Nasib Korban Bencana Sumatera Menjelang Ramadan

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Sabtu (21/02/2026) – Artikel berjudul “Nasib Korban Bencana Sumatera Menjelang Ramadan” ini ditulis oleh Suryani, seorang ibu rumah tangga kelahiran Jakarta yang kini menetap di Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Bencana yang melanda wilayah Sumatera kembali menyisakan duka mendalam. Pada saat umat Islam bersiap menyambut bulan suci Ramadan dengan harapan dan suka cita, sebagian saudara kita justru harus menghadapi kenyataan pahit. Rumah mereka yang rusak, serta harta benda yang hilang. Bahkan, keluarga yang terpisah.

Suryani
Suryani, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di tengah suasana penuh ujian ini, Ramadan datang bukan sekadar sebagai penanda waktu, tetapi sebagai panggilan empati menggerakkan kepedulian, menguatkan solidaritas, dan mengingatkan bahwa setiap musibah menuntut hadirnya perhatian dan tanggung jawab bersama.

Menjelang Ramadan, ribuan warga di Aceh masih bertahan di tempat pengungsian. Pada sejumlah kabupaten yang terkena musibah, hunian sementara belum selesai dibangun dan aliran listrik pun belum kembali normal. Masyarakat terpaksa mengandalkan bantuan dari sesama karena mereka belum dapat kembali bekerja.

Sementara itu, bantuan dari pemerintah dinilai berjalan lambat. Kondisi ini membuat ketahanan pangan para korban bencana berada dalam situasi yang sangat rentan. Sumber: Kompas .(12/02/2026).

Negara tampak abai terhadap nasib korban bencana di Sumatra, khususnya Aceh, menjelang Ramadan. Pada saat umat Islam seharusnya bersiap menyambut bulan ibadah dengan ketenangan, ribuan warga justru masih bertahan di pengungsian dengan hunian sementara yang belum tuntas dan fasilitas dasar yang belum pulih.

Di satu sisi, pemerintah mengklaim telah mengeluarkan berbagai kebijakan rekonstruksi pascabencana. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masyarakat belum mendapatkan riayah (pengurusan) yang memadai.

Ilustrasi: Masyarakat tidur di tenda pengungsian dalam kondisi yang memprihatinkan – (Sumber: Arie/BJN)

Negara tidak menjalankan fungsinya sebagai raa’in (pengurus rakyat). Akibatnya, pemulihan wilayah terdampak berjalan lambat, tidak terkoordinasi optimal, dan minim keberpihakan pada kebutuhan mendesak warga. Infrastruktur belum sepenuhnya pulih, akses ekonomi terhambat, dan ketahanan pangan masyarakat masih rapuh.

Model kepemimpinan kapitalistik cenderung menjadikan kebijakan sebagai instrumen pencitraan. Fokusnya sering kali pada klaim keberhasilan administratif dan publikasi program, bukan pada penyelesaian masalah secara menyeluruh. Kebijakan dibuat tambal sulam, berorientasi proyek, dan terikat pada hitung-hitungan anggaran yang kaku, sehingga kurang responsif terhadap kebutuhan riil korban bencana.

Dalam perspektif Islam, negara memandang rakyat sebagai amanah yang wajib diurus dengan penuh tanggung jawab. Penguasa diposisikan sebagai raa’in yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, sebagaimana ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Negara sangat memperhatikan pelaksanaan ibadah rakyatnya. Menjelang Ramadan, negara memastikan kondisi masyarakat kondusif agar mereka dapat beribadah secara optimal. Pemulihan listrik, air, tempat tinggal, serta distribusi kebutuhan pokok menjadi prioritas agar Ramadan tidak dilalui dalam kesulitan.

Dalam sistem Islam wilayah terdampak bencana mendapat perhatian khusus. Negara segera mengerahkan kebijakan terpadu, anggaran yang memadai, serta sumber daya manusia terbaik untuk percepatan rekonstruksi. Hunian, fasilitas umum, sarana ibadah, hingga aktivitas ekonomi dipulihkan secara sistematis.

Visi riayah dalam hukum Islam menjadikan kebijakan benar-benar berorientasi solusi. Pengelolaan anggaran difokuskan pada kebutuhan rakyat, bukan pada kepentingan citra atau kepentingan politik jangka pendek. Setiap kebijakan diukur dari sejauh mana ia mampu menyelesaikan problem rakyat secara nyata.

Negara tidak membatasi anggaran untuk penanganan bencana. Dalam sistem keuangan Islam, terdapat pos pemasukan tetap seperti fai’, kharaj, jizyah, dan pengelolaan kepemilikan umum, serta mekanisme dharibah (pungutan temporer dari kaum muslim yang mampu) bila kas negara membutuhkan tambahan dana. Dengan mekanisme ini, negara selalu memiliki sumber pendanaan untuk memastikan rekonstruksi berjalan cepat dan tuntas. (Suryani)

***

Judul: Nasib Korban Bencana Sumatera Menjelang Ramadan

Penulis: Suryani, Ibu Rumah Tangga

Editor: JHK