Memoar: Jejak Sunyi di Rak Tersembunyi

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Senin (30/03/2026) – Esai berjudul “Memoar: Jejak Sunyi di Rak Tersembunyi” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.  

Ada sesuatu yang selalu memikat saya ketika melangkah ke lorong-lorong sempit penuh rak buku tua. Di Jakarta, tepatnya di basement Blok M Square, saya pernah berjumpa dengan seorang penjual yang wajahnya menyimpan cerita panjang. Ia bukan sekadar pedagang, melainkan penjaga ingatan. Dari tangannya, saya ditawarkan buku-buku original yang sudah jarang terlihat di toko besar: karya Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, dan sejumlah nama yang seakan berbisik dari masa lalu.

Sebuah buku tua yang kubaca di antara tumpukan buku untuk dikoleksi – (Sumber: Koleksi pribadi)

Saya masih ingat bagaimana ia menyebut harga sebuah buku “Cerita dari Blora” cetakan Hasta Mitra: enam ratus ribu rupiah. Angka yang bagi sebagian orang mungkin terlalu tinggi, tetapi bagi kolektor, itu adalah harga sebuah sejarah. Bahkan, edisi pertama “Bumi Manusia” pernah berpindah tangan dengan nilai tiga juta rupiah. Di titik itulah saya mulai memahami, ada perbedaan antara pembaca dan kolektor. Pembaca mencari isi, kolektor mencari jejak. Bagi mereka, buku bukan sekadar teks, melainkan artefak yang menyimpan denyut zaman.

Penjual itu bercerita, ia dulunya lulusan hukum dari Tangerang. Namun hidup membawanya ke dunia buku, menjual yang asli sekaligus bajakan. Ia mengakui buku bajakan masih laris, sementara buku ori hanya sedikit yang berani membeli. Ada getir dalam suaranya, seolah ia tahu betul bahwa idealisme sering kalah oleh kebutuhan. Meski begitu, ia tetap mencoba bertahan, menjajakan buku-buku ori dengan harapan ada pembaca yang menghargai keaslian.

Beberapa buku tua karya Ajip Rosidi – (Sumber: Didin Tulus)

Saya pun akhirnya membeli dua buku: “Mangan Ora Mangan Kumpul” karya Umar Kayam dan “Belantik” karya Ahmad Tohari. Setelah tawar-menawar, keduanya saya bawa pulang dengan harga seratus sepuluh ribu rupiah. Di perjalanan pulang, ada rasa menyesal. Mengapa saya menawar terlalu rendah? Bukankah seharusnya saya mendukung penjual agar tetap berani menjual buku original? Rasa bersalah itu menempel, seperti noda kecil yang sulit hilang.

Perburuan buku lawas tidak berhenti di Jakarta. Di Bandung, saya menyusuri toko-toko kecil yang tersembunyi di gang, mencari aroma kertas tua yang khas. Ada kebahagiaan tersendiri ketika menemukan buku yang sudah lama hilang dari rak toko besar. Setiap lembar yang saya sentuh seakan membawa saya kembali ke masa ketika buku adalah jendela utama dunia. Di kota itu, saya belajar bahwa mencari buku lawas bukan sekadar transaksi, melainkan perjalanan batin. Ada perasaan menemukan kembali bagian dari diri yang pernah hilang.

Kadang saya berandai-andai: seandainya saya kaya raya, saya ingin membeli semua buku yang dijajakan penjual itu. Bukan untuk menimbun, melainkan untuk memastikan buku-buku ori tetap hidup, tetap beredar, tetap dibaca. Dunia literasi membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar nostalgia. Buku lawas adalah saksi perjalanan bangsa, dan setiap halaman adalah pengingat bahwa kita pernah menulis, berpikir, dan bermimpi.

Kini, setiap kali saya membuka lembaran buku tua, saya merasakan keheningan yang berbeda. Ada suara samar dari masa lalu, ada jejak tangan yang pernah membalik halaman, ada aroma waktu yang tak bisa dipalsukan. Mencari buku lawas di Jakarta dan Bandung telah menjadi bagian dari memoar pribadi saya: sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa membaca bukan hanya soal isi, melainkan juga soal menghargai sejarah yang melekat pada fisik buku itu sendiri. (Didin Tulus).

***

Judul: Memoar: Jejak Sunyi di Rak Tersembunyi

Kontributor: Didin Tulus

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***