Beranda / Sosial / Budaya Tahun Baru: Antara Hiburan dan Ritual

Budaya Tahun Baru: Antara Hiburan dan Ritual

Perayaan Tahun Baru di Jakarta

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Kamis (18/12/2025) – Artikel berjudul “Budaya Tahun Baru: Antara Hiburan dan Ritual Keagamaan” ini merupakan karya original dari Yoyo C. Durachman, seorang penulis, pengarang, dosen,  sutradara, dan budayawan Cimahi. Saat ini aktif sebagai anggota Dewan Penasehat, Pakar, dan Pengawas (DP3) Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).

Hanya Pandemi Covid-19 yang terjadi antara tahun 2020 sampai dengan 2022 silam yang bisa mencegah masyarakat untuk merayakan tahun baru secara bersama-sama yang melibatkan orang banyak. Namun setelah itu, pergantian tahun ini yang secara tradisional telah menjadi budaya kembali senantiasa disambut dengan suka cita oleh masyarakat.

Perayaan Natal
Ilustrasi: Perayaan Natal sebuah keluarga di Indonesia – (Sumber: Arie/BJN)

Tahun baru 1 Januari yang diawali oleh perayaan hari Natal Umat Kristiani merupakan kalender resmi penggantian tahun secara Internasionsal, bertitik tolak dari tahun masehi dengan merujuk pada kelahiran Nabi Isa. Walaupun demikian, masyarakat yang beragama non Kristen pun banyak yang merayakannya dengan berbagai tujuan dan maknanya.

Secara umum, paling tidak ada tiga katagori masyarakat yang merayakan tahun baru. Pertama sekedar ikut-ikutan, kedua yang menjadikannya sebagai media refleksi diri dengan pendekatan ritual keagamaan, dan yang ketiga murni menjadi ajang hiburan untuk meneguk kegembiraan. Oleh sebab itu, setiap pergantian tahun selalu menghadirkan ambiguitas antara hiburan yang menggembirakan dan kegiatan kontemplatif  yang mengarah kepada ritual keagamaan. Mana yang benar? Tergantung kepentingan dan dari persfektif mana kita memandangnya.

Secara faktual, mengapa tahun baru begitu kuat memunculkan aroma hiburan yang menggembirakan dan menjadi lahan untuk mengekspresikan budaya konsumerisme? Disadari atau tidak, sudah menjadi fitrah manusia mempunyai naluri untuk memperjuangkan daya hidupnya bisa mencapai pada suatu tujuan, minimal berusia panjang. Oleh karena itu, terlepas dari situasi dan kondisi kehidupan yang telah dan sedang dijalaninya, begitu sampai kepada akhir tahun dan akan menginjak ke kehidupan awal tahun berikutnya rasa kemenangan dan keberhasilan telah mengarungi tahun yang dilaluinya akan terpatri di dalam jiwanya. Salah satu cara mereka untuk mengekspresikan keberhasilannya ini dengan bersyukur dan menghibur diri.

Atmosfir kebahagiaan, kegembiraan yang memerlukan adanya sarana hiburan ini secara alamiah berhubungan dengan ekonomi, khususnya dunia industri, baik jasa maupun barang yang menjadikannya peluang untuk menggenjot penjualan produksinya. Sektor industri pakaian, restoran, hotel, travelling, pesta adalah obyek yang secara kasat mata menjadi bidikan para pengusaha.

Dengan berbagai teknis promosi yang dilakukan, para pengusaha berusaha menyihir konsumen yang berkehendak merayakan tahun baru sehingga mereka secara sukarela mengeluarkan uang tabungannya. Uang tersebut bisa jadi merupakan hasil dari bonus tahunan di tempatnya bekerja. Oleh karena itu budaya konsumerisme pun tidak bisa dihindarkan.

Berburu diskon di mall
Ilustrasi: Masyarakat berbondong-bandong ke mall untuk berburu barang belanjaan di sebuah mall di Indonesia – (Sumber: Arie/BJN)

Bersyukur adalah suatu ungkapan religius yang ada di setiap agama dan kepercayaan. Ungkapan ini bisa dilakukan secara individual maupun berkelompok dalam bentuk upacara ritual keagamaan.

Dalam kehidupan yang sudah dijalaninya secara kodrati manusia pasti melakukan kesalahan, menghadirkan kelemahan- kelemahan namun juga sebaliknya memunculkan kebaikan dan  kekuatan sehingga kehidupan bisa berjalan baik sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan dicita-citakan. Bersyukur adalah yang seharusnya dilakukan apabila mendapatkan kesuksesan pada tahun kehidupan yang telah dilaluinya, dan mengevaluasi diri adalah kewajiban yang harus dilakukan apabila menghadapi kegagalan.

Dari ilustrasi yang sudah dipaparkan di atas, pada setiap tahun baru kita kerap melihat baik tempat peribadatan (terutama gereja), maupun sarana-sarana hiburan relatif sama ramainya oleh pengunjung. Namun diharapkan dalam kondisi sebagian masyarakat yang sedang dalam kondisi terkena musibah bencana alam, menghadapi Tahun Baru  kali ini tidak kebablasan terperosok kepada budaya konsumerisme yang merugikan pribadi, abai kepada kesadaran untuk mengevaluasi diri dan bersikap tanpa empati terhadap penderitaan orang lain. Selamat Tahun Baru! (Yoyo C. Durachman).

***

Judul: Budaya Tahun Baru: Antara Hiburan dan Ritual Keagamaan
Penulis: Yoyo C. Durachman
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang Penulis

Yoyo C. Durachman
Yoyo C. Durachman, Penulis – (Sumber: J.Haryadi/BJN)

Yoyo C. Durachman adalah seorang seniman dan budayawan Cimahi yang multitalenta. Pria kelahiran Bandung, 21 September 1954 ini dikenal sebagai dosen, aktor, sutradara, penulis, pengarang, dan budayawan.

Selama karirnya dalam dunia teater, tidak kurang dari 30 pementasan telah dilakukan Yoyo dengan kapasitas sebagai sutradara, pemain, penata pentas, konsultan, dan pimpinan produksi. Naskah drama berjudul “Dunia Seolah-olah” adalah naskah drama yang ia tulis dan dibukukan bersama naskah drama lain milik Joko Kurnain, Benny Johanes, Adang Ismet, Arthur S. Nalan, dan Harris Sukristian.

Pensiunan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini kini sering diundang sebagai juri maupun sebagai narasumber diberbagai kegiatan kebudayaan. Selain itu, Yoyo juga aktif sebagai anggota Dewan Penasehat, Pakar, dan Pengawas (DP3) Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).

***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *