Cerpen “Daging yang Kujanjikan”
BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA – Cerpen berjudul “Daging yang Kujanjikan”merupakan karya original dari Neneng Salbiah yang sering menggunakan nama nama pena “Violet Senja”. Cerpen lainnya bisa Anda lihat di sini: “Anak Kopaja Sejati”, “Perempuan di Ujung Belati”, dan “Kupersembahkan Kenikmatan Terakhir untuk Bapak”.
Bau busuk menyeruak ke penciuman, berbaur dengan aroma basah air hujan yang turun sejak pagi tadi. Tempat pembuangan sampah terlihat sepi, hanya satu mobil truk sampah yang tampak sedang menurunkan muatannya.
Dari kejauhan nampak sepasang anak kecil yang sedang mengais tumpukan sampah dengan menggunakan ranting di tangan mungilnya. Mereka sedang mencari sesuatu dari limbah tersebut yang masih bisa dimanfaatkan.
“Kak… aku lapar,” ucap gadis kecil itu dengan suara yang sangat pelan.
“Sebentar lagi ya Dek, dikit lagi. Tunggu agak banyakan dikit,” ucap sang kakak sambil terus mengais botol dan gelas plastik pada tumpukan sampah di hadapannya.

Sesekali bocah perempuan berusia delapan tahun itu menoleh ke arah sang kakak yang terdengar menghela napas berat. Setahun sudah mereka bertahan hidup tanpa kedua orang tua. Enam bulan setelah kepergian sang ayah ke pangkuan Illahi Robbi, sang Ibu pun meyusul pergi untuk selama-lamanya.
Kedua orang tua mereka adalah korban dari tipu daya dan kebiadaban cukong-cukong berdasi di ibukota yang berkuasa di atas rakyat miskin. Kini mereka terpaksa tinggal di gubuk reyot di antara gundukan sampah, Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Senja masih menggantung di ufuk barat. Langkah kecil mereka begitu rapuh, tetapi tidak rubuh. Mereka membawa sekarung rongsokan pelastik, seraya membayangkan berapa rupiah uang yang akan dihasilkan hari ini.Tubuh dekil dan pakaian kumuh membalut tubuh mereka dari terpaan angin sore selepas hujan.
“Kak, Lapaaaar,” kembali Murni berucap lirih, sambil memegang perutnya.
Kali ini, rasa lapar telah mengalahkan rasa sabar gadis kecil itu. Air mata Murni jatuh berurai. Sorot matanya tidak lepas dari warung nasi yang mereka lewati.
“Sabar ya Dek, kakak pasti akan belikan nasi, setelah menjual ini. Nanti kita kembali lagi ke sini,” ujar Andi menenangkan adiknya.
Anak laki-laki perperawakan kurus itu merangkul dan mengajak sang adik kembali berjalan meski ia tahu persis betapa sakitnya rasa lapar itu.
“Dek, lihat kita sudah dekat. Ayo lebih cepat lagi,” ucap Andi seraya menggandeng tangan sang adik agar langkahnya sedikit lebih cepat menuju rumah pengepul sampah yang biasa mereka datangi.
Setibanya di rumah tersebut. Andi langsung menyerahkan karung yang sejak tadi ia panggul di punggungnya.
“Terima kasih Pak,” ucap Andi setelah si Bapak yang tadi menimbang hasil sampah yang diperolehnya dan menyerahkan dua lembar uang pecahan lima ribuan.
“Hasil hari ini hanya segini, Ndi,” kata Bapak pengepul sambah tersebut dengan nada lesu.
“Tidak apa-apa, Pak, Alhamdulillah. Cukup untuk membeli sebungkus nasi,” ucap Andi seraya tersenyum.
Andi pun menggandeng tangan mungil sang adik yang berusaha meredam suara dari lambungnya yang lapar.
Murni dan Andi adalah potret dari ribuan anak manusia yang dibelenggu kemiskinan. Mereka merupakan korban ketamakan para penguasa korup yang mengedepankan jabatan dan kedudukan. Orang bejat yang menggilas semua harapan dan cita-cita anak manusia demi sebuah keuntungan.
Mata Murni berbinar manakala melihat sebuah Rumah Makan Padang dengan aneka lauk yang membuat lidahnya mengurai liur di mulutnya. Mata kecilnya memandang sebuah piring yang terisi daging rendang.
“Adek, tunggu di sini ya, biar kakak yang masuk,” ucap Andi sambil melihat sorot mata Murni yang terfokus pada daging rendang.
Belum sempat memasuki Rumah Makan Padang tersebut, tiba-tiba Andi ditegur pelayan rumah makan tersebut, ”Hei, mau apa kamu? Tidak lihat di sini sedang banyak yang makan, sana pergi!”
Dengan kepala tertunduk lesu dan langkah gontai, Andi menghampiri sang adik, “Maaf, Dek. Uangnya tidak cukup. Kita beli di tempat lain ya,” ujar Andi sedikit berbohong.
Terlihat dengan jelas raut wajah kecewa Murni. Namun, ia hanya mengangguk tak berdaya menuruti langkah sang kakak.
“Kakak janji, esok atau lusa, kakak pasti belikan sepotong danging rendang untuk kamu. Jangan sedih ya Dek,” rayu Andi, berusaha mengobati kekecewaan Murni.
Murni hanya mengangguk pelan mendengar ujaran sang Kakak. Langkah gontai kaki dua anak kecil itu kembali menyusuri jalan berpayungkan senja yang mengantar sang mentari kembali ke peraduan.
Hari mulai gelap. Azan Magrib baru saja berkumandang. Andi dan Murni memasuki gubuk reot tempat tinggalnya dengan membawa satu kantong plastik berisikan nasi, hasil jerih payahnya hari ini.
Canda dan tawa mereka begitu renyah seraya menikmati sebungkus nasi dengan lauk tempe goreng. Mereka nampak bahagia meski hidupnya tak seindah nirwana.
Tengah malam dini hari. Gerimis kembali menyapa. Musim hujan membuat suasana TPA sampah itu begitu senyap. Hanya beberapa truk pengangkut sampah yang terdengar hilir mudik melintasi.
Andi sedang mengelap keringat dan memberi kompres di kening sang adik. Murni demam sejak tadi malam. Tubuhnya panas dan mengigil. Selembar kain perca ia tempelkan di dahi Murni berharap suhu panas tubuh sang adik sedikit berkurang. Tatapan mata iba sang kakak memandang pilu tubuh kecil sang adik yang terbungkus selimut dekil pemberian seseorang.
“Maafkan kakak ya Dek. Kakak tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi rasa sakitmu,” ucap Andi lirih.
“Seandainya kemarin kakak bisa mengumpulkan lebih banyak sampah pelatik, mungkin kamu tidak akan telat makan,” ucapnya kembali seraya mengusap air mata yang mulai membasahi kedua pipinya.
Helaan napas berat berkali-kali terdengar dari anak laki-laki berusia 11 tahun tersebut. Usia yang masih cukup kecil untuk menanggung beban kehidupan. Seandainya sang ayah tidak terjebak pada bujuk rayu para cukong pemebasan tanah yang akan di jadikan cluster, mungkin hidupnya tidak akan seperti ini.
Pernah satu hari salah satu saudara jauh dari ayahnya, mengajak mereka tinggal bersama. Namun, perlakuan mereka tidak terlalu baik terhadap Andi dan Murni. Hal itulah yang menyebabkan Andi membawa Murni pergi dan tinggal di tempat kumuh ini.
“Kak….” Ucapan lirih Murni membuyarkan lamunan Andi.
Andi mendekatkan ke tubuh adiknya. Murni mengingau. Suhu tubuhnya semakin tinggi. Andi memeluk tubuh mungil adiknya yang tengah mengigil. Dalam kondisi saat ini, ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya doa yang terus dipanjatkannya, berharap adiknya kembali sehat seperti semula.
Pagi ini kumandang takbir, tahil, dan tahmid masih berkumandang. Ini Hari Raya Idul Adha. Satu kupon pembagian daging hewan kurban masih dalam genggaman Andi. Ia bimbang, apakah harus pergi ketempat pembagian daging kurban? Itu artinya ia harus meninggalkan Murni sendirian di gubuknya.
Andi teringat betapa inginnya Murni memakan daging. Itu yang membulatkan tekat Andi untuk tetap pergi meninggalkan sang adik. Ia berdiri sejenak di ambang pintu gubuk sambil memandang sekali lagi tubuh mungil yang masih terlelap.
Mumpung Murni masih tidur, aku akan pergi sebentar, ujar Andi dalam hati.
Aroma daging mengguar ke penciuman. Andi bergegas mendekati kerumunan orang-orang yang sedang mengantri. Tubuh kecilnya terselap di antara ratusan orang yang hendak menukarkan kupon kepada panitia.

Keringat mulai bercucuran. Bayangan wajah Murni selalu hadir di pelupuk matanya yang membuat berkali-kali ia mengucek matanya.
Satu kantong daging sudah berada di tangan Andi. Di bawah terik matahari, ia berlari menuju gubuk tempat tinggalnya. Tidak ia hiraukan kaki yang tanpa alas.
“Murni! Kakak bawakan daging untuk kamu!” Teriak Andi.
Dengan napas yang masih tersengal, Andi segera menghampiri adik semata wayangnya.
“Dek… banguuuun! Ini kakak bawakan daging untukmu. Nanti kita masak rendang ya,” ucap Andi.
Anehnya, tidak ada jawaban dari sang adik. Murni seperti tengah terlelap dalam tidurnya. Kemudian Andi segera menyentuh tubuh mungil yang masih berselimut itu dengan perasaan tak karuan.
“Murni, demam kamu sudah hilang. Badan kamu sudah tidak panas lagi,” ucap Andi seraya menggoyangkan tubuh sang adik, “Murni banguuuun!”
Tak ada jawaban. Mata Murni tetap terpejam. Tubuhnya lunglai tidak ada pergerakan.
“Muuurniiiiii!” Teriak Andi dengan keras.
Air mata mulai mengalir deras di pipi Andi. Ia melepaskan kantong palstik berisi daging yang sejak tadi di pegangnya.
“Jangan tinggalkan Kakak, Dek,” ucapnya sambil meraih tubuh mungil sang adik yang sudah tidak bernyawa.
Tak ada lagi mimpi. Tak ada lagi harapan. Hanya jiwa yang terkoyak yang tinggal dalam gubuk reyot itu. Tangisan kesedihan itu sirna ditelan gegap gempitanya takbir Idul Adha. (Violet Senja).
***
Judul: “Daging yang Kujanjikan”
Pengarang: Neneng Salbiah
Editor: JHK
Sekilas tentang pengarang
Wanita kelahiran Bogor, 02 Juni 1978 bernama lengkapNeneng Salbiah ini aktif menulis artikel dan novel di berbagai platform. Tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika ini juga merupakan seorang ibu rumah tangga, ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.