Maggot Si Rakus Penyelamat Lingkungan dan Peluang Bisnis Bernilai Tinggi
BERITA JABAR NEWS (BJN) ─ Rubrik ARTIKEL/FEATURE, Minggu (14/12/2025) ─ Artikel bertajuk “Maggot Si Rakus Penyelamat Lingkungan dan Peluang Bisnis Bernilai Tinggi” ini adalah hasil tulisan Febri Satria Yazid, seorang pengusaha, penulis, dan pemerhati sosial yang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Di balik tumpukan sampah yang ada di gerobak RW 25 Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Ibu Dewi Tri Handayani, Ketua PKK RW 25, menyampaikan slogannya “No pilah, no angkut”, sebagai titik awal dalam menemukan makhluk kecil yang diam-diam bekerja tanpa henti dan rakus, cepat tumbuh, dan mengubah masalah menjadi peluang. Namanya maggot, larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) yang kini semakin dikenal sebagai solusi hijau untuk pengolahan sampah organik sekaligus bahan pakan ternak seperti ikan, kucing dan ungas.
Apa yang dulu dianggap menjijikkan, kini menjelma menjadi komoditas yang dicari banyak peternak. Bahkan, dari sudut pandang bisnis, maggot telah membuka jalan ekonomi baru yang ramah lingkungan, murah modal, dan mudah dikelola.
Artikel ini mengajak kita menyelami dunia maggot: bagaimana cara membudidayakannya, mengapa ia begitu penting bagi lingkungan, dan seperti apa prospek bisnisnya yang begitu menjanjikan.
Maggot adalah larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens. Berbeda dengan belatung lalat hijau yang berpotensi mencemari, maggot BSF justru merupakan agen pengurai yang sangat efektif. Ia tidak membawa penyakit, tidak tertarik pada makanan manusia, dan tidak hinggap di dapur seperti lalat rumah biasa.

Sifat maggot BSF yang super rakus membuat maggot dijuluki makhluk paling efisien dalam menghabiskan sampah organik. Bayangkan saja, 10.000 ekor maggot mampu melahap 5 kilogram sampah organik hanya dalam waktu 24 jam. Dengan kemampuan inilah banyak pihak mulai menjadikannya sahabat dalam pengurangan sampah rumah tangga.

Salah satu keunggulan beternak maggot adalah peralatannya yang sederhana dan dapat dilakukan siapa saja. Bahkan, dari rumah. Tidak perlu rumit. Wadah bisa berupa baskom, ember, sampai tempat sampah biasa. Yang penting memiliki ruang cukup untuk pertumbuhan maggot.
Baby maggot adalah bibit yang siap diberi makan. Harganya sangat terjangkau yaitu hanya Rp 1.000 per ons dan dari jumlah kecil ini hasilnya bisa berlipat. Baby maggot kemudian diberi pakan dari sampah matang.


Maggot hanya mau makan sampah matang, bukan yang mentah. Artinya, sisa makanan kita yang justru berguna di sini, seperti sisa nasi, sayur matang tanpa kuah, ampas buah, sisa lauk. Pastikan sampah fresh karena sampah yang terlalu lama dibiarkan akan lebih dulu didatangi belatung lalat hijau, sedangkan target kita adalah larva dari lalat hitam BSF. Jadi, semakin segar sampahnya, semakin bersih dan cepat proses penguraiannya.
Waktu hidup maggot sangat singkat hanya sekitar 1,5 bulan dari telur hingga mati sebagai lalat dewasa. Namun dalam waktu singkat itu, manfaat dan nilai ekonomisnya sangat besar. Dari baby maggot hingga mencapai maggot dewasa, memerlukan sekitar 07–14 hari, tergantung jumlah pakan. Semakin banyak pakan, semakin cepat masa panennya.

Lalat BSF dewasa hanya hidup selama 3–7 hari untuk kawin. Setelah bertelur, jantan dan betina mati secara alami. Kasgot (bekas Maggot ini, berkhasiat sebagai pupuk organik/kompos hewani ke KWT Katelia (Kelompok Wanita Tani – Kader Aktif Teliti Lincah dan Amanah).
“Telur BSF inilah yang disebut baby maggot yang dikumpulkan untuk memulai siklus baru. Dengan siklus ini, peternak bisa panen maggot setiap 10–14 hari. Hasilnya stabil dan terus berkelanjutan. Inilah bagian yang membuat banyak orang terkejut,” ungkap ibu Dewi.

Dari 1 ons baby maggot, pebisnis bisa menghasilkan 3–5 kilogram maggot dewasa. Jika satu kilogram maggot basah dihargai Rp 3.000 maka dengan modal awal: Rp 1.000 akan menghasilkan 3 kg × Rp 3.000 = Rp 9.000. Keuntungan bersih: Rp 8.000 hanya dari hasil sampah dapur sehari-hari.
Banyak warga yang memilih menyetorkan maggot panen mereka ke pengepul untuk ditimbang, disortir, dan dibayar saat itu juga atau dijadikan tabungan. Sistem seperti ini sangat cocok untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya di lingkungan padat atau perumahan yang ingin mengurangi sampah sekaligus mendapatkan pemasukan tambahan.

