Santri Penjaga Makna, Bukan Pionnya Kapital Dunia
BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Kamis (23/10/2025) – Artikel bertajuk “Santri Penjaga Makna, Bukan Pionnya Kapital Dunia” ini adalah karya Siti Agustin Nurjanah, S. Pd., seorang penulis dan pendidik yang mengajar di sekolah dan pengajar privat. Beberapa tulisannya bisa dibaca di akun Instagram @sitiagustinnurjanah29.
Beberapa waktu lalu, bangsa ini kembali memperingati Hari Santri dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”. Presiden Prabowo dalam pidatonya menyerukan agar para santri, kiai dan nyai menjadi penjaga moral bangsa serta pelopor kemajuan yang menguasai ilmu agama dan ilmu dunia.

Presiden Prabowo juga mengingatkan sejarah penting Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 tonggak perjuangan santri dalam merebut kemerdekaan dan menjaga keutuhan negeri. Namun sayangnya, penghormatan terhadap santri kerap berhenti hanya pada seremonial simbolik. Di balik pujian dan penghargaan, pesantren dan para santri justru mengalami pergeseran fungsi yang mengkhawatirkan. Warisan pesantren sebagai pusat ilmu dan penjaga syari’at mulai diarahkan menjadi bagian dari mekanisme ekonomi pasar yang dikapitalisasi.
Beragam program pemerintah dan korporasi kini mendorong pesantren menjadi pelaku industri halal, penggerak UMKM dan mitra pengembangan ekonomi syari’ah. Sekilas tampak positif, namun di balik itu tersimpan arus kapitalisasi pendidikan santri di mana fungsi spiritual dan keilmuan pesantren digantikan oleh logika produktivitas dan laba. Pesantren yang dahulu mencetak mujahid ilmu, kini diarahkan untuk melahirkan wirausahawan religius.
Tak berhenti di sana, arus konsep moderasi beragama terus digaungkan. Kementerian Agama juga menjadi alat untuk membentuk Islam ramah pasar. Nilai-nilai toleransi yang terlalu berlebihan dan kabur batasnya justru mengikis kemurnian akidah dan mengaburkan makna dakwah. Pesantren yang semestinya menjadi benteng akidah kini perlahan diintegrasikan ke dalam sistem yang mensterilkan semangat perjuangan Islam.
Dalam sejarah Islam, perubahan besar justru lahir dari pembinaan ruhiyah dan pemikiran yang murni. Rasulullah SAW memulai dakwahnya di Makkah dengan membina individu dan kelompok yang memiliki Syakhsiyyah Islamiyyah atau kepribadian Islam yang terdiri dari aqliyah dan nafsiyah Islam yang kokoh dan berpijak pada akidah. Dari proses itu lahir generasi sahabat yang siap mengorbankan jiwa dan harta demi tegaknya kebenaran, hingga akhirnya Allah menolong perjuangan mereka dengan terwujudnya Daulah Islam pertama di Madinah.

Terkait dengan hal tersebut, santri hari ini harus kembali kepada jati dirinya. Ia bukan alat proyek, bukan pion dari sistem kapital, dan bukan komoditas dalam industri religius. Santri adalah penjaga makna, penjaga aqidah, syariat, dan peradaban Islam. Ia harus menjadi pelopor perubahan yang berangkat dari ilmu, iman, dan keberanian melawan sistem yang zalim.
Negara pun seharusnya hadir sebagai ra’in pengurus rakyat yang menjamin lahirnya generasi pejuang Islam sejati, bukan sekadar tenaga ekonomi. Rasulullah SAW bersabda: “Imam adalah pengurus rakyat, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Negara wajib menumbuhkan sistem pendidikan yang membentuk iman, takwa, dan kesadaran politik Islam, bukan sekadar melahirkan pekerja kompetitif. Menyalakan kembali api makna Hari Santri bukan sekadar perayaan dengan baju koko baru dan slogan heroik. Ia seharusnya menjadi momentum tafakur mengingat kembali ruh perjuangan ulama dan santri yang dulu berdiri di garis depan menegakkan kalimat La ilaha illallah.
Dulu mereka berjuang bukan untuk kuasa atau proyek duniawi, melainkan demi tegaknya Islam di muka bumi. Kini, ruh itu pudar, tertutup jargon “santri mandiri” dan “ekonomi pesantren” yang lebih sering dimaknai sebagai bagian dari skema pasar.
Santri sejati bukan alat legitimasi politik, bukan pula pelengkap narasi pembangunan nasional. Mereka adalah penjaga risalah, pewaris amanah Rasulullah SAW untuk menghidupkan kembali Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu tugas santri masa kini bukan hanya menghafal kitab, tapi juga membaca zaman dengan pandangan tauhid mengkritisi ketimpangan, melawan penindasan, dan menolak tunduk pada sistem yang menukar nilai dengan keuntungan.
Kebangkitan santri berarti kebangkitan makna: mengembalikan ilmu kepada tujuannya yang hakiki menuntun manusia menuju ridha Allah.
Jika pesantren kembali menjadi pusat pembentukan pribadi ‘abid sekaligus mujahid maka lahirlah generasi santri yang bukan sekadar cerdas secara intelektual, tapi juga tajam secara ideologis dan teguh secara spiritual. Mereka inilah yang akan menjadi pembangun peradaban Islam sejati peradaban yang menegakkan keadilan, bukan mengejar laba. Menjadi santri yang menebar rahmat, bukan menumpuk manfaat dunia.
“Santri Penjaga Makna, Bukan Pionnya Kapital Dunia” bukan hanya kalimat indah. Ia seruan untuk kembali kepada fitrah perjuangan yaitu menjaga agama, menegakkan nilai dan menolak tunduk pada sistem zalim. Karena dari pesantren yang menjaga makna akan lahir peradaban yang menjaga manusia. (Siti Agustin Nurjanah).
***
Judul: Santri Penjaga Makna, Bukan Pionnya Kapital Dunia
Penulis: Siti Agustin Nurjanah, S. Pd.
Editor: JHK
Sekilas tentang penulis:
Siti Agustin Nurjanah, lahir di Bandung, 29 Agustus 2001. Saat ini kegiatan yang dilakukan adalah mengajar di lembaga sekolah juga privat. Selain itu ia juga sedang mengembangkan bakatnya di bidang kepenulisan dengan menulis artikel/opini ke berbagai media online. Ia juga pernah menulis buku antologi cerpen bersama para penulis lainnya.
Berbagai kegiatan dan karya-karya tulisan Siti bisa dilihat di akun Instagramnya dengan nama akun @sitiagustinnurjanah29.
***
