Program PRISMA 3.0 Mahasiswa Poltek SCI Mempelajari Penguatan Sistem Jalur Pendakian Trisakti View Sadarehe dengan Pelayanan Terbaik

Berita Jabar News (BJN), Kolom Artikel/Opini, Kamis (08/01/2026) – Artikel berjudul “Program PRISMA 3.0 Mahasiswa Poltek SCI Mempelajari Penguatan Sistem Jalur Pendakian Trisakti View Sadarehe dengan Pelayanan Terbaik” adalah karya Naya Inayah Zulfa dkk. yang kini berstatus sebagai mahasiswa Politeknik Siber Cerdika Internasional (Poltek SCI) Cirebon.

PRISMA 3.0 ini merupakan salah satu program bentuk penerapan pembelajaran berbasis pengalaman lapangan yang dilaksanakan oleh mahasiswa Politeknik Siber Cerdika Internasional (Poltek SCI) Cirebon. Melalui program ini mahasiswa juga tidak hanya mempelajari aspek akademik, tetapi juga bisa melihat bagaimana proses  pengelolaan potensi wisata alam berbasis masyarakat.

Salah satu lokasi yang ditempuh oleh mahasiswa poltek SCI ini adalah Jalur Pendakian Trisakti Sadarehe yang terletak di Kebon Raja, Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.  Jalur pendakian ini terkenal sebagai salah satu  jalur yang aman karena pengelola telah menyediakan berbagai fasilitas dan sistem keamanan yang yang tertata.

Para mahasiswa Poltek SCI Cirebon saat berada di Pos Registrasi Jalur Pendakian Trisakti View Sadarehe - (Sumber: Naya)
Para mahasiswa Poltek SCI Cirebon saat berada di Pos Registrasi Jalur Pendakian Trisakti View Sadarehe – (Sumber: Naya)

Di basecamp juga tersedia homestay dengan tarif sebesar Rp 25. 000 per malam sehingga pendaki yang datang dari jauh dapat beristirahat terlebih dahulu serta bisa membersihkan diri sebelum mulai pendakian. Untuk kendaraan bermotor dan kendaraan lainnya dititipkan di basecamp. Kemudian pendaki diantar menggunakan mobil bak sekitar 4-5 menit menuju titik awal pendakian.

Untuk menjaga keselamatan, pengelola tidak menerima pemeriksaan kesehatan dari luar, hanya menerima pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di basecamp. Hal ini dilakukan karena pengelola sudah menyediakan sistem layanan kesehatan sendiri. Dengan adanya pemeriksaan di basecamp, kondisi fisik pendaki bisa dipantau secara langsung sehingga dapat mencegah risiko terjadinya kondisi  tubuh yang tiba tiba menurun atau pendaki  yang mendadak mengalami drop saat pendakian.

Setelah itu, pengelola akan memastikan seluruh pendaki siap berangkat dan petugas yang melakukan pengecekan akan berangkat paling akhir guna memastikan tidak ada pendaki yang tertinggal atau yang mengalami kendala.

Selama pendakian, pendaki akan didampingi oleh pendamping hingga mencapai puncak. Pendamping tidak hanya dilakukan saat naik, tetapi juga saat turun untuk memastikan seluruh pendaki kembali dengan aman dan lengkap.

Poltek SCI Cirebon
Kegiatan wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa Poltek SCI Cirebon di lapangan – (Sumber: Naya)

Jalur Pendakian Trisakti Sadarehe resmi dibuka pada 25 Agustus 2022 dan beroperasi hingga saat ini. Pembukaan jalur pendakian ini didasari oleh kekhawatiran masyarakat terhadap keselamatan pendaki yang melalui jalur tidak resmi. Oleh karena itu masyarakat Desa Payung mengajukan permohonan pembukaan jalur resmi dengan sistem kemitraan bersama Taman Nasional Gunung Ciremai.

Selain aspek keselamatan, jalur ini bertujuan untuk memberikan pelayanan terbaik dan terkontrol bagi pendaki, membuka peluang kerja dan sumber pendapatan masyarakat, mengembangkan unit usaha koperasi desa, dan mendorong promosi wisata alam lokal secara berkelanjutan.

Kegiatan wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa Poltek SCI Cirebon di lapangan - (Sumber: Naya)
Kegiatan wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa Poltek SCI Cirebon di lapangan – (Sumber: Naya)

Nama trisakti sendiri di ambil dari awalnya melalui banyak percobaan dan adanya uji coba kegiatan ekspedisi dan diuji juga dengan sumber daya manusia (SDM) dan kelayakan jalurnya. Alhamdulillah kami di perbolehkan membuka jalur pendakian dengan sistem kemitraan taman nasional dan akhirnya kami memakai nama tersebut.

Menurut warga, kata “sadarehe”-nya sendiri sekitar mitos nya adalah apapun kegiatan nya kalau bertempat di sadarehe hanya rame di awal da akhirnya akan sepi tapi kami hanya menganggap rumor itu mitos”. Ujar bapak kadus setempat.

“Sadarehe-nya sendiri adalah menurut warga sekitar mitosnya adalah apapun kegiatannya kalau bertempat di sadarehe hanya rame di awal dan akhirnya akan sepi, tapi kami hanya menganggap rumor itu mitos,” ujar bapak kadus setempat.

Jalur Pendakian Trisakti ini memiliki delapan pos pendakian. Pendaki diperbolehkan mendirikan tenda di pos enam dan pos delaman. Namun di pos lain juga diperbolehkan dengan syarat sepengetahuan dan izin ranger.

Jam operasional umumnya satu hari dua malam. Kami memulai di start 1296 mdpl. Untuk biaya pendakian Simaksi negara Rp 50.000. Registrasi jalur Rp 90.000. Transportasi mobil pick up  Rp 60.000. Total keseluruhan Rp 210.000.

Selain itu, tersedia peminjaman barang pendakian dan kebutuhan logistik yang menjadi sumber tambahan pendapatan bagi masyarakat setempat. Dalam aktivitas pendakian ini juga terdapat peran Porter. Salah satu Porter yang terlibat dalam pendakian ini adalah khairuman.

Pekerjaan porter termasuk pekerjaan berisiko dan ekstrem karena menjual jasa tenaga untuk membawa barang pendaki dari awal hingga kembali turun. Beban maksimal yang bisa dibawa Porter adalah 25 kg. Jika melebihi batas tersebut maka akan dikenakan biaya tambahan.

“Tantangan dalam pekerjaan Porter ini itu menghadapi pendaki yang sulit diarahkan, perbedaan usia pendaki, serta kondisi fisik yang semakin menurun seiring bertambahnya usia porter,” ujar Khairuman, selaku salah satu anggota Porter, “Kelebihan jalur pendakian ini adalah pemandangannya indah yaitu ada padang savana dan yang luas dan ada padang edelweis yang masih alami,” tambah pengelola jalur pendakian tersebut.

Poltek SCI Cirebon
Foto bersama para mahasiswa Poltek SCI yang melaksanakan Pembelajaran Mengenai Pengelolaan Wisata Pendakian di bawah bimbingan dosen Bapak Bagaskara Nur Rochmansyah, M. Pd. – (Sumber: Naya)

Melalui program PRISMA 3.0, mahasiswa Poltek SCI memperoleh pembelajaran langsung mengenai pengelolaan wisata pendakian yang berbasis pelayanan, keselamatan, dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini dibawah bimbingan dosen, Bapak Bagaskara Nur Rochmansyah, M. Pd.

Juga melibatkan mahasiswa yang terdiri dari Anggota: Wilda Fathul Hidayati, Pipih Rahmawati, Ulya Himmatul Aliya, Anis Shofwatun Nisa, Farhan Maftahul Fuad, Muhamad Farid, Naya Inayah Zulfa, Ainisyafa Delianda, Muhammad Faza,Chilyah Rihab, Bandan Niji Naufal, Dika Andika, Rizki Ramadani, dan Muhammad Ridwan Firdaus.

Jalur pendakian trisakti sadarehe menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi masyarakat desa, koperasi, dan institusi pendidikan mampu menciptakan jalur pendakian yang aman, berdaya saing, serta memberikan manfaatekonomi dan sosial bagi masyarakat desa Payung. (Naya).

***

Judul: Program PRISMA 3.0 Mahasiswa Poltek SCI Mempelajari Penguatan Sistem Jalur Pendakian Trisakti View Sadarehe dengan Pelayanan Terbaik
Kontributor: Naya Inayah Zulfa dkk.
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *