BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA, Senin (04/05/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Kang Jojo Akhirnya Pulang” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Hari-hari ini sudah hampir sebulan Kang Jojo bersama istrinya ada di Tanah Suci. Mereka sedang menjalankan ibadah Umroh. Beberapa hari lagi akan selesai dan meninggalkan Madinah terbang pulang ke Tanah Air.
Pada hari-hari akhir ini Kang Jojo merasa berat untuk pulang ke kampung halaman. Sudah banyak beli oleh-oleh tapi malas mengemasinya. Sudah waktunya membereskan pakaian ke dalam koper, tetapi masih malas mengemasinya.
Itu karena Kang Jojo merasa semakin lama menjadi semakin nyaman. Irama hidupnya sudah semakin sesuai dengan suasana di Madinah. Tubuhnya sudah terbiasa dengan cuaca yang dingin di malam hari dan panas di siang hari. Juga sudah bisa bersahabat dengan desiran semilir angin yang membuai maupun dengan kuatnya hembusan angin membawa butiran pasir.

Perutnya yang biasanya peka terhadap makanan asing juga sudah menerima dengan ramah segala jenis masakan ‘ala Arab yang kental dengan aroma remKang-remKang. Tidak ada lagi cerita gagal ke Masjid karena perut melilit. Tidak ada lagi diare dan sering ke belakang.
Umroh kali ini memang beda dengan sebelumnya. Umroh 30 hari itu waktu yang sangat cukup untuk beradaptasi. Bahkan, Kang Jojo kini sudah bisa bercakap Bahasa Arab hasil dari kenal dan ngobrol dengan, petugas Hotel maupun pedagang dan penjaga toko.
Hasil belajar ngomong Arab suatu hari dia digunakan ke istrinya.
“Mak…, ana uhibbuki, habibti…,” ujar Kang Jojo.
“Ana uhibbuka fillah, habibi…, ” jawab istri Kang Jojo.
“Haah, kok kamu bisa bahasa Arab juga Mak…?” Sahut Kang Jojo terperanjat.
Istri Kang Jojo menimpali, “Emang cuma Akang yang bisa belajar ngomong Arab.”
“Ha … ha, masyaAllah, alhamdulillah,” kata Kang Jojo.
Sejak kedatangannya di tanah suci semakin hari Kang Jojo semakin merasa seperti lagi di kampung sendiri. Dia semakin Kangam tempat-tempat makan enak, warung murah dan tempat-tempat bersejarah di sana.
Sepertinya Kang Jojo sudah sangat menikmati hidup di Kota Nabi, apalagi aktivitasnya memang hanya beribadah. Tidak lebih dari pulang-pergi dari hotel ke Masjid. Beribadahnya pun semakin khusyuk, padahal awalnya, sedari membuat rencana umroh hingga benar-benar berangkat, pasangan suami-istri melewati proses yang panjang dan tidak gampang. Penuh tarik-ulur dan adu mulut.
Ketika baru berniat umroh, Kang Jojo ngomong ke istri, “Kenapa tidak beli mobil pick-up satu lagi Mak? Biar usaha kita tambah besar dan maju.”
“Halah, satu pick-up sudah cukup Kang,” kata istri Kang Jojo.
Kang Jojo, lelaki setengah baya ini kembali bertanya, “Terus kalau kita pergi lama, yang nunggu mobil dan toko kita ini sapa Mak?”
“Ah, gampang itu, tutup dulu Kang. Percayalah, nanti sepulang umroh usaha kita insyaAllah akan bertambah maju,” jawab istri Kang Jojo.
“Okey, tapi gimana dengan ayam-ayam tetangga Mak, pasti nanti pada pesta-pora dan be’ol seenaknya di halaman rumah,” kata Kang Jojo.
Istri Kang Jojo tidak kurang akal, “Nanti ayam tetangga itu kita beli semua, kita sembelih dan kita bagi-bagi ke tetangga, apalagi Kang?”
“Itu kalau boleh dibeli, kalau tetangga gak mau jual, gimana Mak?” Tanya Kang Jojo.
“Itu tugas Akang, pulang Umroh bersih-bersih rumah,” jawab istri Kang Jojo.
Kang Jojo membatin, hem, lelaki memang selalu kalah. Namun, Kang Jojo tidak kurang ngeyelnya, “Sebenarnya kan kita sudah pernah umroh Mak, kenapa umroh lagi? Bukannya Umroh itu cukup satu kali saja.”
“Iya, sudah pernah, tapi aku ingin merasakan Umroh lebih lama, kayak naik haji itu lho,” kata istri Kang Jojo.
“Apa bedanya sih? Apa sih istimewanya Mak?” Tanya Kang Jojo.
Istri Kang Jojo menimpali, “Akang ini memang kurang ngaji.”
Istri Kang Jojo lalu bicara panjang lebar tentang istimewanya ibadah-ibadah di tanah suci saat Umroh. Dikutipnya tausyiah-tausyiah yang pernah dia dengar tentang keutamaan Umroh.

Kang Jojo mendengarkan istrinya ngomong dengan santai sambil nyruput kopi Kangit. Melihat polah suaminya, istrinya merasa diremehkan dan tanpa sungkan ngambek.
“Akang ini gimana? Ada orang ngomong gak didengerin,” kata istri Kang Jojo, lalu diam sejenak dan disambung dengan suara meninggi, “Ya sudah, kalau begitu aku berangkat umroh sendiri juga berani kok!”
Kang Jojo agak tertegun, lalu menimpali dengan setengah bercanda, “Bener, berani berangkat sendiri? Bener aku ditinggal sendiri di sini? Satu bulan lho. Mak gak khawatir?”
Istri Kang Jojo tambah ngambek,“Tahu ahhh, terserah.”
Godaan tidak berhenti di situ dan terus datang dalam aneka rupa rayuan. Ada yang menawarkan menanam modal usaha dengan untung yang menggiurkan. Ada juga yang menawarkan tanah dan kebun dengan harga murah. Belum lagi yang memberi tawaran laba besar dalam kerja sama usaha di luar pulau.
Celakanya, tawaran-tawaran itu bertubi-tubi datang menjelang batas akhir pelunasan biaya umroh. Sungguh peluang usaha yang menggoda iman dan Kang Jojo selalu tergiur untuk menerima.
Kang Jojo berkata ke istrinya suatu siang, ”Tuh Mak, kapan lagi ada tawaran bagus seperti itu? Kesempatan kan biasanya cuma datang sekali. Umrohnya kan bisa kapan-kapan Mak.”
Istri Kang Jojo menjadi kesal dengan perilaku miyar-miyur suaminya. Kali ini katanya, “Kapan-kapan? Emang Akang yakin masih punya umur? Tawaran-tawaran itu semua adalah godaan seberapa kuat niat kita untuk berangkat Umroh.”
“Ah, Emak bisa aja,” kata Kang Jojo sambil nyengir.
“Astaghfirullah, tobat Akang, tobat,” kata istri Kang Jojo.
Lalu istrinya dengan tegas meminta ke suaminya, “Besok pagi kita ke Bank, kita lunasi biaya Umroh! Tidak ada lagi tawar-menawar.”
Akhirnya mereka lunasi biaya Umroh. Istri Kang Jojo lega, mereka berdua berhasil mengatasi berbagai godaan yang datang sejak baru punya niat. Ternyata niat untuk berbuat baik pun tidak lepas dari aneka godaan.
Ketika tiba harinya, jadilah mereka berangkat Umroh. Perjalanan yang panjang dan melelahkan mereka jalani sebelum pada akhirnya sampai juga di Tanah Suci.
Bergetar hati Kang Jojo saat telapak kaki kanannya menapak ke Masjidil Haram. Bibirnya ingin melafalkan puja dan puji, tapi tak sepatah pun suara terucap. Tenggorokan tercekat, lidah kelu dan mata basah tak kuat menahan luapan rasa bahagia sudah menjadi salah satu tamu Allah di Baitullah.
Runtuh sudah keangkuhan, tumbang sudah kesombongan dan luluh sudah ketinggian hati. Tertatih-tatih Kang Jojo menjalani rangkaian ibadah Umroh dari Tawaf, Sya’I, hingga Tahalul. Menit dan detik dijalaninya penuh sukur. Istrinya pun sama. Bergandengan tangan mereka saling menguatkan menjalankan ibadah mengikuti Muntawif, pimpinan rombongan.
Selesai Tawaf, mengelilingi Ka’bah tujuh kali Kang Jojo bersimpuh, tak kuasa lagi menahan air mata membasahi pipi dan kain ihramnya. Tak kuasa lagi dia berdoa meminta-minta. Begitu banyak nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Hanya rasa sukur dan mohon ampunan yang dia panjatkan.
Hari-hari berikutnya mereka jalani dengan penuh kekhusyukan. Istri Kang Jojo mulai lega campur senang. Dia melihat kekhusyukan suaminya beribadah di Masjidil Haram.
Selama sepertiga bulan suami istri itu benar-benar memanfaatkan waktunya untuk beribadah. Duapertiga sisanya mereka pindah ke kota Madinah. Kota tempat Masjid Nabawi berada.
***
Entah mengapa, Kang Jojo merasa kota Madinah benar-benar nyaman untuk beribadah. Dia sangat menikmati suasana sambil mengenal labih dalam kehidupan kota ini. Masjid-masjid, museum dan gedung-gedung penting banyak mengelilingi Masjid Nabawi.
Duapertiga bulan bukan waktu yang singkat, tetapi Bagi Kang Jojo terasa berlalu sangat cepat. Semakin terasa singkat ketika istrinya mengingatkan, “Kang, tak terasa kita di sini tinggal beberapa hari.”
“Hah, iya yaa,” kata Kang Jojo.
“Sudah saatnya berkemas-kemas Kang,” timpal istri Kang Jojo,.
“Ah, ntar saja Mak,” sahut Kang Jojo.
Istri Kang Jojo langsung nyahut, “Jangan ditunda-tunda Kang, Akang harus sat-set kemas-kemas barang dan kopernya. Emang Akang gak kangen rumah?”
“Waah, Kangen dong Mak!” Kata Kang Jojo dengan nada girang.
Mereka pantas merasa kangen. Meski hanya sepenggal waktu, tapi sebulan cukup untuk membuat sejumput rasa kangen menjadi bergunung-gunung.
Kang Jojo kangen pada para pelanggan setia dan juga pada ayam-ayam tetangga yang tidak boleh dibeli. Ayam-ayam itu pasti sudah mengotori halaman dan merusak tanaman. Dia kangen menyepak mereka.
Pengemar gorengan ini juga kangen pada mendoan, pecel dan bakwan warung tetangga. Di Madinah makanan-makanan itu jarang, kalaupun ada harganya mahal. Namun, segede apapun rasa kangennya, akan langsung terobati saat mereka pulang. Tidak demikian dengan kesempatan beribadah di Masjid Nabawi. Kesempatan itu akan hilang pada saat mereka meninggalkan Madinah.
Kang Jojo gemetar begitu sadar hanya tinggal beberapa hari saja sebelum pulang. Semakin sedikit saja kesempatan untuk menyempurnakan ibadahnya.
Kata Kang Jojo ke istrinya, “Jangan lengah Mak, ayoo sisa beberapa hari ini kita gunakan sepenuhnya untuk ibadah.”
Istri Kang Jojo, menjawab, “Ayo Kang,” lalu dilanjut, “Tapi Kang, susah juga ngalahin rasa kangen rumah ya.”
“He .. he..he, iya, tapi harus bisa Mak,” jawab Kang Jojo malu-malu.
Begitulah, keinginannya untuk pulang kampung berkelindan dengan keinginan untuk penuh semangat menikmati sedikit lagi kesempatan beribadah di kota Nabi. Sesuatu yang tidak ringan.
Setelah itu Kang Jojo sangat bersemangat dan mengabaikan rasa lelah, rasa kantuk, dan rasa malas. Semua demi menuai kebaikan dengan Kangala berlipat ganda. Lelaki berkulit bersih ini menyadari beberapa hari lagi akan meninggalkan Madinah dan entah kapan bisa kembali. Bahkan, kini irama hidupnya sudah sangat Nabawi.
Hawa panas dan udara dingin bukan penghalang bagi Kang Jojo. Hatinya sudah kadung jatuh cinta pada kota yang dulu dinamai Yastrib. Kang Jojo seperti sudah lupa pelanggannya dan lupa sama ayam tetangga.
***
Lalu, hari itu akhirnya tiba juga, hari kepulangan kembali ke Tanah Air. Semua rombongan pada sigap, trengginas dan, sat-set bersiap-siap mengarungi perjalanan jauh. Tidak demikian dengan Kang Jojo. Dia masih malas, ogah-ogahan, dan leda-lede. Dia enggan pulang, apalagi hari itu hujan turun cukup deras sejak dini hingga siang hari.
Hujan di Madinah bukanlah hal yang biasa terjadi. Setahun jumlah hari hujannya bisa dihitung dengan jari tangan. Oleh karena itu, hujan menjadi peristiwa langka dan istimewa. Banyak orang bergembira dan membiarkan air hujan membasahi kepala sambil berdoa: “Allahumma soyban nafian…”
“Mak, tuh lihat hujan. Kayaknya itu pertanda Madinah gak mengijinkan aku pulang,” Kata Kang Jojo ke istrinya.
Istri Kang Jojo ketawa ngakak, “Ha … ha … ha, dulu males-malesan berangkat, sekarang enggan pulang, kamu itu aneh Akang.”
“Itu buktinya, hujan Mak,” kata Kang Jojo sambil nengok ke luar jendela.
“Hujan? Kemarin hujan, besok juga mungkin hujan, apa anehnya Kang?” Sergah istri Kang Jojo.
Kang Jojo diam.
Istri Kang Jojo tambah geregetan. Sambil membereskan pakaian dan koper, wanita ini terus menggerundel, “Mau jadi apa di sini Kang? Mau jadi gelandangan?”
Kang Jojo Masih diam, istrinya meneruskan, “Paling enak tuh hidup di kampung, nanam apa saja bisa tumbuh. Jualan apa saja bisa laku. Banyakin bersyukur saja Kang.”
Kang Jojo mulai menggeliat.
“Biarlah orang Arab sini yang menikmatikemakmurannegerinya sendiri. Ayo pulang Kang, lalu besarkan warung kita. Siapa tahu tetangga bisa ikut makmur,” lanjut istri Kang Jojo.
Kang Jojo diam beberapa saat merenungi semua omongan istrinya. Omongan istrinya benar dan merasuk ke dalam hatinya.
Tiba-tiba Kang Jojo teriak, “Siaaap, ayo kita pulang Mak.”
Kang Jojo memeluk istrinya erat-erat sampai susah bernapas.
***
Judul: Kang Jojo Akhirnya Pulang
Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: Jumari Haryadi
Tentang Penulis/Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.
Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.
Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.
Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.
Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.
***