BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Senin (17/08/2026) – Artikel berjudul “Menjaga Roh Dongeng Sunda di Layar Digital” ini ditulis oleh Evi Nursanti Rukmana, seorang Pegiat Literasi dan Pengajar di Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad).
Suasana malam yang dulu hangat oleh tuturan dongeng Sakadang Monyet dan Kuya, Nini Antéh, kini perlahan sirna, digantikan cahaya layar ponsel. Generasi muda (Generasi Z dan Alpha) tumbuh dalam lingkungan media sosial. Mereka refleks mengusap jemari di atas layar sentuh dari satu video singkat ke video lainnya.
Dongeng yang pernah menjadi pengantar tidur dan sarana perekat kasih sayang keluarga kian asing dan terdengar jauh di telinga. Dongeng Sunda yang berperan sebagai pilar pembentuk karakter dan ruang imajinasi anak-anak Sunda, kini kian terdesak ke pojok sunyi ruang keluarga. Hal ini menjadi pengingat keras bagi keberlangsungan memori kolektif Sunda yang terancam tenggelam di tengah arus modernisasi yang serba cepat.

Dongeng Sunda adalah nostalgia masa lalu yang selalu dirindukan. Namun, kini keberadaannya terancam hilang. Dongeng Sunda bukan sekadar cerita fiksi untuk pengisi waktu luang, melainkan wadah utama penyimpan roh kebudayaan. Di dalamnya terdapat pesan yang dapat membentuk kepribadian, menjaga undak-usuk basa, tata krama, serta kehangatan ikatan emosional yang terjalin antara penutur dan pendengarnya.
Ketika dongeng Sunda diharuskan berpindah ke format digital yang serba instan dan dituntut berdurasi pendek, pesan dalam dongeng kadang tidak tersampaikan. Nilai kedalaman, kearifan lokal, dan tutur kata berisiko tergerus jika alih media ini hanya mengejar keterkenalan (viral) tanpa memperhatikan keaslian pesan di dalamnya.
Walaupun demikian, hadirnya dunia digital tidak serta merta dihadapi secara penolakan. Apalagi dimusuhi atau pelarangan. Teknologi pada dasarnya hanyalah perangkat yang bersifat netral, seperti podcast di Spotify, serial animasi interaktif di YouTube, hingga komik bertema cerita rakyat di Webtoon yang menyediakan tempat yang sangat luas dan potensial bagi keberlanjutan dongeng.

Menolak teknologi tentu malah akan mengasingkan generasi muda dari warisan leluhurnya Sunda. Tantangan terbesar hari ini bukanlah menepis arus dunia digital, tetapi memanfaatkannya untuk menyebarkan cerita rakyat tanpa menghilangkan nilai-nilai jati diri, etika, dan kelokalan Sunda.
Kolaborasi antara generasi lama dan generasi baru tentu menjadi sebuah transformasi yang sinergis antara dua generasi yang berbeda zaman ini. Di satu sisi, ada generasi lama dari para pendongeng Sunda yang menjiwai karakter dongeng dan menguasai keindahan bahasa Sunda. Di sisi lain, ada generasi muda yang kreatif menguasai teknik animasi, pengolahan tata suara, dan trik memahami penggunaan media sosial.
Ketika dua generasi ini disatukan maka dongeng Sunda tidak akan lagi dipersepsikan sebagai budaya tradisional yang membosankan. Kisah-kisah dalam dongeng justru sebagai sumber konten audio-visual yang baru, kreatif, dan memikat bagi anak-anak tanpa menghilangkan keasliannya.
Pada akhirnya, layar digital hanyalah wadah yang terus berganti seiring perjalanan zaman, tetapi dongeng akan selalu bertumpu pada keabadian bahasa ibu. Adanya modernisasi tidak akan dapat memusnahkan identitas lokal. Justru modernisasi membantu merevitalisasi nilai-nilai kelokalan sesuai perkembangan zamannya. Dongeng Sunda harus terus hidup dan mengimajinasi generasi muda.
***
Judul: Menjaga Roh Dongeng Sunda di Layar Digital
Penulis: Evi Nursanti Rukmana, M. I.Kom.
Editor: Jumari Haryadi