BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Rabu (17/12/2025) – Artikel berjudul “Di Balik Layar Sunyi Anak-Anak Kita” merupakan karya tulis Ummu Fahhala, S. Pd., seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi yang tinggal di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
“Bu, kalau aku hilang, ada yang cari aku, kan?”
Pertanyaan itu muncul lirih dari seorang anak SMP yang saya temui dalam sebuah kegiatan konseling kecil di daerah pinggiran Bandung. Matanya sembab. Gawai di tangannya bergetar, sebuah notifikasi dari akun anonim yang sejak beberapa minggu terakhir merundungnya.

Saya terdiam sejenak. Di balik layar kecil itu, dunia yang asing telah membuka pintunya terlalu lebar bagi anak-anak kita. Sebagian dari mereka terpapar pornografi, ditikam bullying, dan ditelan gaya hidup liberal yang memesona tetapi mematikan.
Data demi data muncul dan negara pun merespons dengan PP Tunas. Kebijakan yang membatasi akses anak di ruang digital (6 Desember 2025). Namun di sisi lain, Komisi Digital masih berharap PP ini bisa diimplementasikan secara utuh seratus persen pada tahun mendatang. Di sisi lain aturan ini “terbit kilat”, tetapi masih membingungkan publik.
Di tengah hiruk pikuk itu, saya kembali mendengar suara anak tadi.
“Bu, kenapa mereka jahat padaku? Apa karena aku tidak seperti mereka?”
Saya ingin menjawab, tetapi kenyataan terlalu pahit untuk dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Sebuah Renungan di Antara Deru Notifikasi
Dalam perjalanan pulang, dialog itu menempel di benak saya. Kebijakan yang terburu-buru dan pembatasan teknis mungkin dapat meredam sebagian ancaman digital, tetapi apakah itu cukup untuk menyembuhkan luka yang lebih dalam?
Seorang rekan dosen psikologi pernah berkata kepada saya, “Masalahnya bukan di aplikasinya, tapi di jiwa yang kosong. Media sosial hanya memperbesar retak yang sudah ada. Ini adalah panggilan untuk menyentuh akar persoalan yang jauh lebih dalam dari sekadar tombol blokir.”
“Aku cuma ingin diterima, Bu,” kata anak itu lagi dalam ingatan saya.
Akar yang Kita Abaikan
Ruang digital bukan penyebab utama. Ia hanya memperbesar apa yang anak-anak rasakan, berupa ketakutan, keraguan, rasa tidak aman. Media sosial ibarat cermin bengkok yang memperlihatkan sesuatu secara berlebihan, tetapi tidak pernah menciptakan dari awal.
Akar masalah sesungguhnya adalah lingkungan ideologis tempat anak-anak tumbuh. Sistem sekularisme kapitalisme membesarkan mereka tanpa fondasi moral yang kokoh. Mereka diajarkan mengejar validasi, mengejar citra, mengejar statistik popularitas. Kehidupan digital menjadi pelampiasan atas kekosongan batin yang tidak pernah terisi.
Dalam ruang sosial semacam itu, PP Tunas hanya menjadi penutupan pintu, bukan pembenahan rumah.
Solusi yang Lebih Dalam dari Sekadar Pengaturan Akses
Islam hadir dengan pandangan yang berbeda. Ia menegaskan bahwa perilaku manusia lahir dari pemahaman hidup yang dipegangnya. Teknologi hanyalah ciptaan manusia (madaniyah). Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah ideologi yang membungkusnya.
Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Q.S. Al-Isra: 36). Ayat ini menegaskan pentingnya pemahaman sebagai fondasi tindakan, bukan sekadar pembatasan teknis.
Rasulullah saw. juga menegaskan, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa pembentukan kepribadian adalah proses ideologis, bukan digital.
Dalam Islam, negara wajib memberikan pendidikan yang menanamkan aqidah dan akhlak sejak dini. QS. At-Tahrim: 6 memerintahkan kita menjaga keluarga dari kebinasaan dan itu termasuk memberikan fondasi pemikiran yang lurus.
Khilafah pada masa Umar bin Khattab, misalnya, membangun masyarakat yang kuat melalui penegakan syariat secara menyeluruh, dari pendidikan, hukum, hingga sosial sehingga generasi tumbuh dengan keimanan yang kokoh dan kepribadian yang matang. Bukan sekadar membatasi akses, tetapi membentuk manusia.
Ketika landasan itu kuat, media sosial tidak mampu mengguncang mereka. Ketika aqidah itu kokoh, komentar jahat tidak menghancurkan mereka. Ketika pendidikan itu ideologis, dunia digital hanya menjadi alat.
Penutup
Menutup aplikasi bukan solusi. Kita perlu membuka mata. Mengurangi akses bukan jawaban. Kita perlu memperkuat jiwa.
“Bu… kalau aku punya tempat pulang, mungkin aku tidak akan takut,” kata anak itu pada akhir sesi.
Saya memahami maksudnya. Generasi kita membutuhkan tempat pulang, kepada Allah, kepada ilmu yang benar, kepada sistem yang menuntun mereka untuk menjadi kuat, bukan sekadar aman karena anak-anak bukan hanya sedang kehilangan arah di dunia digital. Mereka sedang mencari pegangan di dunia yang semakin sunyi dari nilai. (Ummu Fahhala).
***
Judul: Di Balik Layar Sunyi Anak-Anak Kita
Penulis: Ummu Fahhala, S. Pd., Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi
Editor: JHK










