BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA, Selasa (17/03/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Sabarudin Ingin Meniru Negeri Gurun” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Lemparan bungkus biskuit sebesar kepalan tangan orang dewasa itu tepat mengenai kepala Sabar, “cetharrrr.” Seketika kerumunan orang yang semula riuh, terdiam, kicep, seperti jangkrik terinjak sepatu Hansip. Semua setengah cemas, menunggu reaksi Sabar.
Sabar tentu saja kaget, lalu secara reflek memegang kepalanya. Dielusnya kepalanya sendiri, ternyata tidak ada yang benjol, tidak ada luka dan tidak ada darah mengalir. Sabar hanya kaget karena tidak ada sedikitpun rasa sakit.

Sabar menengok ke arah asal datangnya lemparan biskuit. Dilihatnya seorang Porter hotel menangkupkan kedua telapak tangan di dada sambil berulang-ulang mengangguk minta maaf.
“Afwan (maaf)…, afwan hajj…” kata si Porter.
Tangan kanan Sabar melambai memberi isyarat, “Tidak apa-apa, afwan.”
Tidak seperti biasanya, kali ini Sabar ─ lelaki sedikit di bawah 40 tahun, cukup sabar, tidak pecicilan dan tidak marah-marah. Orang-orang lega tidak terjadi keributan.
Istri Sabar juga heran, kok bisa suaminya sesabar itu, padahal dini hari itu mereka baru tiba di Mekah untuk ibadah Umroh. Perjalanan panjang baru saja mereka selesaikan. Sepuluh jam di udara ditambah tiga jam di darat dari Jedah ke Mekah. Itu pasti menguras tenaga dan pikiran, apalagi pada bulan Ramadan.
Sesampai di hotel pun mereka berdesakan di depan lift ingin segera naik dan masuk kamar. Mereka ingin secepatnya bersih-bersih badan dan istirahat. Di sisi lain, para Porter juga ingin segera menyelesaikan tugas,menaikkan koper-koper itu ke kamar para tamu hotel.
Para Porter terus sibuk dan kompak bekerja sambil curi-curi kesempatan makan sahur. Caranya dengan melempar makan saur, ada roti, botol minuman dan biskuit dari satu Porter ke kawan-kawannya.
Mereka berteriak satu ke yang lain, “ Yarmi (lempar)…, yarmi…”
Porter lain berteriak, “Alqā (lempar)…, alqā…”.
Porter yang melempar berteriak, “Amsakaaa (tangkap)…”
Kerumunan dan tumpukan koper di loby hanya manyisakan sedikit ruang gerak maka melempar makanan sahur adalah cara paling cepat. Celakanya, satu bungkus biskuit salah lempar dan menyasar kepala Sabar.
Biasanya Sabar langsung membalas. Istri Sabar pun mengira suaminya akan melempar kembali biskuit itu ke si pelempar. Entah kenapa kali ini tidak. Mungkin Sabar memahami situasinya sangat darurat atau mungkin karena dia tidak merasakan sakit sama sekali di kepalanya. Atau mungkin saja Sabar menganggap lemparan yang tidak menimbulkan rasa sakit itu adalah teguran dari “atas” agar dia berhenti ngedumel.
Hari itu sepanjang perjalanan Sabar memang berulang-ulang ngedumel. Ada saja penyebabnya. Dari urusan pemberangkatan yang bertele-tele hingga pengumuman waktu berbuka puasa di udara yang tidak jelas dan dini hari itu ngedumel soal antri masuk kamar hotel.
Setiap kali Sabar ngedumel, istrinya ngomong, “Coba tenang sebentar saja Pak, tidak ada gunanya ngedumel, malah repot sendiri, ingat kita sedang puasa.”
Sabar menyahut, “Kita dan orang-orang itu juga lagi puasa, jangan dipermainkan dong, untung aku cuma ngedumel, kalau keterlaluan bisa aku tendang itu kursi”
“Sabar sedikit Pak, rusak puasa kita nanti,” kata istri Sabar.
“Ah kamu tuh gak ngerti, kita sudah bayar mahal, masakan pelayanannya cuma begini, lalu disuruh sabar, bisa aja …” kata Sabar.
Istrinya menjawab, ”Bapak ini bagaimana sih? Namanya Sabarudin dipanggil pak Sabar, tapi mana sabarnya? Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit tersinggung terus ngamuk-ngamuk.”
“Okey, aku akan coba sabar,” timpal Sabar.
Istri Sabar lalu mengingatkan pesan sesepuh di kampung saat mereka pamit, “Ingat pesan Pak Ahmad kan? Katanya, kuncinya hanya satu, yaitu sabar. Dalam beribadah ada saja kendalanya maka bersabarlah.”
“Iya sudah, aku kan sudah ngomong aku akan coba,” kata Sabar dengan nada tidak sabar. Kalau sudah begini, istrinya memilih diam.
Sabar sebenarnya paham, orang yang tidak sabaran itu juga merasa tidak nyaman. Tidak sabar itu, menurut Sabar rasanya tidak nyaman dan akan mengundang ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang lain.
Sabar sering merasa tidak nyaman menyandang nama“Sabar”. Dari kecil dia sudah bertanya-tanya, kenapa diberi nama Sabar. Gara-gara namanya Sabar, kawan-kawan menganggapnya bisa selalu berperilaku sabar. Namun, nyatanya dia tidak sesabar yang mereka pikir, sampai-sampai teman bermainnya dulu memanggilnya Rabas.
Sabar protes, “Hai kenapa kalian panggil aku Rabas?”
“Ha …ha….ha, Rabas itu kebalikan dari Sabar, itu watak asli kamu, suka marah, ngambek, mukul,” kata salah satu kawan.
Seketika itu Sabar, tampak sedih, lalu lari pulang mencari Emaknya untuk mengadu. Sampai di rumah langsung saja dia nyerocos, “Mak, kenapa namaku Sabarudin siiih?”
“Loh, itu kan nama yang bagus Nak,” kata Emak.
“Iya, tapi teman-teman bilang aku gak sabaran, lalu mereka memanggilku Rabas. Malu aku. Ganti saja namaku, bisa kan Mak?” Pinta Sabar.
“Emang mau diganti apa? Johny, Robert, Kenzi, apa Kempot?” Jawab Emak, dilanjut, “Untuk apa juga pakai nama-nama dari langit seperti itu, tidak membumi.”
“Hehehe…, misalnya Mak, ditambah nama depan ‘Kadang’, sehingga namaku menjadi ‘Kadang Sabarudin’, gitu. Kalau kadang-kadang tidak sabar teman-teman jadi maklum,” kata Sabar.
“Boleh juga tuh Apah, ganti nama,” kata Emak nengok ke suaminya.
Jawab si Apah, “Boleh saja ganti nama, minta ijin dulu sama yang memberimu nama.”
“Emang siapa yang ngasih nama?” Tanya Sabar
“Kakekmu,” jawab Apahnya Sabar.
“Huufff…(kakek sudah lama meninggal),” Sabar mendesis.
Sabar lalu membanting pantatnya di kursi, tampak kecewa. Emaknya datang membelai kepalanya penuh rasa sayang. Sebentar kemudian Emak ngomong dengan bijak mencoba membesarkan hati anak laki-lakinya itu.
“Nak, yang harus diganti itu perilakumu, bukan namamu. Biar saja teman-teman manggil apa, kamu tetap Sabarudin anakku,” kata Emak.
“Iya, Mak insya Allah,” jawab Sabar.
Emak lalu mencium ubun-ubun anaknya penuh kasih. Semenjak itu Sabar tidak bosan untuk terus berusaha menjadi orang yang sabar. Mengurangi marah, tidak main pukul dan tidak ngomong kasar. Meski banyak orang menilainya belum cukup sabar untuk menyandang nama Sabar, dia tetap terus bersabar, dia sangat ingat pesan Emaknya.
Namun, Sabar seringkali gusar dengan pandangan orang tentang “sabar”. Menurut mereka, sabar itu tidak boleh ngotot, selalu mengalah, tidak mau menang sendiri dan seterusnya. Sabar tidak terlalu peduli omongan orang, yang penting mampu mengendalikan diri dan tidak mudah marah.
Lelaki yang memiliki warung kebutuhan pokok dan hasil bumi itu sebenarnya juga dikenal ramah dan suka membantu. Tempat usahanya juga laris dan ramai pelanggan. Dari usahanya itulah dia tahun ini bisa pergi Umroh.
Saat menjalankan ibadah Umroh inilah kemampuan mengendalikan diri kembali diuji. Ujian itu sudah dia alami ketika baru mulai mendaftar. Ada ragu, ada takut dan ada saja hambatan lain, tapi Sabar tidak rasakan sebagai ujian.
Sabar baru merasakan ujian di Tanah Suci saat memulai rangkaian ibadah Umroh. Ujian itu sangat berat ketika akan Tawaf, memutari Ka’bah tujuh kali. Begitu banyak orang yang melakukan Tawaf dan tampak tidak ada hentinya.
Sebelum menceburkan diri dalam arus ribuan manusia, Sabar wanti-wanti ke istrinya agar jangan lepas dari gandengannya. Lalu, bersama-sama mereka mengucapkan kalimat talbiyah, “Labbaikallahumma labbaik, labbaikalaa syarika laka labbaik.”
“Jangan sampai lepas ya Bu,.” kata Sabar dengan nada khawatir.
Istri Sabar menjawab mantap, “Siap, insya Allah Pak.”
Ketika sedikit saja pegangan istrinya mengendor, Sabar berteriak, “Bu, jangan sampai lepas.”
“Ya Pak, ayo berdoa sajaaa,” kata istrinya Sabar mengingatkan.
Sabar dan istri kompak melangitkan doa-doa yang sudah mereka siapkan sejak di tanah air. Sesekali doa terhenti karena berdesakan dengan jemaah lain yang rata-rata berbadan lebih besar dan kuat. Sabar merasa kecil dan hanya bisa berserah diri mengikuti gerakan arus manusia-manusia bertawaf.
Tawaf menjadi ujian kekuatan iman dan kesabaran.Sepanjang tujuh putaran suami istri ini tidak kuasa menahan air mata haru melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri. Dia menyaksikan dan semakin merasakan kebesaran Allah SWT.
Sabar merasakan sendiri betapa manusia di sekeliling Ka’bah tidak ada bedanya. Tua, muda, besar, kecil, kuli, boss, istri boss, tentara, pedagang, siapapun dia dan apapun atributnya, sama saja. Sebuah gambaran, dihadapan Allah yang diperhitungkan adalah ketakwaan, bukan pangkat, jabatan, dan harta.
Setelah itu hanya rasa sukur yang Sabar panjatkan dalam sujud-sujudnya. Hanya ampunan atas segala dosa yang mereka berdua mohonkan dalam setiap helaan nafasnya. Kalimat-kalimat toyibah membasahi bibir mereka.
Kekaguman Sabar bertambah ketika pada hari-hari berikutnya dia melihat bangunan perluasan Masjid yang konstruksinya sangat kokoh. Bangunannya seperti dirancang untuk bisa tetap kokoh berdiri dalam jangka yang amat panjang. Bukan hanya untuk beberapa tahun seperti bangunan kantor di depan rumahnya.
“Bu, kalau anak-cucu kita ke sini, insya Allah masih bisa menikmati kenyamanan beribadah di sini. Bahkan, mungkin lebih nyaman dari yang kita alami ini,” kataSabar.
“Bapak bercanda, lah menantu saja belum punya, sabar Pak,” jawab istri Sabar.
“He … he … he, iya … ya…, kita memohon segera dikirimi menantu ya,” Sahut Sabar.
Ketika tiba saatnya rombongan harus pindah ke Madinah, Sabar merasa berat hati meninggalkan Mekah, kota modern yang disesaki dengan gedung-gedung tinggi.
“Ya Allah ijinkan kami datang lagi,” kata Sabar pelan berdoa.
Meninggalkan kota Mekah menuju Madinah perlu waktu sekitar lima jam. Perjalanan di bawah sinar cerah matahari itu memberi pemandangan utuh hamparan bumi antara Mekah dan Madinah.
“Bu, jangan merem terus dong, coba lihat itu di kanan-kiri bus kita ini,” kata Sabar.
Istri Sabar mengusap-usap kedua matanya lalu melihat keluar. Dilihatnya sepanjang jalan, kiri dan kanan, hanya pegunungan dan perbukitan batu. Bersih dari hijau pepohonan hutan maupun kebun. Sesekali terlihat beberapa ekor Unta, tidak banyak.
“Waduh, batu-batu melulu Pak. Gak ada hijaunya sama sekali,” kata istri Sabar, “Pantesan disebut negeri gurun ya Pak.”
“Iya betul Bu, tapi negaranya makmur ya? Mobilnya bagus-bagus dan gedungnya tinggi-tinggi ya Bu?” Sabar tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
“Negeri ini kan kaya dengan tambang minyak Pak, jadi pantas kalau makmur,” kata istri Sabar.
“Betul juga Bu, tapi negeri kita juga banyak memiliki tambang kok, ada nikel, timah, batubara, bahkan emas juga punya Bu,” kata Sabar.
“Eh iya ya, lautnya juga luas ya Pak,” timpal istrinya Sabar.
“Iya, iya, iya,” sahut Sabar.
Suami istri itu kemudian termenung. Cukup lama mereka berdua diam termenung. Tampak dahi Sabar beberapa kali berkerut, pertanda berpikir amat dalam.
Renungan mereka terhenti ketika bus yang mereka tumpangi mulai memasuki kota Madinah. Kota ini tidak kalah indah dari Mekah. Di dalamnya ada Masjid Nabawi yang juga indah. Ada Makam Rasulullah, makam para Sahabat dan banyak musium sejarah Islam.
Rasa kagum Sabar terhadap negeri ini belum sampai pada ujungnya. Dia ternganga menyaksikan tanda-tanda kemakmuran di kota ini. Gedung-gedung tinggi, mobil-mobil bagus yang berseliweran, jalan-jalan mulus yang membelit kota serta fasilitas umum yang terjaga kebersihannya.
Di Madinah Sabar berusaha sebaik mungkin menyerap hikmah dari seluruh perjalanan Umrohnya. Oleh karena itu Sabar sering mengajak istrinya berdiskusi.
“Bu, lucu juga ya, di setiap pohon yang tumbuh di pinggir jalan ternyata di bawahnya ada selang air untuk menyiram setiap pagi dan petang,” ucap Sabar.
“Iya Pak, di kampung belum sempat disiram sudah hujan, alhamdulillah,” timpal istri Sabar.
“Tapi kita belum bisa hidup makmur ya Bu? Itu warung kita saja bisa bangkrut kalau tetangga yang pada hutang pada ngemplang,” kata Sabar.
Istri Sabar memotong, “Sstt, sudah Pak, doakan saja yang pada hutang diberi kemampuan membayar.”
“Ah iya, makasih Bu, sudah ngingetin,” balas Sabar.
“Iya Pak, berdoa saja agar warung kita lebih diberkati lagi,” kata istri Sabar.
Sabar dan istrinya ingin meniru negeri gurun. Walaupun tidak ada hutan, kebun, dan sungai, tapi negerinya makmur jibar-jibur. Negeri yang diberkahi.
Sabar kemudian berpikir tentang warungnya. Menurutnya, meski kecil jika dikelola dengan amanah tentu akan membawa berkah bagi sekitar dan bisa berkembang membesar, apalagi dikelola sendiri, jadi tidak ada gangguan korupsi.
Sabar sudah mengantongi doa agar tetap istikomah dan berperilaku amanah. Dia tularkan doa itu ke istrinya, katanya, “Bu, ini ada doa baik nih, doa agar kita bisa istiqomah, ya muqallibal qulub, thabbit qalbi ‘ala dinik.”
“Artinya apa Pak?” Tanya istrinya.
“Ini artinya Bu: ‘Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu,’” kata Sabar.
“Insya Allah Pak, Allahumma taqobal du’a,” jawa istri Sabar.
Ketika rangkain perjalanan Umroh selesai, dengan semangat ‘45, Sabar dan istri serta rombongan terbang pulang untuk berlebaran dan menebar kebaikan meraih berkah di Kampung Halaman masing-masing di Tanah Air.
Al Hayyat International, Madinah, 17 Maret 2026
***
Judul: Sabarudin Ingin Meniru Negeri Gurun
Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: Jumari Haryadi
Tentang Penulis/Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.
Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.
Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.
Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.
***