Surat Terbuka untuk Komandan

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Jumat (06/11/2026) – Artikel berjudul “Surat Terbuka untuk Komandan” merupakan karya Neneng Salbiah, seorang tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika yang juga merupakan seorang ibu rumah tangga –  ibu dari satu orang putri dan satu orang putra. 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang saya kagumi penuh hormat, Bapak Kompol Maman Firmansyah, S.H.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan saat mendengar kabar perpindahan Komandan ke tempat yang begitu jauh. Saya belum terlalu lama mengenal sosok Komandan. Perkenalan kita bisa dikatakan baru sebentar. Namun, dalam waktu yang singkat itu, Komandan telah meninggalkan kesan yang begitu dalam, kesan yang mungkin butuh waktu lama untuk saya temukan lagi pada orang lain.

Dalam pertemuan-pertemuan singkat kita, Komandan tanpa sadar telah mengajarkan saya hal yang sangat berharga tentang profesi saya sebagai jurnalis. Dulu, saya sering merasa bingung bagaimana cara mendapatkan informasi yang akurat dan mendalam.

Komandan mengajarkan satu hal sederhana tapi sangat berarti bahwa untuk memahami sebuah masalah masyarakat, kita harus berbicara langsung dengan mereka yang berkaitan erat dengan permasalahan tersebut.

Kompol Maman Firmansyah, S.H> – (Sumber: BJN)

Komandan dengan tulus merekomendasikan siapa saja yang tepat untuk saya temui sehingga informasi yang saya sampaikan kepada pembaca benar-benar akurat, utuh, dan bermanfaat. Sebelumnya, saya tidak pernah melakukan hal seperti ini. Saya kira itu akan sulit. Ternyata, dengan bimbingan Komandan, semuanya terasa lebih terarah dan bermakna.

Cara Komandan membimbing saya bukan dengan menuntut, melainkan dengan membuka jalan agar saya bisa belajar menemukan kebenaran sendiri. Itu adalah pelajaran berharga yang tak ternilai harganya bagi saya.

Setiap percakapan dengan Komandan selalu menyisakan hal baru. Ide-ide, gagasan, pandangan, dan informasi yang Komandan bagikan dengan begitu terbuka telah membuka wawasan saya yang sebelumnya terasa sempit.

Komandan tidak hanya berbicara tentang tugas kepolisian, tetapi juga tentang bagaimana kita memandang masyarakat, bagaimana kita melayani, dan bagaimana kita menjadi manusia yang bermanfaat di tengah lingkungan tempat kita berada. Komandan mengajarkan bahwa menjadi abdi negara bukan sekadar memegang amanah, melainkan menjadi jembatan antara negara dan masyarakat yang dilayaninya.

Komandan adalah sosok yang berbeda dari apa yang selama ini saya bayangkan dari seorang perwira polisi. Rendah hati, humanis, dan tulus, inilah kesan yang begitu kuat melekat pada diri Komandan. Jujur, baru pertama kali saya bertemu sosok perwira yang begitu terbuka dan apa adanya.

Bersama Komandan, saya merasa bisa menjadi diri sendiri. Tidak perlu menjaga sikap yang kaku, tidak perlu berpura-pura. Kita bisa bercanda dan tertawa lepas di satu saat, lalu berdiskusi dengan sangat serius di saat yang lain.

Sebagai pimpinan, Komandan tidak membuat siapa pun merasa kecil. Justru, kehadiran Komandan membuat orang lain merasa dihargai, didengar, dan dimanusiakan. Di dunia yang sering kali penuh topeng, keaslian diri Komandan adalah anugerah yang sangat berharga.

Kini, saat kabar keberangkatan itu benar-benar datang, hati ini terasa berat.

Sedih? Tentu saja. Merasa kehilangan? Sangat. Rasanya baru saja kita mulai saling mengenal, baru saja saya mulai merasa nyaman belajar dari Komandan. Namun, waktu sudah berkata lain.

Saya merasa perjalanan belajar ini belum selesai. Masih banyak hal yang ingin saya tanyakan, masih banyak pengalaman Komandan yang ingin saya dengarkan, masih banyak pelajaran hidup yang ingin saya petik dari kebijaksanaan Komandan.

Rasanya waktu berlalu terlalu cepat, seolah tidak memberikan kesempatan yang cukup bagi saya untuk menyerap semua kebaikan yang Komandan miliki. Namun, saya juga sadar, perpisahan adalah bagian dari kehidupan seorang abdi negara.

Tugas Komandan memanggil ke tempat yang lebih jauh, ke medan pengabdian yang baru. Dan meskipun ada rasa berat di hati, saya tidak ingin larut dalam kesedihan. Justru sebaliknya, saya merasa bangga karena pernah mengenal Komandan. Bangga karena pernah mendapat bimbingan dari Komandan dan bangga karena pernah menjadi bagian kecil dalam perjalanan hidup Komandan di tempat ini.

