Beranda / Sastra / Membaca Citra

Membaca Citra

Citra Nilaresna Dewi

BERITA JABAR NEWS (BJN)Kolom OPINI – Artikel “Membaca Citra” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Membaca Citra, terus berjalan, puisi ini telah terbit dalam buku “Terus Berjalan, Satu Kata Demi Satu Kata” yang diterbitkan oleh CV Balatin (2025) dengan editor Didin Tulus. Memasuki bait-bait yang dituliskan Citra Nilaresna Dewi adalah seperti melangkah ke dalam sebuah ruang hening di tengah riuhnya ambisi duniawi. Sebagai seorang yang akrab dengan dinamika manajemen dan akselerasi digital marketing, Citra justru memilih jalan kontemplatif untuk membedah makna “gerak” dalam puisinya.

Dialektika Langkah dan Kejujuran

Puisi ini dibuka dengan sebuah antitesis yang menarik: bahwa kejujuran tertinggi seringkali tidak ditemukan dalam artikulasi verbal, melainkan dalam kinetika tubuh. Citra menulis, “terkadang, jawaban/paling jujur/tak lahir dari kata.” Di sini, ia seolah menggugat kecenderungan manusia modern yang sering terjebak dalam labirin retorika dan rasionilasi. Baginya, kebenaran justru “terkuak di antara langkah yang terburu-buru.” Ada kejujuran yang mentah saat manusia bergerak—sebuah dorongan instingtif yang lebih murni dari ribuan kalimat yang disusun dengan penuh pertimbangan.

Terus Berjalan
Cover Buku “Terus Berjalan” karya Citra Nilaresna Dewi – (Sumber: Didin Tulus)

Keberanian di Persimpangan Sunyi

Pada umpan kedua, kita dihadapkan pada sebuah metafora ruang: persimpangan tanpa petunjuk . Ini adalah representasi dari titik-titik krusial dalam hidup—mungkin saat Citra dikeluarkan dari korporasi ke jalur kewirausahaan, atau saat ia melintasi batas benua untuk studinya. Citra menegaskan bahwa melanjutkan perjalanan bukan selalu tentang memiliki peta yang sempurna atau kepastian akan tujuan.

“kaki memilih untuk/terus melangkah, /bukan karena tahu/arah, /tapi karena berhenti/artinya menyerah pada/keraguan.”

Larikan ini adalah jantung dari puisi ini. Citra mendefinisikan keberanian bukan sebagai ketiadaan rasa takut atau penguasaan penuh atas masa depan, melainkan sebagai penolakan untuk dikalahkan oleh stagnasi. Berhenti, dalam kamus puitis Citra, adalah kekalahan telak di hadapan keraguan.

Romantisisme Ketabahan

Citra membawa pembaca pada suasana yang lebih melankolis namun kuat melalui citraan “jejak hujan di kaca jendela.” Hujan seringkali dianggap sebagai simbol kesedihan, tetapi di tangan Citra, ia menjadi “setitik gelombang yang membangkitkan semangat untuk bertahan.” Ada semacam romantisisme dalam ketabahan. Di tengah malam yang “tak bertepi”—sebuah metafora untuk masa-masa sulit yang seolah tanpa ujung—hadirnya unsur alam ini menjadi pengingat akan eksistensi diri yang masih berdenyut.

Puncaknya, pada bait terakhir, terjadi personifikasi udara yang berbisik. Pesan yang disampaikan sangat eksistensial: “berjalanlah.kisah ini belum selesai.” Kalimat ini bukan sekadar motivasi murahan, melainkan sebuah pengakuan bahwa setiap langkah, sekecil atau seberat apa pun, adalah bagian dari narasi yang layak untuk diperjuangkan.

Kesimpulan: Puisi sebagai Kompas Internal

Secara keseluruhan, puisi “Terus Berjalan” mencerminkan perjalanan intelektual dan spiritual seorang Citra Nilaresna Dewi. Latar belakang yang kuat di dunia bisnis tidak menjadikannya pribadi yang kaku; sebaliknya, ia menggunakan kepekaan sastranya untuk memanusiakan proses “berusaha” itu sendiri. Puisi ini adalah sebuah ajakan untuk menikmati pemandangan dengan kepala tegak.

Didin Tulus, sebagai editor, tampak berhasil menjaga kemurnian suara Citra yang sederhana. Namun tajam. Buku ini, melalui puisi pembukanya, menjanjikan sebuah perjalanan literasi yang  menenangkan bagi siapa saja yang tengah merasa lelah di persimpangan jalan hidup. Citra mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang keberanian untuk tetap menapakan kaki meski arah belum sepenuhnya tampak di cakrawala.

***

Judul: Membaca Citra
Penulis: Didin Kamayana Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *