Memoar Bersama Agung: Dari Kegelapan Menuju Cahaya

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Jumat (27/03/2026) – Artikel  berjudul “Memoar Bersama Agung: Dari Kegelapan Menuju Cahaya” ini merupakan tulisan “Sony Vespa”. Selain menjalankan bisnis dalam bidang handycraft, pria bernama lengkap Sony Sanjaya ini juga merupakan pegiat seni dan budaya di Kota Cimahi.

Khusus untuk warga asli Cimahi atau mereka yang telah lama tinggal di Kota Cimahi pasti merasakan berbagai perubahan suasana, termasuk perkembangan pembangunan di kota ini. Sekitar tahun 2016 atau 2017 di kiri dan kanan Jalan Pabrik Aci ─ belakang toserba Ramayana ─ masih banyak terdapat kios pedagang kaki lima. Salah satunya kios buku dan majalah bekas milik Agung yang terselip di antara kios buah-buahan dan kaset VCD.

Dengan baju koko lusuh dan celana cingkrang, kadang memakai sarung berwarna merah yang menjadi pelengkap penampilannya, serta senyum lebar yang menjadi ciri khasnya, Agung dengan setia selalu hadir di kios buku yang menjadi tempatnya mencari nafkah, sekaligus sebagai tempat tinggalnya. Karena sering membeli buku atau sekadar mampir untuk menumpang baca, saya dan dia pun akhirnya berteman.

Ilustrasi: Saya suka mampir ke kios buku dan majalah bekas Pak Agung dan kami pun akhirnya menjadi teman – (Sumber: BJN)

Suatu ketika saat Agung berganti pakaian, saya tertegun melihat punggungnya dipenuhi tatto. Ini bukan tatto biasa, tapi tatto bertema Jepang dengan detail halus dan warna yang sempurna. Terlihat begitu rapi dan indah. Pasti mahal, pikir saya dalam hati.

“Aku anak seorang pengusaha sukses dan kaya di Bekasi,” ujar Agung memulai bercerita, “Kemudahan harta dan uang berlimpah telah membuat aku tersesat. Aku biasa hidup berfoya-foya dan mabuk-mabukkan. Bahkan, narkoba jadi hobiku saat itu.”

Muak dengan sifat buruknya, Agung diusir oleh keluarga besarnya. Hidupnya pun jadi merana, terlunta-lunta, tanpa arah dan tujuan yang jelas, hingga akhirnya dia terdampar di Cimahi. Dengan berbekal sisa uang terakhir yang dimilikinya, dia menyewa sebuah kios dan berjualan buku bekas untuk menyambung hidup.

“Ramadan ini saya ingin banyak berdoa, minta ampun kepada Allah atas dosa-dosa saya, sekaligus memohon untuk bisa bertemu keluarga saya lagi, ” ujar Agung suatu ketika.

Lebaran pun tiba. Sekitar dua minggu saya tak berkunjung ke kiosnya. Saat berkunjung, saya mendatangi kiosnya yang kosong.

“Agung pergi dijemput keluarganya pake mobil,” ujar pedagang di kios sebelah.

Bertahun-tahun kemudian, selepas salat di sebuah masjid di pinggiran Kota Bekasi, saya mendapati seorang pria sedang memandangi motor tua saya yang terparkir di sana. Saya dekati pria itu, ternyata itu adalah Agung.

Agung bercerita tentang kepergiannya dari Kota Cimahi. Saat itu dia dijemput oleh keluarganya pada hari kedua Iedul Fitri untuk dibawa pulang ke Bekasi. Tawaran untuk mengelola perusahaan keluarga ditolaknya dengan halus. Kemudian dia memutuskan untuk menjadi marbot masjid dan berjualan buku agama, serta perlengkapan salat.

“Kucing liar pengembara, berjalan lurus di rimba raya, sampai Tuhan menentukan akhir hidupnya,” kata Agung mengutip ungkapan di fabel Aesop sambil menepuk pundak saya diakhir perjumpaan kami.

Waktu kembali berlalu. Bulan berganti tahun demi tahun, kami tak pernah bertemu lagi. Namun, kenangan Ramadan yang pernah kami lalui selalu terbayang.

“Bro, suatu ketika aku bangun dan melihat di sekeliling terang banget. Aku pikir sudah siang. Wah, telat saur nih. Tapi tiba-tiba aku lihat cahaya datang dengan suara berisik banget. Eh, ternyata kamu datang bawa nasi bungkus untuk sahur,” ujar Agung saat itu yang membuat kami tertawa bersama.

Ah, kenangan yang tak pernah hilang. Bahkan menambah rindu saat Ramadan berlalu. Izinkan hamba bertemu Ramadan-Mu lagi ya Allah.

***

Judul: Memoar Bersama Agung: Dari Kegelapan Menuju Cahaya

Penulis: Sony Vespa

Editor: JHK