BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Kamis (02/04/2026) – Artikel berjudul “Desa Ditinggalkan, Kota Terbebani” ini ditulis oleh Lilis Suryani yang berprofesi sebagai seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Yayasan Putra Sukamanah Sejahtera yang beralamat di Jalan Sasak Besi No 4, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Fenomena urbanisasi pasca-Lebaran kembali menjadi potret berulang yang menunjukkan arah pembangunan Indonesia masih menyisakan persoalan mendasar. Pada arus balik Mudik Lebaran 2026, jumlah masyarakat yang kembali ke kota diprediksi lebih besar dibandingkan arus mudik. Ini bukan sekadar pergerakan musiman, melainkan cerminan kuat bahwa kota masih dipandang sebagai pusat harapan, sementara desa terus ditinggalkan.

Pernyataan Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto yang menyebut arus balik kini semakin kompleks, mempertegas bahwa urbanisasi bukan lagi fenomena sederhana. Ia telah menjadi bagian dari dinamika migrasi permanen. Banyak masyarakat desa yang tidak lagi sekadar “kembali bekerja” ke kota, tetapi secara perlahan memutuskan untuk menetap, meninggalkan akar sosial dan ekonomi mereka di kampung halaman.
Di balik fenomena ini, terdapat fakta yang sulit dibantah, yaitu ketimpangan ekonomi antara desa dan kota masih sangat nyata. Kota menawarkan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga gaya hidup yang dianggap lebih menjanjikan. Sebaliknya, desa sering kali dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur, minimnya peluang kerja, dan rendahnya nilai tambah sektor ekonomi yang ada.
Dampaknya pun tidak sederhana. Desa kehilangan sumber daya manusia produktif, terutama generasi muda yang seharusnya menjadi penggerak pembangunan lokal. Sementara itu, kota justru menghadapi tekanan demografis yang semakin besar, diantaranya kepadatan penduduk meningkat, kemacetan tak terhindarkan, kawasan kumuh bertambah, dan angka pengangguran perkotaan yang berpotensi naik.
Jika ditelusuri lebih dalam, akar persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi yang diterapkan saat ini. Kapitalisme, dengan orientasi pertumbuhan berbasis pasar, cenderung memusatkan aktivitas ekonomi di wilayah yang sudah maju. Kota-kota besar menjadi magnet investasi, sementara desa hanya menjadi pelengkap dalam rantai produksi yang tidak bernilai tinggi.
Kebijakan anggaran pun sering kali memperkuat ketimpangan ini. Pembangunan yang bersifat kota-sentris atau bahkan Jakarta-sentris membuat desa tertinggal dalam banyak aspek. Program-program pemberdayaan desa seperti koperasi desa atau BUMDes kerap tidak berjalan optimal.
Dalam banyak kasus, program tersebut lebih bernuansa administratif dan proyek jangka pendek. Bahkan, tak jarang menjadi ajang kepentingan segelintir pihak, alih-alih benar-benar membangun kemandirian ekonomi desa.
Akibatnya, desa tidak pernah benar-benar menjadi ruang hidup yang menjanjikan. Ia hanya menjadi tempat “asal”, bukan tujuan masa depan. Oleh karena itu, urbanisasi menjadi pilihan rasional bagi banyak orang, meski harus menghadapi kerasnya kehidupan di kota.
Dalam perspektif Islam, persoalan ini sejatinya tidak akan dibiarkan berlarut. Islam memandang negara sebagai pengurus (ra’in) yang bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan setiap individu rakyatnya, tanpa memandang apakah ia tinggal di kota maupun di desa. Politik ekonomi Islam tidak berorientasi pada pertumbuhan semata, tetapi pada distribusi kesejahteraan yang merata.
Negara dalam sistem Islam akan memastikan bahwa kebutuhan dasar setiap individu, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan, akan terpenuhi secara adil. Dengan prinsip ini, pembangunan tidak akan terpusat di kota saja, melainkan menyebar sesuai kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah.
Sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung desa, akan dikelola secara serius. Negara tidak hanya memberikan bantuan simbolik, tetapi juga memastikan ketersediaan lahan, irigasi, dan teknologi, serta akses distribusi hasil pertanian yang adil. Dengan demikian, masyarakat desa dapat hidup sejahtera tanpa harus meninggalkan kampung halaman mereka.
Lebih dari itu, kepemimpinan dalam Islam menuntut kedekatan langsung dengan rakyat. Seorang khalifah tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi juga melakukan inspeksi langsung hingga ke pelosok. Dengan cara ini, kondisi riil masyarakat dapat dipahami secara utuh sehingga kebijakan yang diambil benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.
Model pembangunan seperti ini akan menghilangkan dorongan urbanisasi yang bersifat terpaksa. Perpindahan penduduk tetap mungkin terjadi, tetapi bukan karena ketimpangan atau keterdesakan ekonomi, melainkan sebagai pilihan yang wajar.
Dengan demikian, solusi atas persoalan urbanisasi bukan sekadar memperbanyak program desa atau membatasi arus migrasi, melainkan melakukan perubahan mendasar pada sistem yang melahirkan ketimpangan itu sendiri. Islam menawarkan pendekatan ideologis yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama, bukan sekadar efek samping dari pertumbuhan ekonomi.
Jika paradigma ini diterapkan, desa tidak lagi menjadi wilayah yang ditinggalkan, melainkan menjadi bagian penting dari peradaban yang maju dan sejahtera. Urbanisasi pun tidak lagi menjadi fenomena yang mengkhawatirkan, melainkan sekadar dinamika sosial yang terjadi secara alami dan seimbang.
***
Sekilas tentang Penulis

Lilis Suryani adalah seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Yayasan Putra Sukamanah Sejahtera yang beralamat di Jalan Sasak Besi No 4, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Disela-sela kesibukan mengajar, ia sering menulis artikel opini yang berkaitan dengan hal-hal yang tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat.
Sebagai seorang pendidik, Lilis berpikir harus peka terhadap apa yang tengah terjadi di tengah masyarakat. Hal ini merupakan salah satu bentuk kepeduliannya terhadap masa depan generasi muda yang ada di daerahnya.
Beberapa karya tulis dalam bentuk artikel (opini) yang telah dibuat Lilis tertuang dalam naskah-naskah yang sudah tersebar diberbagai media online di Jawa Barat, di antaranya Walimedia.Id, Dobrak.co, Inijabar.com, Kabarfajar.com dan banyak lagi media lainnya. Ia berharap tulisannya bisa menjadi penerang bagi para pembaca media online di tanah air. (Lilis Suryani)
***
Judul: Desa Ditinggalkan, Kota Terbebani
Penulis: Lilis Suryani, Guru dan Pegiat Literasi
Editor: JHK