Beranda / Sosial / Dua Pukul Enam Pagi: Antara Sunyi yang Kelaparan dan Dengung yang Kekenyangan

Dua Pukul Enam Pagi: Antara Sunyi yang Kelaparan dan Dengung yang Kekenyangan

Suasana pagi

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Selasa (27/01/2026) – Esai berjudul “Dua Pukul Enam Pagi: Antara Sunyi yang Kelaparan dan Dengung yang Kekenyangan” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Pukul enam pagi. Bagi alam semesta, ini hanyalah sebuah titik waktu yang sama yang dijalani oleh semua makhluk di bawah matahari yang terbit. Namun, bagi bangsa ini, pukul enam pagi adalah sebuah ilusi yang terpecah belah. Ia bukan satu realitas, melainkan dua dunia paralel yang berjalan dalam irama yang bertolak belakang, dipisahkan oleh sebuah tembok tak kasat mata bernama nasib dan kekuasaan.

Di satu sisi, ada pukul enam pagi yang dibangun dari kepasrahan. Ini adalah paginya sebagian besar rakyat. Mata mereka terbuka bukan karena semangat, melainkan karena desakan perut yang keroncongan atau beban hutang yang sudah mengetuk pintu hati. Mereka bangun dari tempat tidur yang mungkin tak lagi nyaman, memandang dapur dengan pandangan nanar.

Suasana pagi yang sibuk di jalanan perkotaan – (Sumber: Arie/BJN)

Pendaringan” ─ lumbung penyimpanan beras tradisional itu, kini hanya menjadi metafora akan kelaparan; kosong melompong, bagai cangkang kerang tanpa isi. Harapan pagi mereka sederhana: apakah hari ini ada sebutir nasi untuk anak-anak? Atau adakah lowongan kerja serabutan yang bisa menahan desakan rentenir?

Kehidupan bagi mereka adalah sebuah kenyataan yang kabur, seperti dilihat melalui kaca berdebu. Hanya menyisakan kepedihan dan rasa perih di ulu hati yang jauh lebih menyiksa daripada sekadar lapar fisik. Ini adalah sunyi yang mencekam, sunyinya jiwa-jiwa yang terdampar di tepian negerinya sendiri.

Namun, berselang hanya beberapa kilometer—atau mungkin hanya beberapa blok—dari sunyi itu, bergema sebuah pukul enam pagi yang sama sekali berbeda: pagi yang penuh dengung kekenyangan.

Bagi segelintir pemegang jabatan, matahari terbit adalah lampu starter bagi sebuah perlombaan mengejar rente. Mereka bangun dengan semangat membara, bukan untuk berjuang mencari nafkah, tetapi untuk menandatangani nasib triliunan rupiah yang sudah teronggok di meja rapat.

Sarapan sarapan para pejabat itu, mungkin roti Prancis dengan selai impor, sambil mata mereka mengecek dokumen proyek fiktif atau penggelembungan anggaran. Janji temu pagi mereka bukan dengan calon majikan, melainkan dengan calon komisi yang dihitung dalam persentase yang fantastis, plus saham-saham — dalam canda mereka yang sinis akan cukup untuk “tujuh keturunan”.

Dunia mereka adalah dunia yang dibangun dari kemewahan yang hampir tak masuk akal. Isi rekening mereka adalah deretan angka yang aduhai, bagai mantra yang melenyapkan semua kesulitan.

Rumah mereka bukan lagi tempat tinggal, melainkan galeri pameran: lantai marmer Italia, lemari pakaian yang menjadi museum fashion mewah, dan perhiasan miliaran rupiah yang tak lagi dianggap berharga—ia tergolek begitu saja di meja rias, di samping tempat tidur. Bahkan, di dekat kotak tisu di kamar mandi, bagai aksesori biasa yang kalah pamor dengan gawai terbaru.

Garasi rumah mereka lebih mirip showroom mobil. Kendaraan berderet, lengkap dengan plat nomor ganjil-genap pilihan, siap mengantar mereka ke mana pun dengan kemewahan yang terjamin. Tentu saja, perjalanan itu akan diiringi oleh pengawalan ketat dan bunyi strobo yang menyayat telinga biasa. Bagi kita, itu adalah pertunjukan kekuasaan. Bagi mereka, itu hanyalah hal biasa ─ rutinitas yang membosankan.

Dua pukul enam pagi ini hidup berdampingan dalam sebuah paradoks yang memilukan. Di satu sisi ada orang yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup (survive), sementara orang yang lain berlomba untuk mengakumulasi kekayaan (hoard).

Ilustrasi: Perjuangan seorang ayah mengantarkan anaknya pergi ke sekolah – (Sumber: Arie/BJN)

Satu sisi ada orang yang dicekik oleh realitas pahit, sementara itu orang yang lain sedang mabuk oleh ilusi kekuasaan yang tak terbendung. Jarak antara kedua dunia ini bukan lagi jurang, melainkan lompatan dimensi. Mereka yang lapar tidak bisa menjangkau dunia yang kekenyangan, sementara mereka yang kekenyangan telah lama kehilangan koneksi emosional untuk memahami bahasa kelaparan.

Bahaya terbesar bukanlah pada adanya ketimpangan itu sendiri—sebab dalam kadar tertentu, itu adalah hukum alam—tetapi pada normalisasi dan imunitas moral yang menyertainya.

Ketika korupsi tidak lagi dilihat sebagai kejahatan, tetapi sebagai “budaya” atau “kompensasi politik” maka bangsa ini sedang memelihara kanker ganas di dalam tubuhnya sendiri. Ketika seorang pejabat bisa dengan santai memamerkan kekayaannya di tengah lautan kemiskinan rakyatnya maka itu pertanda bahwa rasa malu telah menjadi barang langka.

Pukul enam pagi akan terus bergulir. Matahari akan terus terbit. Pertanyaannya: Apakah kedua dunia yang terpecah ini suatu hari nanti akan menemukan titik temu? Atau apakah kita terus membiarkan bangsa ini hidup dalam skizofrenia kolektif, di mana pukul enam pagi bagi sebagian adalah doa untuk sesuap nasi dan bagi yang lain adalah sinyal untuk mulai menggerus uang rakyat?

Jawabannya tidak terletak pada langit, tetapi pada niat dan nurani kita bersama untuk merobohkan tembok pemisah itu dan mengupayakan sebuah pukul enam pagi yang lebih adil bagi semua. 

***

Judul: Dua Pukul Enam Pagi: Antara Sunyi yang Kelaparan dan Dengung yang Kekenyangan

Penulis: Didin Tulus, sang Petualang Pameran Buku

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Didin Tulus
Didin Tulus, Penulis – (Sumber: Didin Tulus/BJN)

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *