Ketika Luka Diizinkan Bercerita

BERITA JABAR (BJN), Rubrik Cerpen, Kamis (019/03/2026) – Cerpen berjudul “Ketika Luka Diizinkan Bercerita” ini adalah sebuah cerpen karya Febri Satria Yazid, seorang penulis dan pemerhati sosial, tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Haidah tersenyum, senyum yang lahir bukan dari kepura-puraan, melainkan dari jiwa yang telah berdamai. Ia memeluk Hareguna, lelaki yang satu setengah tahun lalu memilihnya bukan karena masa lalunya yang sempurna, melainkan karena keberaniannya untuk bangkit.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Haidah merasa benar-benar diizinkan untuk bercerita. Bukan sekadar mengulang luka, tetapi menatapnya tanpa gentar, seperti menatap bekas luka yang telah kering, tanpa lagi ada rasa perih.

Waktu yang tidak sebentar untuk bertahan dalam pernikahan yang perlahan mengikis harga diri. Bersama Primoko, ia pernah percaya bahwa sabar adalah satu-satunya jalan menuju surga. Ia menelan nasihat, petuah, bahkan dogma, tanpa sempat bertanya: apakah semua itu masih memanusiakan dirinya?

Namun waktu, diam-diam, mengajarkan hal lain. Bahwa kesabaran yang membiarkan diri disakiti bukanlah kemuliaan, melainkan penyangkalan terhadap luka.

Kini, di ruang depan rumah sederhana mereka, Haidah dan Hareguna duduk bersisian. Secangkir teh hangat dan sepiring gorengan kentang menemani. Udara malam yang dingin terasa jinak dalam kehangatan percakapan mereka.

“Aku ingin menuliskan semuanya,” ucap Haidah pelan, memecah jeda. “Tentang luka itu… tentang perjalanan pulihku.” Hareguna menatapnya, dalam dan tenang  “Apakah kamu sudah benar-benar siap?” tanyanya lembut.

Haidah mengangguk. “Aku tidak lagi berdarah, Gun. Luka itu sudah menjadi cerita, bukan lagi jerat. Aku ingin perempuan lain tahu bahwa mereka tidak harus terus bertahan dalam sakit yang mereka tahu tidak sehat.”

Ia berhenti sejenak, menahan getar yang kini bukan lagi luka, melainkan empati. “Untuk mereka yang diam-diam menangis. Yang merasa ada yang salah, tapi takut melangkah. Aku ingin mereka tahu… pergi juga bisa menjadi bentuk keberanian, bukan kegagalan.”

Hareguna tersenyum. Ada bangga yang tidak berisik di matanya. “Aku mendukungmu,” katanya mantap. “Selama kamu tidak lagi tenggelam saat mengingatnya. Selama cerita itu menjadi cahaya, bukan bayangan.”

Haidah menatap lelaki di hadapannya. Ia tahu, dukungan ini bukan sekadar izin, tetapi bentuk cinta yang sehat: memberi ruang, tanpa memaksa lupa.

Sebelum mereka menikah, Hareguna telah mendengar seluruh kisah itu. Tanpa potongan, tanpa hiasan. “Tidak takut dia menjauh?” tanya kakaknya dulu, khawatir. Haidah hanya tersenyum waktu itu. “Kalau dia pergi setelah tahu yang sebenarnya, berarti memang bukan dia orangnya. Lebih baik kehilangan sebelum memulai, daripada hancur di tengah jalan.”

Dan ternyata, Hareguna tetap tinggal. Bukan karena ia mengabaikan masa lalu itu, tetapi karena ia memahami: Haidah bukan luka itu. Ia adalah seseorang yang berhasil keluar darinya. “Orang yang menyakitimu dulu,” kata Hareguna suatu kali, “bukan kuat. Ia hanya takut kehilangan, tapi memilih cara yang salah, menguasai, bukan mencintai.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk meruntuhkan sisa-sisa keraguan yang pernah bersarang di hati Haidah.

Malam semakin larut. Percakapan mereka mereda, berganti dengan keheningan yang tidak lagi canggung. Di dalam hati, Haidah menyusun kembali fragmen-fragmen hidupnya, bukan untuk dikenang dengan air mata, tetapi untuk dituliskan sebagai pelita.

Ia ingin menulis tentang sabar yang keliru, tentang bagaimana ia pernah mengira bertahan adalah satu-satunya pilihan, seperti seseorang yang salah naik kereta namun enggan turun, berharap kereta itu suatu saat akan mengantarkannya ke tujuan yang benar.

Ia ingin menulis tentang mati rasa, tentang bagaimana hati bisa berhenti merasa demi bertahan. Tentang manipulasi yang tak kasatmata, tentang batas yang harus ditegakkan. Tentang keberanian untuk pergi dan keberanian yang lebih hening dan  bertahan setelah pergi, ketika rasa lega, takut, dan bersalah datang silih berganti.

Dan pada akhirnya, ia ingin menuliskan satu hal yang dulu tidak pernah ia pahami bahwa hidup adalah tanggung jawab diri sendiri. Bahwa memilih bertahan atau pergi, keduanya adalah keputusan, tetapi hanya satu yang membawa kita kembali kepada diri sendiri.

Mereka beranjak ke peraduan, di samping Haidah, Hareguna terlelap dalam damai yang sama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, masa lalu tidak lagi mengetuk sebagai ancaman. Ia hanya hadir sebagai cerita yang akhirnya, diizinkan suaminya untuk diceritakan melalui buku yang siap dibaca oleh semua lapisan masyarakat.

Penulis : Febri Satria Yazid

Editor : Tiyut