Beranda / Politik / Makar “New Gaza”: Menimbun Jejak Genosida dengan Beton Kapitalisme

Makar “New Gaza”: Menimbun Jejak Genosida dengan Beton Kapitalisme

Palestina

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Jumat (30/01/2026) – Sebuah esai yang tertuang dalam Rubrik OPINI berjudul “Makar “New Gaza”: Menimbun Jejak Genosida dengan Beton Kapitalisme” ini merupakan buah karya Mardhatillah Maulidah, Mahasiswi Universitas Tazkia, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Duka Palestina adalah barometer keimanan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Hari ini, ketika kita menengadah ke arah kiblat pertama, Baitulmaqdis, kita tidak hanya melihat hamparan puing, melainkan sebuah luka besar yang sedang diuji dengan makar paling licik dalam sejarah modern.

Baitulmaqdis bukan sekadar sepetak tanah. Ia adalah jantung umat Islam. Jika jantung itu terluka maka seluruh tubuh umat ini seharusnya merasakan sakitnya. Namun, pada saat darah para syuhada masih hangat membasahi bumi para nabi, para pemangsa dari Barat justru sedang sibuk membagi-bagi “kue” ekonomi di atas meja judi internasional.

Mardhatillah Maulidah, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Kejahatan Penjajahan yang Tak Terhenti: Fakta Terkini Gaza

Tanpa henti dan tanpa belas kasihan, jumlah korban jiwa di Jalur Gaza terus merangkak naik akibat agresi Zionis yang kian brutal, hingga menyentuh angka mengerikan yakni 71.662 jiwa per akhir Januari 2026. Mayoritas dari mereka adalah perempuan dan anak-anak yang tak berdosa. Data terbaru mencatat sedikitnya 171.428 orang lainnya menderita luka-luka akibat mesin perang yang tak kunjung usai (Republika/Aljazirah, 28/01/2026).

Fakta yang paling menyingkap wajah asli penjajah adalah penemuan jenazah sandera terakhir warga Israel, Ran Gvili, nyatanya sama sekali tidak menyurutkan hasrat membunuh Zionis, padahal pihak perlawanan melalui Brigade Al-Qassam telah menutup berkas tawanan sepenuhnya secara transparan yang seharusnya secara logika militer menghilangkan segala dalih bagi Israel untuk melanjutkan serangan (Herald ID/Republika, 30/01/2026).

Namun di lapangan, kebiadaban justru terus dipacu sebagai bukti bahwa agenda penjajahan Zionis Israel terus berjalan. Berdasarkan laporan medis dari Rumah Sakit Arab Al-Ahli, hanya dalam waktu 24 jam terakhir, penembakan Israel di dekat Pemakaman Al-Batsh terus menewaskan sipil.

Tragedi kian memuncak dengan gugurnya seorang bayi berusia dua belas hari di RS Al-Rantisi akibat infeksi parah di tengah kelangkaan fasilitas medis yang sengaja dihancurkan penjajah (WAFA, 28/01/2026). Hingga kini, setidaknya 714 jenazah baru saja dievakuasi dari bawah reruntuhan, sementara ribuan nyawa lainnya masih terjebak di bawah beton tanpa bisa dijangkau oleh ambulans dan kru penyelamat. Semua fakta ini menegaskan satu hal: target Zionis bukanlah soal sandera, melainkan pembersihan etnis secara total dan sistematis di Gaza.

Makar “New Gaza”: Menimbun Sejarah dengan Beton Kapitalisme

Di tengah kebiadaban Zinonis Israel yang luar biasa ini, Amerika Serikat (AS) melalui Jared Kushner justru memamerkan proyek ambisius bernama “New Gaza” di Forum Davos 2026. Proyek senilai $25 miliar ini bertujuan menyulap Gaza menjadi pusat ekonomi pasar bebas yang dilengkapi dengan 180 menara apartemen mewah, pelabuhan logistik, hingga pusat data canggih (MEE (Middle East Eye), 22/01/2026).

Secara analisis, proyek ini adalah upaya jahat untuk menghilangkan jejak genosida. AS dan Israel ingin dunia melupakan fakta bahwa di bawah gedung-gedung mewah itu terkubur ribuan syuhada. Mereka ingin mengganti memori perlawanan umat dengan gaya hidup materialistik.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Israel, ambisi mereka adalah menghancurkan seluruh Gaza dan mengusir paksa warganya agar wilayah tersebut bersih dari “gangguan” perlawanan (BBC News, 23/01/2026). Pembangunan “New Gaza” adalah cara halus untuk melakukan penjajahan ekonomi secara total setelah penjajahan militer dilakukan secara brutal.

Siasat “Dewan Perdamaian”: Membeli Legitimasi dengan Dolar

Guna memuluskan kendali politiknya, AS membentuk Dewan Perdamaian Gaza (DPG) atau Board for Peace. Badan ini dirancang untuk merangkul negeri-negeri Muslim agar mau terlibat dalam pengelolaan Gaza pasca-perang. Namun, syaratnya sangat menjerat: setiap negara anggota wajib membayar biaya keanggotaan sebesar $1 miliar atau senilai Rp.16,7 trilliun rupiah (MEE, 22/01/2026).

Ini adalah pengkhianatan yang nyata. Barat sedang mencoba membeli suara dan harga diri pemimpin negeri muslim agar mereka melegitimasi penghapusan identitas Palestina. Dewan ini dibentuk untuk memastikan Gaza berada dalam kendali total AS-Israel tanpa adanya perwakilan dari rakyat Palestina sendiri. Fokus dewan ini adalah demiliterisasi, yang artinya melucuti setiap senjata perlawanan umat dan memastikan Gaza tetap menjadi wilayah yang mandul secara politik dan militer (Media Indonesia, 23/01/2026).

Analisis Ideologis: Palestina adalah Amanah Akidah Kaum Muslim

Kita harus memahami dengan jernih bahwa masalah Palestina bukanlah masalah kemanusiaan biasa atau penjajahan saja, Secara ideologis, setidaknya ada tiga alasan fundamental mengapa Baitulmaqdis adalah kehormatan kita:

Pertama, Tanah Kharajiyah: Palestina ditaklukkan oleh pasukan kaum Muslim di masa Khalifah Umar bin Khaththab. Sejak saat itu, statusnya adalah tanah milik seluruh umat Islam hingga akhir zaman. Tidak ada satu pun penguasa atau organisasi yang berhak menyerahkan atau menjual sejengkal pun tanah ini kepada penjajah.

Kedua, Barometer Kemuliaan Umat: Baitulmaqdis adalah barometer kekuatan Islam di dunia. Sejarah mencatat, jika Islam kuat, Baitulmaqdis mulia di bawah naungan syariat. Jika Islam lemah, Baitulmaqdis dizalimi oleh tangan-tangan kafir. Keterpurukan Palestina hari ini adalah refleksi dari keterpurukan kepemimpinan umat Islam secara global.

Ketiga, Tempat Suci yang Diberkati: Palestina adalah kiblat pertama umat Islam dan tempat Rasulullah SAW melakukan Isra Mikraj. Mengabaikan penderitaan di tanah ini sama saja dengan mengabaikan kemuliaan agama kita.

Konstruksi Solusi: Menuju Persatuan Umat

Solusi bagi Palestina tidak akan pernah lahir dari meja perundingan di Davos atau dari investasi apartemen mewah. Solusi hakiki hanya dapat diraih melalui langkah-langkah konkret yang berlandaskan syariat:

Pertama, Melawan Makar “New Gaza”: Umat Islam wajib menolak segala bentuk proyek yang bertujuan menormalkan penjajahan. Apartemen mewah di atas tanah kaum muslimin adalah penghinaan bagi darah para syuhada.

Kedua, Mengakhiri Sekat Nasionalisme: Penguasa negeri Muslim terhalang untuk menolong Palestina karena belenggu Nation-State (negara bangsa). Mereka lebih memilih mengirim bantuan logistik daripada mengerahkan pasukan militer karena merasa Palestina bukan urusan “dalam negeri” mereka. Ini adalah pemikiran yang merusak ikatan akidah.

Ketiga, Mobilisasi Militer (Jihad): Mengusir penjajah hanya bisa dilakukan dengan kekuatan yang sepadan. Umat harus terus menyeru para penguasa untuk mengirimkan tentara guna membebaskan Al-Aqsa, bukan sekadar mengirimkan kain kafan atau obat-obatan

Persatuan umat yang hakiki hanya mungkin terwujud di bawah satu kepemimpinan politik Islam yang akan menjadi perisai (junnah) yang akan membubarkan Dewan Perdamaian buatan Barat dan mengembalikan martabat Baitulmaqdis ke tangan kaum Muslim.

Umat Islam bagaikan satu tubuh. Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan menyantuni di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (H.R. Muslim).

Jika hari ini kita merasa tenang melihat makar “New Gaza” sementara saudara kita dibantai maka tanyakanlah pada iman kita. Baitulmaqdis adalah barometer umat. Ketika Al-Aqsa dihinakan, itu adalah penghinaan bagi kita semua. Allah SWT telah memberikan peringatan keras dalam Al-Qur’an, “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (Q.S. An-Nisa: 141).

Memberikan jalan bagi proyek “New Gaza” dan dominasi Barat atas Palestina adalah bentuk pelanggaran nyata terhadap ayat Allah. Mari bergerak bersama untuk terus menyuarakan kebenaran Agama kita. Jangan biarkan Baitulmaqdis terus terbelenggu. Mari kita perjuangkan persatuan umat dalam bingkai Daulah Islamiah, karena hanya dengan itulah, dominasi Barat akan runtuh dan bumi Syam akan kembali merasakan keberkahan syariat yang sesungguhnya. (Ridha/BJN).

***

Daftar Pustaka

Antara News. (2025). Blokade Total Israel dan Krisis Kelaparan di Gaza.  https://www.antaranews.com/tag/blokade-total-israel

BBC News Indonesia. (2026, Januari 23). Pembangunan ‘Gaza Baru’ Versi AS: Gedung Pencakar Langit di Atas Puing. Penulis: David Gritten. https://www.bbc.com/indonesia/articles/clymmppzkzpo

Media Indonesia. (2026, Januari 23). Profil Jared Kushner: Arsitek Rekonstruksi Gaza. https://mediaindonesia.com/internasional/852885/profil-jared-kushner-menantu-donald-trump-dan-arsitek-rekonstruksi-gaza#goog_rewarded

Middle East Eye (MEE). (2026, Januari 22). Jared Kushner Unveils ‘Free Market Gaza’ with Coastal Towers and Data Centres. https://www.middleeasteye.net/news/jared-kushner-unveils-free-market-gaza-coastal-towers-and-data-centres

The National. (2026, Januari 30). Pejabat Senior IDF: Korban Tewas di Gaza Mencapai 70.000 Jiwa. https://voi.id/berita/554933/militer-israel-yakini-korban-tewas-warga-gaza-mencapai-70-000-jiwa

Ustadz Budi Mulyana, S.I.P., M.Si. (2024).Wawancara: Hanya Khilafah Yang Mampu Membebaskan Palestina. https://alwaie.net/hiwar/ustadz-budi-mulyana-s-i-p-m-si-hanya-khilafah-yang-mampu-membebaskan-palestina

Republika/Aljazirah. (2026, Januari 28). Jenazah Sandera Ditemukan, Pembunuhan Di Gaza Berlanjut. Diakses dari https://khazanah.republika.co.id/berita/s7ylit451/jenazah-sandera-ditemukan-pembunuhan-di-gaza-berlanjut

***

Judul:Makar “New Gaza”: Menimbun Jejak Genosida dengan Beton Kapitalisme

Penulis: Mardhatillah Maulidah, mahasiswi Institut Tazkia

Editor: JHK

Sekilas tentang penulis

Sekilas tentang penulis

Mardhatillah Maulidah, atau akrab disapa Ridha, adalah seorang muslimah berdarah Bugis-Buton yang saat ini aktif sebagai mahasiswi sekaligus pengajar di kampus pengkaderan Dai. Selain di dunia akademik, ia juga mendedikasikan waktunya sebagai aktivis dakwah yang fokus pada pengembangan umat.

Dengan motto hidup “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk umat”, Ridha memiliki kegemaran belajar dan aktif dalam berbagai aktivitas sosial. Melalui karya-karyanya, ia bertekad untuk mengukir sejarah kehidupan yang bermakna dan senantiasa berusaha agar setiap langkahnya diberkahi dan mendapatkan Ridho Allah SWT.

***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *