BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Sabtu (21/02/2026) – Artikel berjudul “Sandiwara Gencatan Senjata dan Perdamaian ala Israel-Amerika Serikat” ini merupakan karya tulis Yuli Yana Nurhasanah yang akrab disapa Yuli dan aktif dalam dalam Komunitas Menulis “Muslimah Peduli Umat”.
Gencatan senjata dan BoP ditawarkan sebagai solusi perdamaian untuk Gaza. Nyatanya, pelanggaran gencatan senjata kembali terjadi berulang kali dilakukan oleh Zionis Israel.
Gedung di dekat pemakaman Zeitoun hancur setelah diserang rudal Israel. Tidak ada korban jiwa karena warga sudah dievakuasi sebelumnya. Israel menyebut serangan itu sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Sumber: Kompas (06/2/2026).

Israel masih melakukan serangan ke Gaza meskipun sudah setuju untuk gencatan senjata. Serangan udara Israel menghantam kamp di Khan Younis, Gaza, dan menewaskan 21 orang, termasuk enam anak dan bayi berusia lima bulan. Ini menunjukkan bahwa Israel tidak menghormati kesepakatan gencatan senjata. Dunia internasional mengecam keras serangan ini. Sumber: CNN Indonesia (05/02/2026).
Serangan Israel ke Gaza terus meningkat, membuat situasi kemanusiaan semakin buruk. Palang Merah Palestina melaporkan bahwa Israel membatalkan koordinasi untuk kelompok ketiga pasien Palestina yang akan meninggalkan Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah. Ini adalah contoh terbaru dari bagaimana konflik ini memperburuk kondisi warga sipil.
Sejak gencatan senjata diterapkan pada Oktober lalu, pasukan Israel telah membunuh lebih dari 520 warga Palestina. Namun, angka ini jauh lebih rendah dari total korban jiwa sejak agresi Israel ke Gaza dimulai pada Oktober 2023, yaitu lebih dari 70.000 warga Palestina tewas dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi. Sumber: CNN Indonesia (05/02/2026).
Dunia terlalu naif, percaya pada janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi Amerika Serikat (AS), padahal yang terjadi justru Israel berulang kali sengaja melanggar perjanjian. Gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara AS-Israel untuk melanggengkan penjajahan di Palestina.
Penguasa negeri-negeri muslim tak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS-Israel, dengan alasan menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang semakin luas. Mirisnya, mereka ikut bergabung dalam BoP karena faktanya genosida di Gaza tidak bisa dihentikan hanya dengan duduk bersama para penguasa dunia di satu meja, apalagi jika gagasan ini tercetus dari sekutu utama Zionis.
Terlepas dari dukungan mereka atas narasi solusi dua negara yang sebenarnya bermasalah dan tak kunjung usai, sikap penolakan ormas dan tokoh Islam sudah benar. Keterlibatan para penguasa muslim dalam rancangan solusi dua negara adalah suatu bentuk kemungkaran dan kezaliman yang sangat besar. Yang seharusnya mereka jadi garda terdepan dalam amar makruf nahi mungkar, muhasabah lil hukkam dengan apa pun risikonya.
Di tengah kesadaran umat dan perhatiannya hampir di seluruh dunia terhadap penjajahan di Palestina, khususnya di Gaza, harus dipatahkan oleh para penguasa muslim, termasuk Indonesia, yang bergandengan tangan dengan biang kerok penjajah dan sekutu utama penjajah.
Seharusnya, ulama dan tokoh umat mempunyai peran krusial dalam penjagaan syariat sekaligus sebagai pemberi nasihat. Bagaimanapun, peran ulama dan tokoh umat, terkhusus di Indonesia adalah orang-orang yang mempunyai wawasan tinggi dan berilmu dibandingkan dengan kebanyakan umat. Mereka ibarat bintang dalam kehidupan yang menavigasi umat menuju arah hidup sesuai syariat. Mereka yang diamanahi ilmu dan wawasan janganlah bersikap lemah di hadapan penguasa, apalagi jadi bagian stempel kezaliman yang nyata.
Sikap umat harus tegas; tidak ada toleransi terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS-Israel. Kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan sangat dibutuhkan untuk melawan hegemoni penjajah kafir. Memahamkan umat dan penguasa muslim untuk melakukan jihad serta mendorong penyatuan negeri-negeri muslim di bawah naungan sistem Islam berasaskan hukum Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.
Sungguh miris dengan kondisi umat saat ini yang jauh dari kata ideal karena tidak diterapkannya hukum-hukum Allah. Di tengah mereka terjadi kemungkaran yang besar, memisahkan agama dari kehidupan dan mengambil sebagian hanya karena ada manfaat di sana. Umat Islam benar-benar kehilangan semangat untuk bangkit dari keterpurukan.
Dulu, Islam berada dalam masa digdayanya selama 13 abad dengan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Apakah sudah tidak ada kerinduan akan masa peradaban itu, hidup dalam naungan sistem Islam?
Jadikanlah kerinduan ini modal untuk bangkit berjuang bersama mewujudkan kembali sistem Islam dalam kehidupan. Mewujudkan tatanan politik yang manusiawi sehingga tidak ada lagi penjajahan di muka bumi ini dan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahualam bi shawab.
***
Judul: Sandiwara Gencatan Senjata dan Perdamaian ala Israel-Amerika Serikat
Penulis: Yuli Yana Nurhasanah
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang penulis

Yuli Yana Nurhasanah atau akrab dipanggil Yuli ini lahir di Ciamis, pada 8 Juli 1984. Menulis Opini Islam menjadi kegiatan kesehariannya beberapa bulan belakang ini. Semua ini berawal dari keprihatinannya terhadap realitas kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat saat ini.
Menulis opini dengan sudut pandang Islam mencoba menyuarakan pemikiran dan isi hati, mencoba membuka pemikiran, dan pemahaman umat melalui tulisan.
Wanita yang suka berpikir ini mulai menulis saat ia bergabung dengan Komunitas Menulis “Muslimah Peduli Umat”. Beberapa tulisan Yuli tentang berbagai topik sudah dimuat di media online. Ia juga aktif di media sosial Facebook dengan akun Yuli Yana Nurhasanah.
***