BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Senin (20/04/2026) – Esai berjudul “Membaca: Menyulam Kesadaran di Tengah Riuh Narasi” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Di sebuah sudut kecil bernama taman bacaan, anak-anak duduk bersisian, membuka lembar demi lembar buku. Dari luar, pemandangan itu tampak sederhana: sekumpulan bocah yang membaca bersama. Namun sesungguhnya, di balik halaman yang mereka telusuri, ada latihan paling mendasar dalam hidup—belajar memilih, belajar memutuskan, belajar tidak menyerahkan nasib pada pikiran asal-asalan.
Membaca bukan sekadar menambah pengetahuan. Informasi bisa dicari dengan sekali klik, bisa ditanya pada mesin pencari atau pada kecerdasan buatan. Namun, pengetahuan sejati lahir dari kemampuan menyaring, menimbang, dan menolak yang palsu. Tanpa kebiasaan membaca, seseorang mudah menjadi “budak narasi”—terhanyut oleh kata-kata indah yang seolah fakta, padahal hanya opini yang dibungkus rapi.

Sekolah, sering kali lebih sibuk mengajarkan kepatuhan dan hafalan. Kreativitas, keberanian berpikir, justru terpinggirkan. Oleh karena itu, taman bacaan hadir sebagai ruang alternatif: tempat anak-anak belajar kebebasan, belajar kritis, belajar bahwa hidup bukan sekadar mengikuti arus. Membaca bersama menjadi ikhtiar sederhana untuk menyiapkan masa depan, mengurangi kabut ketidakpastian dengan bekal nasihat, ikhtiar, dan doa.
Pada era digital, di mana arus informasi mengalir deras tanpa henti, membaca adalah semacam jangkar. Ia menahan kita agar tidak terseret ombak opini, agar tetap bisa berdiri tegak dengan pikiran yang jernih. Membaca melatih kesadaran, melatih keberanian untuk berkata “tidak” pada yang menyesatkan, dan “ya” pada yang memberi makna.
Mungkin itulah sebabnya membaca terasa seperti doa yang panjang. Setiap kata adalah langkah kecil menuju pemahaman. Setiap kalimat adalah jembatan menuju kebijaksanaan. Anak-anak yang membaca bersama di TBM Tulus Pustaka sedang menyiapkan diri, bukan hanya untuk ujian sekolah, tetapi untuk ujian hidup: bagaimana memilih jalan, bagaimana menolak asal-asalan, bagaimana merawat masa depan dengan kesadaran.
Kita sebagai orang dewasa, barangkali perlu kembali ke pelajaran sederhana itu. Membaca bukan sekadar hobi, bukan sekadar rutinitas. Ia adalah cara menjaga hidup agar tidak diserahkan pada pikiran yang malas agar tidak dikendalikan oleh narasi yang menipu. Membaca adalah cara menyulam kesadaran, benang demi benang, hingga menjadi kain yang melindungi kita dari riuh dunia. (Didin Tulus).
***
Judul: Membaca: Menyulam Kesadaran di Tengah Riuh Narasi
Kontributor: Didin Tulus
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.
Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***