Beranda / Opini / Situmang: Simbol Kesetiaan dan Kebijaksanaan yang Menjaga Martabat Sunda

Situmang: Simbol Kesetiaan dan Kebijaksanaan yang Menjaga Martabat Sunda

Situmang dan Dayang Sumbi

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Kamis (18/12/2025) – Esai berjudul Situmang: Simbol Kesetiaan dan Kebijaksanaan yang Menjaga Martabat Sundaini adalah karya Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Dalam kehidupan sehari-hari, hinaan sering datang tanpa alasan yang jelas. Orang Sunda, seperti banyak komunitas lain, kerap menjadi sasaran ejekan yang merendahkan. Kata-kata kasar itu memang menyakitkan, tetapi jika direnungkan lebih dalam, sesungguhnya ia bisa menjadi pintu masuk untuk kembali mengingat warisan budaya yang luhur. Alih-alih larut dalam amarah, kita justru diajak untuk menengok kembali filosofi dan tatanan yang telah diwariskan leluhur sejak ribuan tahun lalu.

Dayang Sumbi
Ilustrasi: Situmang dan Dayang Sumbi sedang berada di dalam hutan – (Sumber: Arie/BJN)

Orang Sunda dikenal dengan prinsip silih asah, silih asih, dan silih asuh—sebuah filosofi hidup yang menekankan pada kebersamaan, kasih sayang, dan saling mendidik. Prinsip ini bukan sekadar slogan, melainkan fondasi moral yang membentuk karakter masyarakat Sunda. Ketika ejekan datang, wajar jika hati tersulut. Namun, kemarahan sesaat tidak seharusnya merusak nilai luhur yang telah dijaga turun-temurun. Justru di saat itulah kita perlu mengingat kembali simbol Situmang.

Situmang ─ dalam cerita rakyat Sangkuriang digambarkan sebagai anjing peliharaan Dayang Sumbi, sesungguhnya bukan sekadar tokoh dongeng. Ia adalah simbol hukum, etika, dan ketatanegaraan.

Leluhur Sunda menempatkan Situmang sebagai representasi dari tiga pilar kekuasaan: resi sebagai legislatif, ratu sebagai eksekutif, dan rama sebagai yudikatif. Ketiganya diikat oleh nilai moral tertinggi, yaitu ketuhanan. Dengan demikian, jauh sebelum Barat mengenalkan konsep trias politika, masyarakat Sunda telah memiliki sistem yang matang, etis, dan beradab.

Mengapa anjing dipilih sebagai simbol? Karena anjing dikenal setia, waspada, dan teguh. Kesetiaan itu mencerminkan bahwa kekuasaan harus tunduk pada prinsip, bukan pada ego atau nafsu sesaat.

Kewaspadaan menunjukkan bahwa hukum harus selalu siap menjaga keseimbangan masyarakat. Teguh berarti hukum tidak boleh buta nurani. Dengan menempatkan anjing sebagai simbol tertinggi, leluhur Sunda seakan menyindir manusia: jika seekor anjing bisa menjaga hukum dan tatanan, mengapa manusia tidak?

Di sinilah letak kebijaksanaan yang sering terlupakan. Hinaan dari luar sebenarnya hanya menyentuh permukaan identitas kita. Hal yang lebih dalam adalah warisan hukum, etika, dan filosofi yang tetap kokoh. Mengetahui sejarah ini memberi perlindungan yang jauh lebih kuat daripada kemarahan spontan. Pengetahuan menjadi perisai yang melindungi martabat. Dengan memahami Situmang, ejekan tidak lagi merusak harga diri, melainkan menjadi pengingat akan kebijaksanaan leluhur.

Ada tiga alasan mengapa simbol Situmang penting untuk terus diingat. Pertama, ia menegaskan kebanggaan akan sejarah dan budaya. Orang Sunda bukan sekadar suku dengan dongeng tanpa makna, melainkan bagian dari peradaban yang telah menata hukum ribuan tahun lalu.

Kedua, Situmang mengajarkan keseimbangan dan keadilan. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan harus diikat etika, hukum harus berpihak pada kebaikan bersama, dan keadilan tidak boleh buta hati nurani.

Ketiga, Situmang adalah simbol pengetahuan. Dengan memahami sejarah, kita belajar menghadapi kebodohan dengan ketenangan, bukan dengan amarah.

Dalam konteks modern, pesan ini terasa semakin relevan. Dunia kini penuh dengan ujaran kebencian, polarisasi, dan konflik identitas. Orang mudah tersulut oleh kata-kata kasar di media sosial atau percakapan sehari-hari. Namun, jika kita meneladani filosofi Situmang, kita diajak untuk tidak reaktif, melainkan reflektif.

Kita belajar bahwa kebesaran budaya tidak diukur dari seberapa keras kita membalas hinaan. Namun, dari seberapa teguh kita menjaga ajaran leluhur dengan kepala dingin dan hati jernih.

Situmang juga mengingatkan bahwa hukum tidak boleh berjalan liar tanpa etika. Ketika kekuasaan melupakan nilai moral, masyarakat akan kehilangan arah. Leluhur Sunda telah menegaskan bahwa hukum, kekuasaan, dan keadilan harus selalu berpijak pada nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Pesan ini seakan menampar kesombongan manusia modern yang sering menganggap dirinya lebih bijak daripada tradisi. Padahal, tradisi justru menyimpan kebijaksanaan yang lebih dalam.

Pada akhirnya, ejekan hanyalah riak sesaat di permukaan kehidupan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kita meresponsnya. Dengan mengingat Situmang, kita tidak sekadar memeluk dongeng lama, tetapi menegakkan nilai, menjaga martabat, dan memahami bahwa kebijaksanaan leluhur lebih kuat daripada kata-kata yang lewat begitu saja.

Orang Sunda, baik muda maupun tua, perlu menyadari bahwa mereka adalah pewaris peradaban yang cerdas dan beradab. Kesadaran ini memungkinkan kita untuk tetap teguh, berpijak pada nilai, dan bijak menghadapi dunia.

Hinaan mungkin datang dan pergi, tetapi tatanan, hukum, dan martabat budaya yang diwariskan ribuan tahun tetap ada. Tugas kita adalah memahami, menghargai, dan meneruskan warisan itu dengan kepala tegak.

Situmang bukan sekadar simbol dalam cerita rakyat, melainkan cermin dari siapa kita sebenarnya: bangsa yang setia pada nilai, waspada terhadap kebodohan, dan teguh menjaga keadilan.

***

Judul: Situmang: Simbol Kesetiaan dan Kebijaksanaan yang Menjaga Martabat Sunda
Penulis: Didin Tulus, sang Petualang Pameran Buku
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin Tulus, Penulis – (Sumber: Didin Tulus/BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *