BERITA JABAR (BJN), Rubrik Cerpen, Rabu (01/04/2026) – Cerpen berjudul “Jejakmu Tertinggal di Hati yang Tak Pernah Kau Pulangi” ini adalah sebuah cerpen karya Febri Satria Yazid, seorang penulis dan pemerhati sosial, tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Di sebuah sudut kecil kehidupan remaja, saat seragam putih abu-abu masih menyimpan harapan dan mimpi yang belum selesai, cinta Inara tumbuh dalam diam. Ia hadir begitu halus, seperti embun pagi yang jatuh tanpa suara, namun menyimpan kedalaman seperti laut yang tak bertepi.
Semua bermula dari sebuah pertemuan sederhana, tanpa rencana, tanpa prasangka.
Hari itu, Inara baru saja menyelesaikan proses pendaftaran di SMA 1 di kota kecil tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Lelah, namun bahagia. Dalam perjalanan pulang, ia diperkenalkan oleh Ricky teman sejak SMP Inara, kepada seorang pemuda dari ibu kota Jakarta ; Yuda, sepupu Melzo yang juga teman Inara. Pertemuan itu singkat, sekilas, namun entah mengapa menyisakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Tanpa diduga, Yuda dan Ricky mengikuti Inara hingga ke rumahnya. Dalam balutan sopan santun khas kampung, Inara mempersilakan mereka mampir. Percakapan ringan pun terjadi, tentang sekolah, tentang kota, tentang hal-hal sederhana yang seharusnya mudah dilupakan.
Namun, ada yang berbeda. Tatapan itu, cara bicara itu. Seolah ada sesuatu yang diam-diam mulai tumbuh. Tak lama setelah itu, Yuda kembali ke Jakarta. Jarak pun memisahkan mereka. Namun, yang tak terputus justru adalah rasa, yang menemukan jalannya melalui lembar-lembar kertas surat.
Bukan pesan singkat. Bukan suara yang bisa didengar seketika. Tapi tulisan tangan yang dipenuhi rindu, dilipat dengan hati-hati, lalu dititipkan pada waktu. Setiap surat adalah jembatan. Setiap kalimat adalah pelukan yang tak terlihat.
Inara menunggu setiap kiriman dengan debar yang tak pernah sama. Ia membaca, mengulang, menyimpan. Dalam setiap kata, Yuda terasa begitu dekat, meski raga mereka terpisah ratusan kilometer. Namun, tak semua jembatan dibiarkan berdiri selamanya. Suatu hari, tanpa tanda, tanpa alasan, surat-surat itu berhenti datang. Dan tanpa ia sadari, surat-suratnya pun tak pernah lagi sampai.
Hari berganti hari. Libur demi libur berlalu. Inara menunggu, dengan sabar yang perlahan berubah menjadi gelisah. Ia ingin bertanya. Pada Melzo. Pada siapa pun yang mungkin tahu. Namun gengsi menahannya.
Dan rindu justru mengikatnya lebih dalam. Ia memilih diam. Menyimpan luka yang tak terlihat. Inara baru belakangan tahu, bahwa di balik sunyi itu, ada tangan yang sengaja menghentikan aliran rasa. Mamanya, dengan alasan yang terdengar sederhana, namun menghunjam tajam: “Jangan dengan orang kaya… nanti kita terhina.”
Ada pula alasan lain yang lebih senyap, namun tak kalah kuat: perbedaan asal, perbedaan adat. Batas tak kasat mata yang seringkali lebih kuat dari cinta itu sendiri.
Sejak saat itu, semangat belajar Inara meredup. Gadis yang dulu bersinar di bangku SMP, perlahan kehilangan cahayanya di masa SMA. Ia tetap berjalan, tetap tersenyum, namun ada bagian dari dirinya yang tertinggal, pada sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai.
Tangisnya tak lagi terdengar. Ia jatuh diam-diam, seperti hujan yang tak pernah benar-benar reda. Waktu terus berjalan, tanpa pernah menunggu siapa pun.
Hingga akhirnya, hidup membawa Inara ke jalan lain. Ia menikah dengan seorang lelaki bernama Tian, lima tahun lebih tua darinya, pilihan keluarga, masih memiliki hubungan kekerabatan. Inara mencoba membuka lembaran baru. Menjalani hari demi hari dengan ikhlas yang ia pelajari perlahan. Namun jauh di dalam hatinya, ada satu lembar lama yang tak pernah benar-benar tertutup.
Takdir, punya cara sendiri untuk mengetuk kembali masa lalu. Suatu hari, tanpa rencana, sebuah ketukan terdengar di pintu rumahnya.Pelan,namun mengguncang. Saat pintu dibuka, dunia seakan berhenti berputar. Yuda, berdiri di sana. Nyata. Bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas.
Waktu seolah berbalik arah, membawa semua rasa yang pernah terkubur kembali ke permukaan. Degup jantung Inara tak lagi bisa disembunyikan. “Kenapa baru sekarang…” tanyanya dalam diam. Tak ada pelukan, tak ada sapaan panjang, hanya tatapan. Tatapan yang memuat ribuan kata yang tak sempat terucap.
Di ruang tamu, mereka duduk berhadapan, seolah hati mereka sedang berbicara dalam bahasa yang hanya mereka berdua mengerti. Di sudut lain, Tian, suami Inara, memilih menarik diri ke belakang. Cemburu, bingung, dan luka bercampur dalam diamnya.
“Dia suamimu?” tanya Yuda, pelan. “Iya…” jawab Inara lirih. Satu kata. Namun cukup untuk meruntuhkan seluruh kemungkinan yang dulu pernah ada.
Tak lama, Tian kembali. Dengan sisa emosi yang perlahan ia redam. Mereka bersalaman, dua laki-laki yang terhubung oleh satu perempuan, namun dipisahkan oleh waktu dan takdir.
Tak ada pertengkaran, tak ada drama yang meledak. Hanya pertemuan yang terlambat. Dan cinta, yang tak pernah sempat menjadi nyata. Dalam hatinya, Inara akhirnya memahami satu hal: Bukan karena cintanya yang kurang kuat, namun karena waktu tak pernah berpihak. Mungkin, memang ada kisah yang ditakdirkan hanya untuk dikenang, bukan untuk dimiliki.
Malam itu, saat semuanya kembali sunyi, Inara menatap langit. Ia tersenyum, meski air matanya jatuh perlahan. Akhirnya ia tahu, bukan Yuda yang pergi, bukan pula dirinya yang ditinggalkan. Yang hilang adalah surat-surat yang tak pernah sampai. Sebuah konspirasi kecil, antara mama Inara dan seorang petugas pos, yang tanpa sadar telah mengubah jalan hidupnya.
Waktu kembali berjalan seperti biasa. Namun kini, Inara hidup dengan pemahaman yang berbeda. Tentang cinta, tentang takdir, tentang kehilangan yang tak selalu harus disesali. Hingga suatu hari, kabar itu datang, kabar duka. Yuda telah berpulang, meninggalkan seorang istri dan seorang putri.
Ada yang terasa runtuh dalam dada Inara. Namun kali ini, ia tak menangis seperti dulu. Ia hanya diam dan menerima, karena ia tahu, cinta mereka memang tak pernah ditakdirkan untuk bersama. Hanya untuk saling meninggalkan jejak.
Hingga kini, setelah 43 tahun berlalu masih ada satu hal yang ingin Inara ungkapkan kepada Melzo, tentang sebab kandasnya cintanya pada sepupu Melzo. Sebab yang hingga kini masih meninggalkan luka dan tetesan air mata, setiap dia menceritakan kisah cinta SMA bersama Yuda, bercerita tentang surat-surat yang tak pernah sampai.
Namun bagi Inara, jawabannya sudah cukup, bahwa ada cinta yang tak selesai, bukan karena ia lemah, melainkan karena semesta memilih jalan yang berbeda. Disanalah, jejak itu tertinggal, di hati yang tak pernah ia pulangi.
Penulis : Febri Satria Yazid
Editor : Tiyut