Cerpen “Engkau, Bidadariku”

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Sastra, Sabtu (06/12/2025) – Cerita pendek (cerpen) berjudul Engkau, Bidadariku”  ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Gagang sapu sudah dalam genggaman dan Gopang siap mengayunkannya untuk mengusir kucing, tetapi sesaat dia tampak bimbang, berdiri kaku. Ternyata lelaki ini tidak sampai hati memukul meski binatang itu sungguh menjengkelkan. Cangkir dan kopi kesayangan telah jatuh berkeping ditabrak kucing kampung itu.

Di lantai, si kucing tak peduli. Dengan tenang dan tanpa rasa bersalah berbaring. Gopang sebenarnya semakin jengkel, tetapi rasa tidak teganya lebih kuat. Lalu dia  lampiaskan rasa jengkelnya, gagang sapu itu disabetkan keras-keras ke udara. Kucing takut dan lari tunggang langgang minggat entah ke mana.

Mengusir kucing
Ilustrasi: Gopang sedang mengusir kucing yang telah mengagetkannya – (Sumber: Arie/BJN)

“Kucing liar,” kata Gopang sambil memegang dada kirinya.

Jantung Gopang berdegup keras sampai harus ditempel dengan telapak tangan kanannya.  Bukan cangkir yang pecah dan kopi yang tumpah yang bikin jengkel, tetapi rasa kaget yang amat sangat mendengar cangkir jatuh berantakan. Bagaimana dia tidak kaget, di telinga terdengar bunyi nyaringnya melebihi sambaran petir di siang bolong.

Gopang duduk, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Dia mencoba menenangkan diri. Tarik nafas dan hembuskan pelan-pelan dia ulang-ulang. Sapu diletakkan kembali pada tempatnya.

Belakangan ini, lelaki berusia hampir lima puluh tahun tersebut sedang mengkhawatirkan kesehatan jantungnya sendiri. Gopang merasa sangat mudah kaget. Bahkan, suara tokek  di malam hari pun membuatnya kaget. Dia was-was, jangan-jangan karena kaget jantungnya mendadak berhenti dan lantas mati.

Belum lagi jengkel dan rasa kagetnya hilang, datang kabar yang lebih mengagetkan. Kawan dekatnya, Jack, sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) akibat serangan Jantung, padahal kemarin sore baru saja pergi ke café bareng.

Gopang sungguh kaget. Bagaimana mungkin orang yang rajin berolahraga, makan dan minum teratur, tidak pernah aneh-aneh, tetapi bisa mendadak terkena serangan jantung. Setahunya, kawannya itu hidup sangat hati-hati.

Semua makanan yang akan masuk ke tubuh Jack diukur dan ditakar. Makanan berlemak, jeroan dan gorengan selalu dia singkirkan. Demikian juga minuman. Hampir tidak pernah ada minuman memabukkan memasuki perutnya. Bahkan, minum manispun jarang.

Gopang pernah ngomong ke kawannya itu, “Jack, Kamu habiskan waktu dan pikiran untuk menghitung dan mengukur asupan makanan dan minuman, lalu kapan menikmatinya?”

“He … he … he, aku hanya ingin sehat Pang,” jawab Jack.

“Hidup itu untuk dinikmati Jack, bukan menyiksa diri kayak gituuu,” sahut Gopang dengan nada ketus.

Gopang lalu cerita, ada tetangganya yang suka lari pagi sampai jauh karena ingin sehat. Namun,  kini malah kena sakit tulang. Katanya ke Jack, “Dimana nikmatnya?”

Jack hanya nyengir sedikit. Bagi Gopang, nyengirnya Jack bermakna.

“Jangan urusi aku, urusi dirimu sendiri saja,” kata Gopang agak kesal dan semakin was-was.

Dalam hati Gopang berkata, kalau Jack yang hidup sangat teratur dan terukur saja bisa terserang, bagaimana dengan diriku yang hidup serba ngawur ini?

“Ah, sebodo amat,” kata Gopang dengan nada cuek.

***

Seketika setelah menerima kabar mengejutkan itu, tidak pikir panjang, mumpung masih pagi, Gopang menyambar kunci mobil lalu bergegas menjenguk Jack di RS. Gopang pamit ke istri sambil berlari.

Tidak sampai hitungan puluhan menit, sampailah dia dikamar rawat inap. Di depannya kawan akrabnya terbaring lemah. Tanpa ba-bi-bu, Gopang ngomong ke Jack, “Ironis Jack, Kamu yang cermat menakar makanan, malah tepar.”

Seperti biasa, Jack hanya tersenyum tipis, seperti tidak tahu harus ngomong apa.

“Ayooo semangat Jack!” Kata Gopang agak geregetan.

Sebenarnya diam-diam Gopang sudah lama menyimpan rasa kagum pada Jack. Kagum pada kemampuannya mengendalikan diri dalam soal makan dan minum, seperti kemarin sore ketika mereka berdua pergi ke café.

Dalam benak Gopang, pergi ke café itu tidak lain tidak bukan mau minum kopi.

“Mas, pesan kopi hitam panas, tanpa gula,” ujar Gopang kepada pelayan café, sedangkan Jack memesan minuman jeruk hangat, tanpa gula, pakai gelas kaca dengan pengaduk dari sumpit bambu.

Gopang agak terhenyak, lalu ngomong, “Jack, kalau mau pesan minuman seperti itu, ngapain kita ke café ini? Kita ke angkringan saja yuk.”

“He … he … he …, enggak apa-apa, aku memang tidak pernah minum kopi kok,” jawab Jack sambil menyambung, “Lagi pun itu minuman sehat kok.”

“Yaaah, seterah kamulah,” kata Gopang agak kesal.

“Iyalah, aku yang mau minum kok,” sahut Jack sambil ketawa, giginya yang putih tampak berbaris rapi di mulutnya.

Itulah kebersamaan mereka kemarin sore. Tahu-tahu pagi ini kawan baiknya itu dirawat di RS. Untunglah, setelah ditangani dokter, senyumnya sudah sedikit merebak dan matanya mulai berbinar. Kondisinya membaik, tetapi dokter masih melarangnya banyak gerak dan tidak boleh kaget.

Ketika itulah pintu kamar diketuk pelan. Si pengetuk sepertinya bukan sedang meminta dibukakan pintu, tetapi sekedar memberitahu akan masuk. Tidak lama kemudian, masuklah dua orang perawat untuk pemeriksaan rutin.

Perawat-perawat itu masuk ke kamar dengan tenang dan pelahan, berusaha tidak mengagetkan pasien. Jack pun menerima mereka dengan senang.Tapi tak disangka, malah Gopang yang terkaget-kaget ketika melihat salah satu perawat. Kekagetan yang kesekian di pagi itu.

Jantung Gopang kembali berdegup keras, bahkan lebih keras. Gopang sampai perlu mendekap dada kirinya dengan telapak tangan kanan. Napasnya agak terengah. Gopang menepi dan bersandar ke dinding kamar tanpa melepas sedetikpun pandangan matanya dari si perawat.

Gopang amat kaget karena baru semalam dalam mimpinya ketemu seorang wanita yang wajah dan bangun tubuhnya mirip sekali dengan perawat ini. Tinggi badannya dan wajah bulatnya sama, tidak ada yang terbuang.

Selama bertahun-tahun wanitamirip perawat itu berulang kali datang dalam mimpinya, sampai Gopang paham betul gambaran tubuhnya. Begitu juga teduh sinar matanya dan senyum simpulnya. Semua amat mirip dengan perawat yang sekarang hanya beberapa langkah di depannya.

Gopang yang tidak mampu menahan rasa penasarannya, memberanikan diri bertanya pelahan ke si perawat, “Bagaimana tekanan darahnya Suster?”

Perawat menawab pelahan, “Alhamdulillah sudah menuju normal, tetapi belum stabil. Masih perlu pengukuran teratur sampai normal dan tidak naik turun lagi, asalkan tidak kagetan, mudah-mudahan cepat sembuh.”

Jack menimpali, “Alhamdulillah.”

“Juga tidur teratur dan jangan banyak gerak dulu,” kata perawat.

“Ups…, uhhgh…” Gopang bertambah kaget, ternyata suaranya pun sama persis dengan wanita dalam mimpinya, lembut dan enak di telinga.

Selagi bisa ngobrol, Gopang memberanikan diri bertanya lagi, “Maaf, boleh saya bertanya?”

“Silahkan Pak,” jawab perawat itu.

“Maaf, saya ini sudah bertahun-tahun berkali-kali bermimpi ketemu seorang wanita dan wanita tersebut mirip sekali dengan Suster,” kata Gopang.

Lalu panjang lebar Gopang menambahkan gambaran wanita dalam mimpinya itu. Juga cerita rasa kagetnya saat pertama melihat perawat masuk kamar tadi, sampai terduduk di sudut kamar.

Si perawat tertegun beberapa saat kemudian menengok ke rekannya yang hanya bisa tersenyum tipis. Lalu dia menjawab dengan tidak mengurangi nada ramahnya.

“Waah, sukurlah Pak, tapi pasti itu bukan saya, soalnya kalau malam saya di rumah bercengkerama dengan anak-anak dan suami,” jawab wanita itu pelan, berusaha tidak menyinggung perasaan Gopang, kemudian secara halus perawat itu pun memamerkan cincin kawin di jari manisnya.

“Iya tentu bukan Suster, terima kasih,” jawab Gopang.

Meski agak malu, tetapi Gopang langsung bisa menarik napas panjang, puas mendapat jawaban pasti dan tidak mengundang tanya lagi.

Wanita dalam mimpinya memang sosok yang luar biasa. Bangun tubuhnya memang sama dengan perawat tadi, tetapi tetap tampak lebih indah dan menarik wanita yang setia datang dalam mimpinya. Lenggak lenggok tubuh dan lambaian kedua tangannya saat berjalan jauh lebih anggun si wanita dalam mimpinya. Senyumnya juga lebih renyah dan pipinya lebih berisi.

Jack yang dari tadi mengikuti percakapan dua orang itu, bertanya, “Ngapain kamu Pang mikirin mimpi, kan sudah punya istri di rumah.”

“Betul, tapi mau gimana lagi Jack, wanita itu bertahun-tahun dalam mimpiku datang lagi dan datang lagi,” sahut Gopang.

Tiba-tiba pintu diketuk, kali ini agak keras. Pintu dibuka agak kasar, Satpam masuk memberitahu bahwa jam menengok sudah habis, para tamu dipersilahkan meninggalkan kamar.

Gopang pun berkemas dan berpamitan pulang. Sambil melangkah Gopang berpikir, sekarang harus mencari lagi, siapa sebenarnya sosok wanita yang sering berkunjung dalam mimpi.

Kepalanya kembali dipenuhi bayangan wanita itu hingga membuatnya susah konsentrasi. Sesuatu yang membahayakan diri dan orang lain, apalagi saat mengemudi.

Ternyata itulah yang terjadi. Dalam perjalanan pulang, di perempatan jalan, pikiran Gopang tidak fokus. Akibatnya dia kaget bukan main ketika mobil-mobil di belakangnya, hampir berbarengan, saling bersahutan membunyikan klakson. Suaranya memekakkan telinga dan membuat jantungnya kembali berdegup kencang.

Klakson-klakson itu memberi isyarat, dia sudah terlalu lama berhenti sedang lampu hijau telah menyala. Agak tergagap Gopang berusaha kembali fokus pada kemudi dan pada lalu lintas di sekitarnya. Perlahan dia menjalankan mobilnya lagi.

Dari samping, Gopang mendengar teriakan, “Haiii, mobil baru ya?”

“Ooh, Pak Tua mengemudi, hati-hati Pak,” sahut pengendara lainnya.

Ada juga yang berkomentar, “Sabar Pak, ini jalan raya bukan jalan ke surga.”

Gopang heran, hanya terpaut sepersekian detik sudah seperti itu ributnya. Semua orang ingin segera lewat, entah apa yang mereka kejar. Namun, Gopang berpikiran positif, mungkin istrinya mau melahirkan atau mereka sudah tak kuat menahan pipis.

Itu terjadi karena di perempatan tadi Gopang sekilas melihat sosok wanita yang amat mirip dengan wanita yang selama ini dia cari. Oleh karena itu dia tidak sekejap pun melepaskan pandangan dari pergerakan wanita itu. Wanita itu terus, berjalan menjauh darinya, sedangkan lampu merah menyala tidak lama.

Kedua matanya terus berusaha mengikutinya, tiba-tiba, seolah ditelah bumi, wanita itu tenggelam dalam keramaian lalu-lalang. Hilang dari pandangan Gopang.

Ya, wanita itu hilang.Wanita yang ketika berjalan tubuhnya tampak berayun-ayun seperti gelombang laut mengikuti irama pasang dan surut. Sayangnya, tanpa ampun, gerak tubuh si wanita raib bersama bunyi klakson bertubi-tubi.

“Wah.., hilang sudah, entah kapan bisa melihat lagi,” gerutu Gopang.

Hatinya dongkol, gegara klakson, dia tidak sempat mengejar wanita tadi. Kaget dan dongkolnya belum hilang, gerutunya pun bersambung, “Itu para pengendara mobil sebenarnya pada ngejar apa sih, enggak sabar amat.”

Gopang yang ingin tenang lantas meminggirkan kendaraannya. Dia parkir di pinggir jalan, tepat di bawah pohon rindang. Area yang sejuk. Dihelanya napas dalam-dalam.

Beberapa saat dalam belaian kesejukan dan tiupan angin sepoi membuat matanya terasa berat. Pikirannya melambung terbang ke angkasa .Lalu datang lagi seorang wanita yang tidak kurus, tetapi juga tidak gemuk.Kepala dibalut hijab panjang hingga ke pinggang. Tutur katanya lembut, mengajaknya jalan kaki keliling taman.

Dengan riang Gopang meladeni permintaan si wanita. Mereka mampir ke warung angkringan dan membeli beberapa jajanan. Mereka duduk berdampingan menikmati kebersamaan.

Angkringan itu ramai pembeli. Tempatnya terbuka, tanpa atap, tanpa pagar, memberi ruang pada angin semilir mengalir tanpa halangan. Gopang ngomong ke wanita impiannya itu, “Bagaimana kalau hujan ya Dik?”

Belum sempat pertanyaan dijawab, hujan lebat mendadak turun disertai angin rebut disusul petir menyambar-nyambar. Orang-orang lari tunggang-langgang. Gopang pun menyelamatkan diri. Dicarinya wanita tadi, tapi entah ke-mana. Mau memanggil, tetapi tidak tahu namanya. Lalu, Gopang tidak ingat lagi apa yang terjadi.

Tengah malam, Gopang terbangun dan tersadar dengan kepala, tangan dan kaki penuh balutan perban. Dia terbaring lemah di Ruang Gawat Darurat di RS tempat Jack dirawat. Ketika membuka mata, di sebelahnya istrinya duduk menunggu dengan mata sembab menangis.

Sakit
Ilustrasi: Gopang terbaring lemah di rumah sakit ditemani istrinya – (Sumber: Arie/BJN)

“Kenapa aku di sini Mah?” Tanya Gopang kepada istrinya.

“Apah ditolong banyak orang dikeluarkan dari dalam mobil yang tertimpa pohon roboh,” jawab istrinya Gopang.

Istrinya bercerita bahwa Gopang tertidur di dalam mobil yang parkir di bawah pohon. Saat bencana putting-beliung datang pohon itu roboh menimpa mobil. Meski pingsan, tetapi Gopang hanya mengalami luka ringan.

Ketika Gopang mau membuka mulut lagi, istrinya menimpali, “Sudah, tidak usah dipikir, yang penting Apah selamat.”

Gopang hendak merentangkan tangan mau memeluk istrinya, tetapi rasa sakit menghalanginya. Istrinya paham, lalu dengan hati-hati dipeluknya suami tercintanya erat-erat.

Air mata menetes deras dari kedua susut mata Gopang, dia terharu dan bersyukur. Hatinya ngomong pada dirinya, mimpiku terlalu tinggi, khayalku terlalu jauh, istriku adalah bidadariku, wanita kiriman Tuhan, kini ada di sini bersamaku, terima kasih Ya Rabb.

Air mata Gopang bertambah deras menetes membasahi pipi, sambil membatin penuh rasa syukur, inilah wanita, istriku, yang sudah bertahun-tahun mendampingi dan menerima segala kekuranganku, nikmat apalagi yang aku dustakan.

Malam itu, walau dirawat di RS, Gopang bisa tidur nyenyak. Dalam tidurnya dia mimpi ketemu wanita impian itu lagi.

***

Judul: Engkau, Bidadariku
Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: Jumari Haryadi

Tentang Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko
Pengarang/Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko – (Sumber: koleksi pribadi)

Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.

Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.

Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.

Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *