mulai menua—ubur-ubur dewasa akan mencairkan tubuhnya. Sel-selnya kembali ke tahap awal: menjadi polip kecil yang menempel di tiang dermaga, lambung kapal, atau batu karang. Dari polip inilah lahir ubur-ubur baru yang “muda kembali”. Seolah-olah ia memulai hidup dari nol tanpa batas waktu. Oleh karena itu ilmuwan menyebutnya biologically immortal = secara biologis tidak menua. Namun kata “abadi” di sini memiliki batasan ilmiah yang sangat jelas.
Turritopsis Dohrnii memiliki mulut, tentakel beracun untuk menangkap plankton, sistem saraf sederhana, dan otot. Jauh berbeda dari bakteri yang hanya terdiri dari 1 sel tanpa organ.
Mengapa tubuhnya kecil? Ini dijelaskan oleh “Hukum Kuadrat-Kubus”. Ubur-ubur tidak memiliki jantung atau paru-paru. Ia bernapas melalui difusi langsung dari permukaan kulit. Jika tubuhnya dua kali lipat, volumenya menjadi delapan kali lipat, tetapi luas permukaan kulitnya hanya empat kali lipat. Akibatnya oksigen tidak cukup masuk. Oleh karena itu alam “memilih” agar ia berukuran 4 – 5 mm agar difusi tetap lancar. Tubuhnya 95% air dan jelly sehingga hidupnya sangat hemat energi.

3. Apakah Turritopsis Dohrnii Ada di Perairan Indonesia?
Kemungkinan besar ada. Turritopsis dohrnii menyukai perairan tropis hingga sedang dengan salinitas 18–40 PSU. Laut Indonesia yang beriklim tropis dengan salinitas rata-rata 30–35 PSU merupakan habitat yang ideal baginya. Ia juga dijuluki “penumpang kapal laut” ulung. Fase polipnya gemar menempel pada lambung kapal, tiang ponton, dan dermaga. Dari Laut Mediterania, ia terbawa kapal ke seluruh dunia, termasuk Nusantara.
Spot potensial di Indonesia: 1. Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta – kapal internasional hilir mudik setiap hari; 2. Selat Sunda & Selat Malaka – jalur pelayaran tersibuk di dunia; 3. Perairan Bali, Lombok, Bunaken – tropis dan banyak marina wisata, dan; 4. Teluk Jakarta & Teluk Surabaya – air tenang dan banyak tiang dermaga.
Sayangnya Turritopsis Dohrnii inisangat sulit dilihat dan ditemukan oleh mata telanjang. Ukurannya hanya 4-5 mm, tubuhnya bening seperti air, dan fase polipnya menempel tersembunyi. Sampai saat ini 2026, Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia belum ada publikasi khusus titik keberadaan Turritopsis Dohrnii diperairan Nusantara. Potensi keberadaannya besar karena laut tropis dan jalur kapal internasional. Penelitian plankton di Indonesia kemungkinan sudah menyentuhnya, tapi belum dipublikasikan resmi.
4. “Abadi” Menurut Sains dan Hukum Allah dalam Al-Qur’an
Kemampuan luar biasa ini sering menimbulkan pertanyaan: berarti ada makhluk yang tidak mati? Apakah ini bertentangan dengan Al-Qur’an? Jawabannya: Tidak ada pertentangan sama sekali. Justru fakta ini menguatkan kebenaran Al-Qur’an. Mari kita telaah dua ayat utama:
Pertama, dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 57, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
Kedua, dalam Surah Ar-Rahman ayat 26–27, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa, sedangkan wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
Kedua ayat ini menetapkan hukum mutlak: kekekalan sejati hanya milik Allah. Semua makhluk bernyawa pasti akan mengalami kematian. Lalu bagaimana dengan Turritopsis?
Penjelasan ilmiahnya:
A. Turritopsis Dohrnii tidak benar-benar “abadi”
Kemampuannya hanya melindunginya dari kematian akibat penuaan. Bukan dari kematian total. Di alam liar, ia tetap mati jika: 1. Dimakan ikan atau ubur-ubur lain; 2. Terinfeksi penyakit atau parasit; 3. Hidup di air tercemar, suhu berubah drastis, atau terjebak sampah plastik, dan; 4. Mengering saat air surut.
Umur rata-ratanya di alam bebas hanya beberapa minggu sampai beberapa bulan. Dengan demikian, ayat “pasti akan merasakan mati” 100% berlaku untuknya.
B. Proses “reset” = berakhirnya satu individu
Saat ubur-ubur dewasa “mencair” menjadi polip, maka struktur, organ, dan “individu A” yang berumur 2 bulan itu hancur total secara biologis. Individu yang tumbuh dari polip itu adalah “individu B” yang muda, identik secara genetik tetapi bukan individu yang sama persis.
Hal ini mirip metamorfosis ulat menjadi kepompong lalu menjadi kupu-kupu. Ulatnya “selesai”, yang muncul adalah kupu-kupu baru. Jadi tetap ada perpindahan dan berakhirnya satu fase kehidupan. Hukum kematian tetap berlaku.
C. Semua makhluk tunduk pada hukum Allah
Tidak ada makhluk yang bebas dari kematian. Bakteri mati terkena antibiotik, pohon mati kekeringan, bahkan matahari pun akan padam sekitar lima miliar tahun lagi. Turritopsis hanya diberi “cara bertahan” yang unik oleh Allah. Bukan kebebasan dari kematian.
5. Pelajaran dan Hikmah untuk Sains dan Umat Islam
Keberadaan ubur-ubur ini justru menjadi bukti nyata kebesaran Allah, bukan pembatal ayat. Pertama, Tidak ada pertentangan antara ilmu dan wahyu. Sains menemukan “cara kerja sel”. Al-Quran menetapkan “hukum akhir”. Ketika sains mengungkap rahasia transdiferensiasi, itu hanya membuka secara bertahap ciptaan Allah yang telah ada dalam Al Qur’an sejak 1400 tahun lalu.
Lihat pola timeline penemuannya Turritopsis Dohrnii: tahun 1907 manusia hanya bisa “kasih nama”, tahun 1996 baru “paham caranya”, dan tahun 2022 baru “baca kodenya”. Penemuan ini seharusnya menambah keimanan, bukan keraguan.
Kedua, jangan tertipu oleh istilah manusia. Kata “abadi” versi ilmuwan berarti “tidak menua”. Kata “Al-Abadi” milik Allah berarti: Maha Hidup, tidak berawal, tidak berakhir, tidak butuh makan dan minum, tidak dapat mati. Jelas berbeda level. Turritopsis masih membutuhkan plankton dan air laut. Allah tidak membutuhkan apa pun.
Ketiga, dorongan bagi ilmu pengetahuan. Mempelajari gen dan protein Turritopsis saat ini digunakan untuk riset kanker, penuaan, regenerasi sel – organ pada manusia. Kemungkinan dari ubur-ubur berukuran 5 mm ini Allah membukakan jalan untuk obat yang menyembuhkan jutaan orang. Itu adalah bentuk rahmat-Nya.
Keempat, pengingat tentang hakikat hidup. Makhluk sekecil ini saja memiliki sistem secanggih itu. Apalagi manusia. Semuanya diatur dengan ukuran dan kebijaksanaan yang sempurna. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan. Tujuan akhirnya tetap: kembali kepada Allah.
Penutup
Turritopsis Dohrnii adalah bukti yang halus. Namun, kuat tentang kebesaran Sang Pencipta. Ia menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah, bahkan pada makhluk yang paling kecil dan sering diabaikan.
Ya, Turritopsis Dohrnii memiliki jurus “reset umur” yang menakjubkan. Tetapi ia tetap hidup, tetap tumbuh, dan pada akhirnya tetap mati sesuai ketetapan-Nya. Ia tidak keluar dari lingkaran hukum: Kullu nafsin dzaiqotul maut, artinya Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.
Semoga pengetahuan ini menambah rasa takwa dan kekaguman kita. Karena di balik setiap keajaiban sains, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang mau berpikir. Semakin kita kaji ciptaan Allah, semakin jelas tanda-tanda kebesaran-Nya untuk orang yang beriman.
“Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang meyakini.” (Q.S. Al-Jatsiyah: 4).
***
Judul: Turritopsis Dohrnii: Keajaiban Ubur-ubur ‘Abadi’ dan Pelajaran dari Al-Quran
Jurnalis: Ir. Sunar Kartiko Roeslan
Editor: Jumari Haryadi