Manusia Modern: Hidup Nyaman, tetapi Hampa
BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Rabu (29/10/2025) – Artikel berjudul “Manusia Modern: Hidup Nyaman, tetapi Hampa” ini merupakan karya original dari Yoyo C. Durachman, seorang penulis, pengarang, dosen, sutradara, dan budayawan Cimahi. Saat ini aktif sebagai anggota Dewan Penasehat, Pakar, dan Pengawas (DP3) Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).
Kehidupan modern menawarkan segalanya: kenyamanan, kecepatan, dan kemudahan. Dengan sekali sentuh layar, kita bisa berbelanja sambil bekerja. Bahkan, bisa tetap berhubungan dengan siapa pun di belahan dunia lain. Namun, di balik kecanggihan ini, muncul fenomena yang patut direnungkan: manusia modern perlahan berubah menjadi makhluk satu dimensi.

Hidup dijalani dalam pola yang seragam: bangun pagi, bekerja sesuai jadwal, mengisi waktu luang dengan hiburan digital, lalu tidur untuk mengulang siklus yang sama. Rutinitas ini terlihat rapi dan teratur, tetapi diam-diam menimbulkan keterasingan. Keteraturan membuat kita nyaman. Namun, juga membius, hingga kita lupa melahirkan ide dan pemikiran baru.
Teknologi informasi dan komunikasi hadir dengan janji kebebasan. Namun, sering kali justru kita yang diperbudak olehnya. Algoritma menentukan apa yang kita baca, notifikasi mengatur kapan kita harus menoleh. Bahkan, preferensi hidup pun dipengaruhi oleh arus digital.
Akhirnya, manusia kehilangan daya kritis dan imajinasi, terjebak dalam kepuasan instan. Hidup memang terasa nyaman, tetapi perlahan hampa—nihilisme yang tenang, tanpa makna.
Manusia sejatinya makhluk multidimensi: kita diberi akal untuk berpikir, hati untuk merasa, dan jiwa untuk mencari makna. Namun, gaya hidup modern yang mekanis dan konsumtif membuat kita mereduksi diri menjadi satu dimensi saja—pekerja sekaligus konsumen yang taat.
Krisis terbesar manusia modern bukanlah kurangnya kemudahan, melainkan kehilangan kedalaman. Hidup tanpa refleksi, tanpa keberanian berpikir berbeda, tanpa semangat melampaui batas.
Kita perlu berani keluar dari jebakan kenyamanan monoton. Bukan berarti meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan alat, bukan tuan. Bukan pula menolak keteraturan, tetapi tetap memberi ruang bagi kreativitas, keberanian, dan pencarian makna.
Manusia tidak diciptakan untuk hidup di jalur tunggal. Kita adalah makhluk multidimensi yang perlu terus berpikir, berkarya, dan bertanya. Tanpa itu semua, teknologi hanya akan meninabobokkan kita dalam kenyamanan yang semu.
Pada akhirnya, satu hal yang membedakan manusia dengan mesin bukanlah kecerdasan, melainkan makna. (Yoyo C. Durachman).
***
Judul: Manusia Modern: Hidup Nyaman, tetapi Hampa
Penulis: Yoyo C. Durachman
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang Penulis
Yoyo C. Durachman adalah seorang seniman dan budayawan Cimahi yang multitalenta. Pria kelahiran Bandung, 21 September 1954 ini dikenal sebagai dosen, aktor, sutradara, penulis, pengarang, dan budayawan.
Selama karirnya dalam dunia teater, tidak kurang dari 30 pementasan telah dilakukan Yoyo dengan kapasitas sebagai sutradara, pemain, penata pentas, konsultan, dan pimpinan produksi. Naskah drama berjudul “Dunia Seolah-olah” adalah naskah drama yang ia tulis dan dibukukan bersama naskah drama lain milik Joko Kurnain, Benny Johanes, Adang Ismet, Arthur S. Nalan, dan Harris Sukristian.
Pensiunan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini kini sering diundang sebagai juri maupun sebagai narasumber diberbagai kegiatan kebudayaan. Selain itu, Yoyo juga aktif sebagai anggota Dewan Penasehat, Pakar, dan Pengawas (DP3) Dew
