BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Jumat (17/04/2026) – Esai berjudul “Hujan yang Tak Meredam: Menyaksikan Ritus Air dalam Seni Pertunjukan Musikal Teater Legenda Munding Dongkol” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Catatan esai ini saya tulis berdasarkan berdasarkan seni Pertunjukan Musikal Teater Munding Dongkol yang berlangsung di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Kota Bandung pada 16 April 2026 sore, pukul 15.30 s.d. 16.30 WIB.

Hari itu, langit Cimahi menangis sejak siang. Rinai yang awalnya hanya bisikan pelan berubah menjadi tangisan panjang yang tak putus-putus. Namun hujan—sekencang apa pun derasnya—tak pernah cukup untuk menghanyutkan niat yang telah berakar. Aku berangkat. Basah kuyup oleh air langit, tetapi di dada menyala obor kecil: hari ini, aku hendak menyaksikan sebuah ritus modern tentang air itu sendiri.


Di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Komunitas Bandoengmooi bersama Dewan Kebudayaan Kota Cimahi dan Disbudparpora Kota Cimahi menghelat pertunjukan yang dinanti: Munding Dongkol. Sebuah musikal teater dan tari yang berpijak pada mitos tua dari Cimahi — tentang Jurig Cai, siluman air berwujud kerbau gempal dengan tanduk menjulur ke depan. Konon, kemunculannya adalah pertanda banjir besar.
Pertunjukan dibuka dengan gemericik kendang dan alunan tarian para gadis yang merayap seperti sungai. Munding Dongkol hadir dalam dualitas yang memukau. Di satu adegan, penari menari lembut, gemulai, seakan membawa ketenangan air yang memberi hidup. Namun tak lama kemudian, tarian itu berubah menjadi amarah yang menggelegar—tanduknya menusuk langit panggung, tubuhnya menggulung seperti pusaran air yang siap menelan.

Saya tersadar: ini bukan sekadar cerita siluman. Ini adalah alegori tentang alam yang terluka.
Penonton diajak menyusuri narasi pergeseran zaman. Lahan pertanian warisan leluhur berubah menjadi beton. Pabrik dan kondominium menjulang, menggantikan sawah yang dulu merunduk oleh padi. Lalu muncullah sosok makelar tanah—ia tidak bertanduk, tidak bersisik, namun lebih mengerikan dari siluman mana pun. Dengan rayuan rupiah, ia membujuk petani melepas tanah. Dan air pun mulai enggan tinggal. Mata-mata air menghilang, sungai berubah hitam oleh limbah.

Puncaknya mengguncang kalbu. Wabah penyakit merebak. Seorang anak hilang. Warga gempar, lalu menuding: tumbal bagi Munding Dongkol. Padahal, di balik layar panggung yang disulap menjadi aliran sungai kotor, penonton disadarkan pada realitas paling pahit: bencana itu bukan karena kutukan makhluk gaib, melainkan karena ulah manusia sendiri.
Ketika tirai tertutup, tepuk tangan menggema di sela-sela rinai hujan yang masih setia di luar gedung. Aku termenung. Di luar, hujan masih mengguyur Cimahi dan Bandung. Namun aku bertanya: apakah hujan ini anugerah atau peringatan? Mungkin keduanya. Seperti Munding Dongkol yang bisa menjadi penjaga sekaligus penghukum.

Yang jelas, pertunjukan ini bukan sekadar seni. Ia adalah cermin. Dan kita, para penonton yang basah oleh hujan perjalanan, pulang dengan pertanyaan yang tak kunjung reda: sudahkah kita berdamai dengan air—atau justru terus menghasutnya dengan keserakahan? (Didin Tulus).
***
Judul: Hujan yang Tak Meredam: Menyaksikan Ritus Air dalam Seni Pertunjukan Musikal Teater Legenda Munding Dongkol
Kontributor: Didin Tulus
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.
Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***