BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kota Cimahi, Jawa Barat, Minggu (02/08/2026) – Tulisan Esai tentang “Cimall Ruang Publik Menjadi Rumah Kreativitas” ini ditulis oleh Febri Satria Yazid, pemerhati sosial dan pegiat literasi
Seni tidak selalu harus hadir di ruang galeri yang sunyi dan eksklusif. Seni justru akan menemukan makna yang lebih luas ketika mampu hadir di tengah kehidupan masyarakat, berdialog dengan siapa saja, dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Peran inilah yang diambil oleh Cimahi Mall, yang berada di Jalan Gandawijaya, Kelurahan Setiamanah, Kota Cimahi, Jawa Barat, dalam satu setengah tahun terakhir sejak management Cimall bersepakat dengan para seniman dan budayawan Kota Cimahi.
Di balik kolaborasi ini, tersimpan sebuah gagasan besar bahwa seni lahir dari rasa, diwujudkan melalui warna, kemudian berkembang menjadi gagasan yang mampu menggerakkan pikiran dan perasaan banyak orang. Ketiganya saling melengkapi sehingga menciptakan sebuah ruang yang hidup, dinamis, dan penuh inspirasi.
Konsep tersebut diwujudkan dengan mempertemukan berbagai unsur dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Para pelukis menghadirkan karya visual yang kaya makna. Para penulis dan penyair menawarkan perspektif melalui kata-kata. Komunitas seni menjadi wadah bertemunya individu-individu kreatif, sementara para pengunjung membawa pengalaman, penafsiran, dan dialog yang memperkaya keseluruhan proses. Tidak ada satu unsur yang lebih penting daripada yang lain. Semua menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang saling menguatkan.
Keberadaan Cima’Art menempati ruangan seluas 500 meter persegi yang digunakan sebagai ruang Eksibisi, Art Fair, dan Edukasi Kreativitas para seniman, tidak hanya ingin mengajak masyarakat menikmati keindahan lukisan, tetapi juga mengajak mereka memahami cerita di balik setiap karya. Setiap goresan kuas menyimpan pengalaman, emosi, harapan, bahkan kritik sosial. Warna-warna yang tampak di atas kanvas bukan sekadar unsur estetika, melainkan bahasa visual yang menyampaikan pesan kepada siapa saja yang bersedia melihat lebih dalam.
Mall merupakan ruang publik yang setiap hari dikunjungi oleh berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, orang tua, pelajar, pekerja, hingga keluarga datang dengan berbagai kepentingan. Ada yang berbelanja, bersantai, menikmati kuliner, atau sekadar menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat. Ketika seni hadir di ruang seperti ini, batas antara seniman dan masyarakat menjadi semakin tipis.
Orang yang sebelumnya tidak pernah berencana mengunjungi pameran seni bisa saja berhenti sejenak karena tertarik melihat sebuah lukisan. Dari rasa penasaran itu lahirlah pengalaman baru. Mereka mulai membaca deskripsi karya, mengamati detail warna, lalu berdiskusi dengan teman atau keluarganya mengenai makna yang mereka tangkap. Tanpa disadari, proses apresiasi seni pun terjadi secara alami.
Inilah salah satu kekuatan terbesar Cima’Art. Seni tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh, rumit, atau hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Sebaliknya, seni hadir secara akrab di tengah masyarakat, menjadi bagian dari ruang publik yang terbuka dan inklusif.
Lebih dari sekadar pameran lukisan, Cima’Art menghadirkan ruang perjumpaan antara seni, sastra, dan gagasan. Ketiganya saling berinteraksi membangun suasana yang kaya akan inspirasi. Pengunjung tidak hanya melihat karya visual, tetapi juga dapat menikmati pembacaan puisi, diskusi, refleksi, dan berbagai bentuk ekspresi kreatif lainnya.
Bahkan disini masyarakat dapat mengikuti pelatihan atau workshop dengan berbagai keterampilan seperti menulis, public speaking dan beberapa pelatihan lainnya termasuk tersedianya kursus Bahasa asing.
Perjumpaan semacam ini memiliki nilai yang sangat penting. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, masyarakat sering kali kehilangan ruang untuk berhenti sejenak, merenung, dan berdialog mengenai nilai-nilai kemanusiaan. Seni mampu menghadirkan ruang tersebut. Melalui karya, seseorang dapat menemukan sudut pandang baru, memahami pengalaman orang lain, bahkan mengenali dirinya sendiri.
Komunitas juga memiliki peran besar dalam membangun ekosistem kreatif. Sebuah karya seni tidak lahir dalam ruang yang kosong. Di baliknya terdapat proses belajar, diskusi, kritik, dukungan, dan kolaborasi yang panjang. Karena itu, keberadaan komunitas menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya kreativitas yang berkelanjutan.
Cima’Art menunjukkan bahwa ketika komunitas diberi ruang untuk bertemu dan berkarya, akan lahir berbagai peluang baru. Seniman muda dapat belajar dari mereka yang lebih berpengalaman. Penulis dapat menemukan inspirasi dari lukisan. Penyair dapat menghidupkan makna sebuah karya melalui kata-kata. Pengunjung pun tidak lagi menjadi penonton pasif, tetapi ikut terlibat dalam percakapan kreatif yang terus berkembang.
Bagi Kota Cimahi, kegiatan seperti di Cima’Art menjadi salah satu bentuk investasi budaya yang sangat berharga. Kota yang memiliki komunitas seni yang aktif akan lebih mudah melahirkan inovasi, memperkuat identitas daerah, serta membangun masyarakat yang terbuka terhadap keberagaman gagasan. Seni menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai latar belakang, profesi, usia, dan pengalaman hidup.
Setiap orang memiliki kesempatan untuk bertemu, berbagi inspirasi, dan saling memperkaya melalui karya. Cimahi Mall pun berubah menjadi lebih dari sekadar pusat perbelanjaan, menjelma sebagai ruang budaya tempat kreativitas tumbuh, percakapan bermakna terjalin, dan apresiasi terhadap seni semakin mengakar di tengah masyarakat.
Melalui Cima’Art, kita diingatkan bahwa seni akan selalu menemukan jalannya ketika diberi ruang untuk hidup bersama masyarakat. Dari satu titik temu lahirlah banyak gagasan. Dari satu karya tumbuh banyak inspirasi dan dari satu perjumpaan, tercipta harapan akan masa depan ekosistem seni yang semakin inklusif, kreatif, melahirkan banyak talenta yang menjadi kekuatan sumber daya manusia yang dapat “dijual” kota Cimahi yang mempunyai keterbatasan di sektor sumber daya alam. Bagaimana menurut pembaca tentang hal ini? (fsy)
Penulis : Febri Satria Yazid
Editor : Tiyut