Renungan pada Bulan Ramadan: Antara Diri, Tuhan, dan Semesta

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Selasa (24/02/2026) – Esai berjudul “Renungan pada Bulan Ramadan: Antara Diri, Tuhan, dan Semesta” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Bulan Ramadan datang lagi. Datangnya seperti tamu lama yang kita rindukan, membawa berkah dan ketenangan. Pada bulan ini, saya duduk sendiri setelah tarawih, memegang pena, dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan kecil mengalir. Pertanyaan yang mungkin terlalu sederhana untuk diucapkan, tapi terlalu dalam untuk diabaikan.

Untuk apa sebenarnya saya puasa? Untuk apa saya sholat? Jika jawabannya, “Karena perintah Tuhan,” itu benar. Namun, apakah ada makna lain yang lebih membumi?

Ilustrasi: Suasana saur pada bulan Ramadan di keluarga muslim di Indonesia – (Sumber: Arie/BJN)

Dalam keheningan sahur, ketika dunia masih terlelap, saya merenungkan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183).

Ternyata puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ada tujuan mulia di baliknya yaitu ketakwaan. Namun, apakah itu takwa jika bukan kesadaran bahwa kita ini mahluk, bahwa kita ini butuh pada-Nya?

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi, “Setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (H.R. Bukhari).

Di sini saya menemukan jawabannya: puasa dan sholat itu bukan untuk Tuhan, tapi untuk diri saya sendiri. Tuhan Maha Kaya, tak butuh puasa saya. Yang butuh justru jiwa saya yang kadang sombong ini. Puasa mengingatkan bahwa saya bukan siapa-siapa. Puasa melatih saya merasakan lapar yang setiap hari dirasakan mereka yang tak punya.

Lalu untuk apa saya hidup di dunia ini?

Sebagai orang Sunda, saya teringat pepatah, “Hirup mah kudu mangpaat keur batur.” (Hidup itu harus bermanfaat untuk orang lain). Falsafah ini selaras dengan ajaran agama bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Hidup bukan tentang menumpuk harta atau mengejar jabatan, tapi tentang memberi makna. Ketika saya berbagi takjil, ketika saya menyisihkan sebagian untuk anak yatim, di situlah saya merasa hidup.

Orang Sunda juga mengenal konsep “Silih asih, silih asah, silih asuh” — saling mengasihi, saling mengasah, saling mengasuh. Pada bulan Ramadan, nilai-nilai ini terasa begitu hidup. Kita dilatih untuk mengasihi dengan berbagi, mengasah diri dengan ilmu dan ibadah, serta mengasuh mereka yang lemah. Puasa bukan hanya tentang menahan, tapi juga tentang memberi.

Tapi mau ke mana kita setelah ini?

Pertanyaan ini selalu menghantui. Dalam kebudayaan Jawa, dikenal konsep “sangkan paraning dumadi” — asal dan tujuan kehidupan. Kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Hidup di dunia ini hanya mampang (numpang) sebentar. Seperti kata pepatah “Urang téh ukur nyiram, moal nyiar jati” (Kita hanya numpang, tak akan mencari kepemilikan hakiki). Oleh karena itu, kita jangan terlalu mencintai dunia, tapi jangan pula membencinya karena di sinilah kita menanam bekal untuk perjalanan panjang.

Ada juga falsafah Sunda yang indah “Caina herang, laukna beunang” — airnya jernih, ikannya dapat. Ini mengajarkan bahwa dalam menjalani hidup, termasuk ibadah, kita harus mencapai tujuan dengan cara yang baik, tanpa mengotori prosesnya. Pada bulan puasa, kita berusaha meraih ketakwaan dengan hati yang jernih, bukan sekadar ritual kosong.

Bulan Ramadan mengajarkan saya untuk merenung. Bahwa salat yang saya dirikan bukan sekadar gerakan fisik, tapi cara untuk eling (ingat) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa puasa bukan sekadar menahan nafsu, tapi latihan menjadi manusia seutuhnya. Bahwa hidup ini singkat maka isi dengan hal-hal yang membawa makna — untuk diri sendiri, untuk sesama, dan untuk Tuhan yang suatu saat akan kita jumpai.

Pada malam yang sunyi ini, saya bersyukur diberikan kesempatan merenung. Semoga tulisan kecil ini menjadi pengingat bahwa kadang pertanyaan sederhana butuh jawaban yang dalam — dari hati, bukan sekadar dari logika. Wilujeng ngajalankeun saum — selamat berpuasa. (Didin Tulus).

***

Judul: Renungan pada Bulan Ramadan: Antara Diri, Tuhan, dan Semesta

Kontributor: Didin Tulus

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***