BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Rabu (10/12/2025) – Artikel berjudul “Ideologi Sekulerisme Penyebab Bullying” merupakan karya tulis Ummu Fahhala, S. Pd., seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi yang tinggal di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Pagi itu, langit Bandung tampak biasa saja. Angin menyapu halaman sekolah dengan lembut, seolah tidak ada pergolakan yang bersembunyi di balik dinding-dinding kelas yang tampak tenang. Namun di sebuah koridor, saya melihat seorang anak duduk menunduk. Namanya Ardi, kelas sebelas. Bajunya rapi, tetapi sorot matanya pudar.
“Saya nggak mau masuk kelas Bu,” kata Ardi lirih.
“Kenapa, Ardi?” Tanya saya hati-hati.
Ardi terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Teman-teman sering bilang saya bodoh. Mereka suka ngejek. Saya capek, Bu.”

Kalimat itu seperti tamparan sunyi. Saya menyadari bahwa banyak luka tidak pernah terlihat, tetapi sangat nyata. Luka itu tumbuh diam-diam, menggerogoti kepercayaan diri, menjerat masa depan, dan kadang menyisakan bekas seumur hidup.
Tak lama kemudian, saya mendapat kabar tentang langkah baru pemerintah daerah bahwa Polda Jabar membentuk Satgas Khusus untuk mencegah perekrutan terorisme dan bullying di lingkungan sekolah.
Dalam waktu bersamaan, Pemuda Panca Marga Jawa Barat menyuarakan pentingnya memasukkan nilai patriotisme dan nasionalisme dalam pendidikan sebagai benteng ideologis pelajar di tengah disrupsi digital.
“Bu, apa semua ini bisa berhenti?” Tanya Ardi, masih menunduk.
Pertanyaan itu menggema lama dalam dada saya.
Menyibak Akar: Mengapa Luka Itu Tak Pernah Sembuh?
Saya duduk di kursi kayu dekat koridor itu dan menatap Ardi lama. Dalam hati, saya bertanya: Mengapa kita berkali-kali gagal menghentikan kekerasan di sekolah?
Saya menghela napas panjang. Ya, akar masalah tidak pernah sederhana. Ia menjalar dari rumah, lingkungan, ruang digital, hingga sistem pendidikan yang kerap lebih sibuk mengejar angka daripada membentuk akhlak.
“Ardi,” kata saya pelan, “Bullying itu bukan salah kamu. Itu tanda bahwa ada nilai yang hilang dari lingkungan kita.”
Luka Sebuah Generasi: Ketika Nilai Moral Menjauh
Di banyak tempat, saya melihat fenomena yang sama, bahwa generasi yang tumbuh tanpa arah nilai yang jelas. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan membuat banyak anak tumbuh tanpa kompas moral yang kuat. Liberalisme yang memuja kebebasan tanpa batas membuat sebagian remaja menilai ejekan sebagai “biasa saja”.
“Bu, mereka bilang itu cuma bercanda,” kata Ardi, memaksakan senyum.
Saya menatapnya, “Tidak, Ardi. Itu bukan candaan. Itu luka.”
Remaja hidup dalam arus deras informasi. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang kita nasihatkan. Ketika internet menjadi ruang tanpa pagar, perilaku pun mudah melenceng dari adab dan moral.
Di titik itu, saya tersentak oleh ayat Allah Swt., “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Ayat itu menegaskan bahwa setiap tindakan membutuhkan landasan nilai. Bukan sekadar ikut arus. Bukan sekadar mengulang trend. Nilai moral bukan kurikulum tambahan; itu pilar masa depan bangsa.
Sekolah, Keluarga, Negara: Kita Sedang Menggenggam Bara yang Sama
Saya memanggil guru BK dan wali kelas Ardi. Kami berbicara cukup lama.
“Bu, kasus begini bukan satu-dua,” kata guru BK itu. “Saya kadang kewalahan.”
Saya mengangguk. Guru bukan malaikat. Orang tua bukan robot. Masyarakat pun punya keterbatasan. Namun semuanya mengangkat beban yang sama, yaitu membentuk manusia. Islam sudah lama mengingatkan hal ini.
Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829). Artinya, keluarga, sekolah, dan negara memiliki peran saling melengkapi. Tanpa harmoni tiga pilar itu, pendidikan karakter tidak akan tumbuh kuat.
Jalan Pulang: Ketika Islam Mengajarkan Pembinaan, Bukan Sekadar Penindakan
Sore itu, saya mengajak Ardi duduk di taman kecil belakang sekolah.
“Ardi, kamu tahu tidak,” saya membuka percakapan, “Saat Abu Dzar pernah menyinggung Bilal dengan kata-kata menyakitkan, Rasulullah saw. menegurnya tegas.”
Saya mengutip hadis, “Engkau adalah seseorang yang masih ada sifat jahiliah.” (H.R. Bukhari no. 30).
“Lalu apa Abu Dzar marah, Bu?” Tanya Ardi.
“Tidak,” jawab saya. “Beliau menangis, menyesal, dan meminta maaf dengan meletakkan pipinya di tanah agar Bilal memaafkannya.”
Ardi menatap saya, matanya mulai berbinar, “Terus, Bilal maafin, Bu?”
“Tentu. Karena Islam mengajarkan kita untuk memperbaiki diri, bukan menyakiti,” jawab saya menjelaskan.
Saya melanjutkan, “Dalam Islam, anak bukan objek hukuman. Mereka objek pembinaan. Negara, masyarakat, dan keluarga wajib mendidik mereka dengan nilai moral dan akhlak.”
Karena itu, saya menjelaskan kepadanya bahwa solusi jangka panjang bukan hanya satgas, bukan hanya regulasi, bukan hanya patroli internet, tetapi sistem pendidikan yang menanamkan identitas khairu ummah, generasi terbaik yang mengenal Tuhannya, berakhlak mulia, dan menghormati manusia.
Penutup: Masa Depan Itu Sedang Menunggu Perbaikan Kita
Saat matahari turun, Ardi berdiri dan berkata dengan suara yang lebih tegas:
“Bu, saya mau coba masuk kelas lagi, tapi bisakah Ibu temani saya?”
Saya tersenyum, “Tentu, Ardi. Kita hadapi bersama.”
Di koridor sekolah itu, saya melihat sesuatu yang lebih berharga dari sekadar program, kurikulum, atau kebijakan. Saya melihat harapan. Harapan bahwa luka bisa sembuh bahwa generasi ini bisa bangkit dan bahwa masa depan bangsa masih mungkin menjadi terang.
Semua itu bisa jika kita bersepakat memperbaiki dua hal, yaitu sistem nilai dan sistem pendidikan. Generasi tidak hanya dibentuk oleh tangan kita, tetapi juga oleh nilai yang kita tanamkan dalam hati mereka. Bila nilai itu kuat, maka mereka akan kuat. Bila nilai itu rapuh, maka mereka akan tumbang.
Pada akhirnya, kita semua, orang tua, guru, masyarakat, negara, sedang menggenggam bara yang sama, untuk menjaga masa depan anak-anak kita agar tidak padam oleh kekerasan, kebencian, dan ideologi yang menyesatkan. Semoga kita mampu menjaga amanah itu. (Ummu Fahhala).
***
Judul: Ideologi Sekulerisme Penyebab Bullying
Penulis: Ummu Fahhala, S. Pd., Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi
Editor: JHK










