Beranda / Opini / Literasi di Mathlaul Huda Baaleendah: Pesantren di Tengah Darurat Literasi

Literasi di Mathlaul Huda Baaleendah: Pesantren di Tengah Darurat Literasi

Suasana Apel di Pondok Pesantren Mathla’ul Huda Baleendah ( Sumber: Instagram Mathla’ul huda)

Berita Jabar News (BJN), Kolom Artikel/Opini, Senin (8/12/2025) ─ Artikel berjudul “Literasi di Mathlaul Huda Baaleendah: Pesantren di Tengah Darurat Literasi” merupakan sebuah karya tulis Binti Wasunah, seorang Guru Mengaji di Baleendah, Penulis Buku, dan Guru Swasta.

Indonesia hari ini menghadapi persoalan serius dalam dunia literasi. Berbagai laporan internasional dan nasional menunjukkan rendahnya minat baca, kemampuan berpikir kritis, serta kecakapan berbahasa peserta didik di berbagai jenjang pendidikan. Sekolah dan lembaga pendidikan formal kerap terjebak pada rutinitas administratif dan capaian angka, sementara esensi literasi sebagai kemampuan memahami, mengolah, dan mengomunikasikan gagasan sering terpinggirkan.

Binti Wasunah
Binti Wasunah, Penulis/Pengarang – (Sumber: BJN)

Ironisnya, di tengah darurat literasi tersebut, justru banyak pesantren—lembaga pendidikan yang kerap distigmakan tradisional—menunjukkan inovasi yang signifikan. Salah satu contoh yang menarik adalah Pondok Pesantren Mathlaul Huda Baaleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pesantren ini membuktikan bahwa literasi tidak harus diajarkan secara kaku, tetapi dapat hidup melalui bahasa dan seni.

Pesantren Mathlaul Huda mengembangkan pendekatan literasi melalui dua program utama: Drama Contest Multi Bahasa dan Muhadlarah Tiga Bahasa. Keduanya bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan proses pendidikan karakter, bahasa, dan keberanian berbicara.

Pada saat banyak sekolah kesulitan menumbuhkan minat baca dan percaya diri siswa, pesantren ini menjadikan panggung sebagai ruang belajar dan bahasa sebagai alat pembebasan intelektual. Santri bukan hanya membaca teks, tetapi menghidupkan maknanya melalui drama. Mereka tidak hanya menghafal materi dakwah, tetapi menyampaikannya dalam bahasa yang santun dan argumentatif.

Drama islami dalam Bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia menjadi medium literasi aktif. Santri harus memahami teks, menginterpretasi makna, mengatur emosi, dan menyampaikan pesan secara efektif. Ini adalah praktik literasi tingkat tinggi yang jarang disentuh di pendidikan formal.

Kemegahan panggung Drama Kontes di Pondok Pesantren Mathla’ul Huda ,sebuah mahakarya liar biasa santri yang kreatif dan inofatif ( Sumber Instagram Matjla’ul Huda)
Kemegahan panggung Drama Kontes di Pondok Pesantren Mathla’ul Huda, sebuah mahakarya luar biasa santri yang kreatif dan inovatif – (Sumber: Instagram Matjla’ul Huda)

Demikian juga dengan Muhadlarah Tiga Bahasa yang melatih santri untuk berpikir sistematis dan berani berbicara di depan publik. Dalam dunia serba visual dan cepat, kemampuan mengomunikasikan gagasan menjadi kunci kepemimpinan. Tanpa literasi lisan yang baik, ide besar hanya akan menjadi hiasan di kepala.

Di sinilah pesantren menunjukkan relevansinya. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi membentuk manusia. Mereka tidak hanya mengisi kepala santri dengan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan karakter dan identitas.

Slogan Pesantren Mathlaul Huda, “Dengan Bahasa Kita Genggam Dunia”, bukan retorika kosong. Ia menjadi kritik halus terhadap sistem pendidikan kita yang sering mengabaikan kecakapan bahasa sebagai fondasi peradaban.

Bahasa adalah alat berpikir. Ketika lembaga pendidikan mengabaikan bahasa, sejatinya mereka sedang melemahkan nalar generasi muda. Ketika santri menguasai Bahasa Arab, mereka menyentuh akar ilmu Islam. Ketika mereka menguasai Bahasa Indonesia, mereka menguatkan dakwah nasional. Ketika mereka belajar Bahasa Inggris, mereka membuka jendela dunia.

Namun sayangnya, di banyak sekolah, pembelajaran bahasa masih sebatas menghafal struktur dan teori. Aktivitas literasi sering berhenti pada laporan program, bukan perubahan karakter. Gerakan Literasi Sekolah kerap bersifat simbolik: membaca 15 menit, lalu selesai, padahal literasi sejati harus melibatkan nalar, emosi, dan keberanian berpikir.

Apa yang dilakukan Mathlaul Huda mengajarkan satu hal penting: literasi harus dihidupkan, bukan diprogramkan. Ketika bahasa dipraktikkan dalam drama dan dakwah, ia menjadi pengalaman, bukan hanya pelajaran.

Lebih jauh, model pesantren ini dapat menjadi jawaban bagi kegagalan pendidikan kita dalam membentuk generasi komunikatif dan bermoral. Banyak lulusan sekolah pintar secara akademis, tetapi gagap bicara dan rapuh etika. Pesantren, dengan pendekatan integratifnya, menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang pintar, tetapi juga tentang benar.

Pesantren tidak boleh dipandang sebagai institusi pinggiran. Justru dalam situasi darurat literasi seperti hari ini, pesantren harus ditempatkan sebagai mitra strategis negara dalam membangun peradaban.

Negara perlu belajar dari pesantren, bukan hanya mengatur pesantren. Kurikulum nasional perlu lebih membuka ruang pada metode belajar berbasis pengalaman, seni, dan bahasa. Negara perlu sadar bahwa literasi tidak lahir dari buku semata, tetapi dari keberanian berbicara, berpikir, dan bersikap.

Pesantren Mathlaul Huda Baaleendah telah menunjukkan jalan: membentuk santri yang berilmu, berakhlak, dan berbahasa. Mereka tidak dididik menjadi penonton dunia, tetapi pelaku sejarah.

Ketika lembaga pendidikan lain sibuk mengejar statistik, pesantren ini justru membangun karakter. Di saat banyak sekolah mengeluhkan rendahnya literasi, pesantren ini diam-diam merajut peradaban dengan bahasa. Di tengah riuhnya jargon reformasi pendidikan, pesantren ini bekerja tanpa banyak bicara melahirkan generasi yang siap mengisi masa depan.

Di sinilah pesantren menggenggam dunia, bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan bahasa, nilai, dan keteladanan. Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan sebuah sikap peradaban. Pesantren tidak menaklukkan dunia dengan dominasi, tekanan, atau ambisi kekuasaan sebagaimana yang sering terjadi dalam sejarah umat manusia. Pesantren memilih jalan yang lebih sunyi, tetapi justru lebih dalam: mendidik manusia.

Bahasa menjadi senjata pesantren yang paling halus namun paling tajam. Dengan bahasa, gagasan disampaikan tanpa paksaan. Dengan bahasa, Islam ditawarkan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai cahaya. Bahasa membuka dialog lintas budaya, menjembatani perbedaan, dan mengajak tanpa menghakimi. Ketika santri mampu berbicara dengan baik, santun, dan argumentatif, di situlah Islam hadir sebagai rahmat, bukan sebagai kemarahan.

Pidato Multi Bahasa di Pongok Pesantren Mathla’ul Huda ( Simber Instagram mathla’ul Huda )
Pidato Multi Bahasa di Pondok Pesantren Mathla’ul Huda – (Sumber Instagram Mathla’ul Huda)

Nilai menjadi fondasi utama. Pesantren tidak sekadar melatih kecerdasan, tetapi menanamkan kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan manusia berprinsip. Di tengah krisis moral global, pesantren justru menawarkan model manusia berkarakter yang berpikir jernih, bertindak etis, dan hidup sederhana.

Keteladanan menjadi kekuatan paling nyata. Pesantren mendidik bukan dengan banyak teori, tetapi dengan contoh hidup. Santri belajar bukan hanya dari kitab, tetapi dari keseharian para guru yang ikhlas, disiplin, dan bersahaja. Ketika seorang guru hidup sesuai dengan ucapannya, di situlah pendidikan menemukan rohnya. Inilah cara pesantren menggenggam dunia: membentuk manusia, bukan menguasai manusia.

Pesantren tidak berlomba menjadi pusat kekuasaan, tetapi menjadi pusat nilai. Tidak sibuk menguasai ruang, tetapi merawat makna. Tidak membangun tembok pengaruh, tetapi membuka jalan cahaya. Justru karena itulah pesantren akan terus hidupmelewati zaman, melintasi batas, dan menetap di hati umat.

***

Judul: Literasi di Mathlaul Huda Baaleendah: Pesantren di Tengah Darurat Literasi
Penulis: Binti Wasunah
Editor: Jumari Haryadi

Tentang Penulis:

Binti Wasunah adalah seorang Guru Mengaji di Baleendah, Penulis Buku, dan Guru Swasta. Karya-karyanya antara lain Al-I’rabul Muyassar li al _Nahwu Wadih , Al-Insya Al Araby, Tidak semua Obat terjual di Apotek (kumpulan Quotes arab), Kuasa Hati (Non fiksi), Ada Apa dengan Cintaku (Non fiksi), Kumpulan Cerita Pengantar Tidur (Fiksi), dan aktif menulis artikel, puisi, dan cerpen di media online Berita Jabar News (BJN).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *