BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Minggu (22/02/2026) – Esai berjudul “Memoar Reflektif: Pulang dalam Kata dan Kehidupan” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
“Aku tersesat, kamu tersesat, siapa yang akan mengantar kita pulang?”
Kalimat itu bergema dalam benak saya setiap kali pagi tiba di Cimahi. Usai mengantar anak-anak ke sekolah, jalanan yang masih basah oleh embun sering terasa seperti lorong sunyi yang menuntun saya kembali ke rumah. Di sana, di ruang sederhana yang sekaligus menjadi perpustakaan dan studio kecil, saya duduk dengan secangkir kopi, mencoba menulis. Ada rasa tersesat yang halus—bukan karena kehilangan arah, melainkan karena selalu mencari makna dari rutinitas yang tampak biasa.
Tatapan pemabuk dalam puisi Rumi, yang menyimpan “seratus taman cerah”, saya bayangkan seperti tatapan orang-orang yang saya temui di jalan: pedagang bubur, tukang sayur, atau tetangga yang menyapa dengan senyum. Mereka mungkin tampak sederhana, tetapi di balik mata mereka ada dunia yang luas, taman-taman pengalaman yang tak pernah saya ketahui. Kadang saya iri pada kebebasan itu, seperti kapal tanpa jangkar yang berlayar mengikuti arus hidup.
“Separuh dari timur, separuh dari barat, jiwaku terbuat dari air, tanah liat, hati, napas, dan mutiara.” Bait ini mengingatkan saya bahwa setiap rutinitas harian—menyapu halaman, menata buku, menulis catatan kecil—adalah bagian dari unsur kosmik yang membentuk diri. Air yang saya rebus untuk kopi, tanah liat yang melekat di sandal setelah berjalan di gang, napas yang saya tarik dalam-dalam sebelum menulis, semuanya adalah bagian dari jiwa yang sedang mencari pulang.
Ketika Rumi berkata, “Jadilah temanku, karena engkau kerabat sejati,” saya teringat pada keluarga di rumah. Istri yang sibuk mengajar, anak-anak yang pulang dengan cerita sekolah. Mereka adalah kerabat sejati yang selalu menambatkan saya pada kenyataan. Namun, ada paradoks: di dunia ini, semua orang adalah kerabat sekaligus asing.
Saya bisa merasa dekat dengan seorang penjual kopi di warung, tetapi juga merasa asing dengan orang yang setiap hari saya temui. Dada penuh kata-kata dan saya sering bertanya: haruskah saya menuliskannya, atau cukup menyimpannya dalam diam?
Puisi Rumi menjadi cermin bagi kehidupan sehari-hari di Cimahi. Jalanan kecil, aroma kopi, suara anak-anak, bahkan keheningan sore, semuanya adalah simbol perjalanan pulang. Pulang bukan sekadar kembali ke rumah fisik, melainkan pulang ke pusat diri, ke tempat di mana kata-kata dan diam bertemu.
Dalam memoar ini, saya belajar bahwa tersesat bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari pencarian. Pemabuk yang bebas, jiwa yang terbuat dari unsur kosmik, kerabat sejati yang hadir dan hilang—semuanya adalah tanda bahwa hidup adalah perjalanan pulang yang tak pernah selesai.
Setiap hari, di Cimahi, saya menulis untuk mengingat bahwa pulang bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang terus berlangsung, dalam kata-kata, dalam kopi yang mengepul, dalam tatapan orang-orang yang saya temui. (Didin Tulus).
***
Judul: Memoar Reflektif: Pulang dalam Kata dan Kehidupan
Kontributor: Didin Tulus
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktifitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***