Komandan adalah pemimpin impian, pemimpin yang dekat, yang mendengar, yang memanusiakan, dan yang tulus mengabdi. Komandan membuktikan bahwa kekuasaan dan kedudukan tidak membuat seseorang lupa menjadi manusia yang baik. Justru semakin tinggi jabatan seseorang, semakin lembut hatinya dalam melayani sesama.

Komandan, ada pesan tulus dari hati ini yang ingin saya sampaikan untuk langkah Komandan ke tempat yang baru.

Tetaplah menjadi Komandan yang kami (saya) kenal. Tetaplah rendah hati karena di situlah kekuatan Komandan sesungguhnya.

Semakin tinggi jabatan Komandan, semakin indah kerendahan hati Komandan di mata kami. Semoga di Bontang nanti, hati Komandan tetap lembut, telinga Komandan tetap terbuka mendengar suara-suara kecil masyarakat yang membutuhkan.

Langkah Komandan tetap ringan menghampiri mereka yang membutuhkan bantuan. Jaraklah yang memisahkan raga kita, tetapi jangan sampai kedudukan yang baru mengubah kehangatan hati Komandan.

Tetaplah dekat dengan masyarakat ya Ndan karena di sinilah akar pengabdian Komandan berada. Masyarakat adalah alasan keberadaan Komandan di sana.

Semoga senantiasa hadir di tengah mereka bukan hanya saat ada urusan tugas, tetapi juga saat mereka membutuhkan teman yang mendengarkan. Semoga kedatangan Komandan disambut bukan hanya sebagai Kepala BNNK Bontang, tetapi sebagai sahabat yang peduli, pelindung yang hadir, dan pemimpin yang merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.

Satu hal lagi yang tak kalah penting, tetaplah dekat dengan para ulama. Di mana pun Komandan bertugas, jadilah mitra yang baik bagi para penjaga nilai dan kebijaksanaan ini. Di tangan merekalah doa-doa tulus yang mengangkat derajat dan melindungi langkah.

Semoga Komandan senantiasa mempererat silaturahmi dengan mereka, mengambil berkah ilmu dan nasihat mereka, dan menjadikan kebijaksanaan mereka sebagai cahaya dalam setiap keputusan yang Komandan ambil. Semoga langkah Komandan selalu disertai doa baik dari para ulama, dan semoga keberkahan itu menyertai setiap langkah pengabdian Komandan.

Semoga langkah Komandan ke Bontang kelak senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Semoga di tempat yang baru, Komandan menemukan suasana yang menyenangkan, rekan kerja yang saling mendukung, dan masyarakat yang menyambut hangat kehadiran Komandan.

Semoga amanah yang Komadan emban di sana dimudahkan, setiap langkah Komandan diberkahi, dan setiap kebijakan yang Komadan ambil membawa kebaikan yang besar bagi masyarakat Bontang.

Semoga kesehatan dan keselamatan senantiasa menyertai Komandan dan keluarga, di mana pun Komandan berada.

Jarak mungkin memisahkan raga kita. Namun, silaturahmi yang terjalin di hati takkan terputus oleh jarak. Di sini, kami akan selalu mendoakan kesuksesan Komandan. Suatu saat nanti, jika Allah mengizinkan, kita akan bertemu lagi, bukan sebagai atasan dan bawahan, bukan pula sebagai narasumber dan pewarta, melainkan sebagai dua orang yang pernah saling mendoakan kebaikan satu sama lain.

Terima kasih, Komandan Maman Firmansyah. Terima kasih atas setiap nasihat, setiap senyuman, setiap bimbingan, dan setiap kebaikan yang Komandan berikan. Komandan telah mengajarkan saya bahwa menjadi pemimpin yang baik itu mungkin, dan menjadi abdi negara yang dicintai rakyat itu nyata adanya.

Sampai bertemu lagi, Komandan kami yang tercinta. Semoga sukses dan barokah selalu menyertai Komandan di tanah Bontang yang baru. Tetaplah menjadi cahaya di tempat Komandan berada.

Dari kami yang selalu mendoakan kebaikan untuk Komandan.

Berita Jabar News & Seluruh Sahabat Komandan di sini.

***

Judul: Surat Terbuka untuk Komandan

Penulis: Neneng Salbiah

Editor: JHK

Sekilas tentang Penulis

Wanita kelahiran Bogor, 02 Juni 1978 bernama lengkap Neneng Salbiah ini aktif menulis artikel dan novel di berbagai platform. Tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika ini juga merupakan seorang ibu rumah tangga,  ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.