Sesudah disetorkan ke pengelola, maggot akan dibagi menjadi dua jenis pengolahan:
- Maggot Hidup (Live Maggot)
Sebagian maggot dipertahankan untuk siklus BSF selanjutnya. Lalat dewasa akan kawin, bertelur, dan menjadi baby maggot baru. Ini memastikan pasokan bibit tidak pernah habis.
- Maggot Kering (Dried Maggot)
Sebagian lagi dikeringkan dan diolah menjadi pakan unggas, ikan, hingga kucing. Maggot kering sangat diminati karena:
Maggot, Tinggi protein (36–50%), Daya simpan lama (hingga 1 tahun), Ringan dan mudah dikemas. Produk maggot kering kini dijual KWT Katelia RW 25 di e-commerce seperti di Shopee, Tokopedia, TikTok Shop atau secara offline di toko pakan. Harga maggot kering jauh lebih tinggi, sering kali mencapai belasan hingga puluhan ribu rupiah per kilogram.

Bisnis maggot menjanjikan karena dapat dieksekusi dengan modal kecil, kita bisa memulai dengan wadah bekas dan baby maggot Rp 1.000–Rp 5.000. Sumber pakan utama adalah sampah dapur yang biasanya justru dibuang. Maggot adalah pakan bernutrisi tinggi untuk dan mempunyai pasar yang luas , dapat digunakan untuk pakan ayam, ikan, bebek, burung, kucing.
Dengan siklus yang cepat dan permintaan terus meningkat dari tahun ke tahun. Panen dapat dilakukan setiap 10–14 hari, sehingga perputaran modal cepat. Budidaya maggot ini juga sangat membantu lingkungan.
Setiap kilogram maggot bisa mengurai sampah dalam jumlah besar. Semakin banyak maggot, semakin sedikit sampah yang berakhir di tempat pembuangan. Keuntungan lainnya adalah bisnis ini bisa dijalankan dari rumah dengan skalakecil, sedang, atau besar. Cocok bagi ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pengusaha pakan profesional.
Selain menjadi komoditas pakan yang bernilai, maggot adalah solusi konkret untuk masalah sampah organik yang selama ini menjadi beban kota. Bayangkan jika setiap rumah tangga mengolah sampah organiknya dengan maggot, volume sampah ke TPA bisa berkurang hingga 40–60%, bau sampah dapur berkurang drastis sehingga lingkungan lebih bersih dan sehat karena gas metana dari pembusukan bisa ditekan. Menggunakan maggot sama saja membantu bumi tanpa harus melakukan hal rumit.

Yang menarik, budidaya maggot bukan hanya bisnis, tetapi juga bentuk ekonomi sirkular: sampah, pakan, ternak, manfaat ekonomi dan keberlanjutan. Dari warga yang memelihara baby maggot, menjadikannya dewasa, lalu menyetorkannya untuk ditimbang, semuanya saling menguntungkan. Tidak ada bahan yang terbuang sia-sia. Model seperti ini bisa menjadi contoh pengelolaan sampah tingkat komunitas yang paling efektif dan sederhana.
Siapa sangka dari wadah sederhana berisi larva kecil, lahir peluang bisnis yang bukan hanya menguntungkan, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan. Maggot adalah bukti bahwa solusi besar tidak selalu datang dari teknologi canggih. Kadang, ia hadir dari makhluk kecil yang rakus, cepat tumbuh, dan tanpa lelah mengurai sampah manusia.
Dengan modal kecil, pakan gratis, siklus cepat, pasar luas, dan manfaat lingkungan yang sangat besar, maggot bukan lagi sekadar larva. Ia adalah peluang ekonomi, gerakan sosial, dan harapan baru bagi pengelolaan sampah modern. Mungkin pada masa depan, maggot akan menjadi salah satu pilar penting dalam industri pakan dan manajemen sampah di Indonesia.

Pada akhir bincang-bincang, ada kesepakatan yang menggembirakan antara PKK RW 25, Kelurahan Cibabat dengan Forum TBM Kota Cimahi untuk mengadakan “Workshop Budidaya Maggot” dan Ibu Dewi Tri Handayani, alumni Universitas Padjadjaran, Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam tahun 1998, bersedia menjadi Narasumber.
Dunia literasi tidak hanya terbatas pada menulis dan membaca saja. Literasi bukan hanya kemampuan mengenali huruf dan menyusun kata, melainkan kecakapan memahami dunia, mengolah pengalaman, dan mengambil keputusan yang berdampak. Workshop direncanakan akan diselenggarakan pada minggu pertama Januari 2026 yang akan datang bertempat di Lokasi Budidaya Maggot ibu Dewi.
***
Judul: Maggot Si Rakus Penyelamat Lingkungan dan Peluang Bisnis Bernilai Tinggi
Penulis/Jurnalis: Febri Satria Yazid (FSY)
Editor: JHK
