Buku Bertajuk “Suntingan Teks Kakawin Lambang Pralambang” Jadi Salah Satu Rujukan dalam Mengkaji Kesusastraan Jawa Kuna-Bali
BERITA JABAR NEWS (BJN), Jakarta, Rabu (03/12/2025) – Buku bertajuk “Suntingan Teks Kakawin Lambang Pralambang” Karya Naufal Anggito Yudhistira merupakan salah satu rujukan yang digunakan dalam mengkaji kesusastraan Jawa Kuna-Bali. Buki ini telah diterbitkan oleh Perpusnas Press pada 2023.
Selain itu, buku karya Naufal ini adalah salah satu terbitan penelitian filologi yang merupakan bagian dari hibah penerbitan naskah kuno yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Juga merupakan bagian dari penelitian tugas akhir (TA) dari penulisnya yang kuliah di Program Studi (Prodi) Sastra Daerah untuk Sastra Jawa di Universitas Indonesia (UI) dengan beberapa penyesuaian.
Pria yang lahir di Jakarta pada 9 September 1999 ini telah menulis beberapa buku, di antaranya buku berjudul “Serat Panji Pudhak Lelana” (cetakan pertama 2021) dan buku berjudul “Di Balik Makna 99 Desain Batik”.

Dalam keterangan pers yang disampaikan Naufal di Jakarta pada Rabu, 3 Desember 2025, ia mengatakan bahwa buku ini bisa menjadi salah satu rujukan dalam mengkaji kesusastraan Jawa Kuna-Bali.
“Dari segi penggarapan filologisnya, teks Kakawin Lambang Palambang disajikan dengan metode naskah tunggal dan dalam bentuk suntingan teks berupa edisi kritis,” jelas Naufal, “Selain itu, terjemahan bebas berbasis kemaknawian teks disertakan pula dalam buku ini. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memahami isi Kakawin Lambang Palambang,” tambahnya.
Sejak kecil Naufal sudah tertarik dalam bidang kebudayaan Jawa, khususnya dalam hal kesenian. Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya (S1) di Prodi Sastra Daerah untuk Sastra Jawa di UI pada 2021. Pendidikan masternya (S2) di jurusan Ilmu Susastra dengan peminatan Filologi di kampus yang sama (UI).
Naskah Lontar Berkeropak
Menurut Naufal, selama yang diketahuinya, naskah “Kakawin Lambang Palambang” yang merupakan naskah lontar berkeropak dengan kode LT 223 merupakan koleksi Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia dan satu-satunya naskah yang memuat teks Kakawin Lambang Palambang. Juga di dalamnya terdapat teks Kakawin Indrawijaya, dan mantra.
“Naskah ini juga merupakan lontar dengan ukuran 3,5 x 49,3 cm. Lontar dalam naskah ini sudah gripis dan permukaannya berwarna kecoklatan,” ucap Naufal yang pernah beberapa kali menciptakan karya tari seperti “Sedulur Papat” (2018), “Fragmen Rara Mendut -Pranacitra” (2019), dan “Srimpi Girisa Laras” (2021).
Terakhir, pada Minggu 26 Oktober 2025 di ruang serbaguna lantai 4 Perpusnas RI, pementasan eksperimental reaktualisasi tari “Langen Mataya Bedhayan Gandrungmanis” karya Pakubuana VIII sebagai rangkaian proses penelitian disertasi Naufal Anggito Yudhistira untuk program Doktoral Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia.
Naufal mengatakan bahwa naskah ini mempunyai kekhasan ditulis dengan aksara Bali yang tegak, tetapi meliuk-liuk. Naskah ini ditulis di pulau Lombok, “Suatu hal yang menarik bahwa naskah ini menjadi salah satu dari banyaknya naskah-naskah yang memperlihatkan keberlanjutan tradisi sastra Jawa Kuna-Bali di pulau Lombok.”
Genre Bhāṣa
Teks Kakawin Lambang Pralambang adalah salah satu teks yang bergenre bhāṣa ─ salah satu genre dalam tradisi kesusastraan Jawa Kuna-Bali yang merupakan bentuk puisi liris. Genre ini berbentuk karya sastra kakawin dengan kekhasan adanya bab-bab yang muncul di dalamnya.
Bhāṣa mempunyai kekhasan dengan ungkapan puisi yang bersifat liris dengan muatan yang umumnya berbentuk romantis-erotis.

Genre bhāṣa mempunyai acap kali disebut palambang atau wilapa. Pada masa lalu, genre ini setidaknya baru dikenal di era kerajaan Majapahit akhir. Walau begitu, diduga akar dari bhāṣa sudah ada dari masa yang jauh lebih tua, dibuktikan dengan berbagai penyebutan genre ini di dalam teks-teks kakawin mayor yang lebih tua.
Bhāṣa berkembang pesat justru di Bali dan menyebar hingga ke Lombok. Keindahan dari bhāṣa tidak hanya terletak pada keindahan pengungkapan bahasanya, namun juga pada kekayaan detail tentang pesona alam Jawa-Bali yang terrekam di dalamnya.
Teks Kakawin Lambang Pralambang terdiri atas beberapa bab, yaitu terdiri dari Bhāṣa Rudita, Bhāṣa Durawākya Cacangkriman, Bhāṣa Wiwaha Cacangkriman, Bhāṣa Ratnāwukiran Cacangkriman, Palambang Pamaṇḍana, Palambaang Jagadami Guhya Jātyakon, dan Palambang Dharmma Kusala Mahātma Cinaṇḍya.
Masing-masing teks tersebut memuat berbagai lirik bernuansa romantis-erotis yang khas dan kaya akan perlambang. Kekhasan Kakawin Lambang Palambang dibandingkan berbagai teks bhāṣa yang lain terletak pada adanya cacangkriman. Cacangkriman itu dapat dimaknai sebagai suatu teka-teki, simbol tersembunyi, dan ungkapan-ungkapan yang sifatnya misterius.
“Dalam teks ini, cacangkriman tidak sekedar memuat pesan moral, namun nuansa religius yang kaya,” pungkas Naufal.
***
Judul: Buku Bertajuk “Suntingan Teks Kakawin Lambang Pralambang” Jadi Salah Satu Rujukan dalam Mengkaji Kesusastraan Jawa Kuna-Bali
Kontributor: Pulo Lasman Simanjuntak
Editor: Jumari Haryadi
