BERITA JABAR (BJN), Rubrik Cerpen, Jumat (17/04/2026) – Cerpen berjudul “Kopi yang Sudah Dingin” ini adalah sebuah cerpen karya Febri Satria Yazid, seorang penulis dan pemerhati sosial, tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Pak Rahmat duduk di teras rumahnya ketika sore mulai turun pelan-pelan. Langit berwarna abu jingga, angin membawa bau tanah yang baru disiram hujan. Di tangannya secangkir kopi yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Bukan karena lupa diminum, melainkan karena pikirannya lebih sibuk menimbang satu pertanyaan yang belakangan sering datang : mengapa orang-orang begitu mudah mengiyakan ucapannya, tetapi begitu ringan pula melanggarnya?
Ia bukan orang yang suka memerintah. Sejak muda, Rahmat dikenal tenang, rapi berpikir, dan cenderung memilih jalan damai. Kalau ada urusan keluarga, dialah yang diminta menengahi. Kalau ada persoalan bisnis, dialah yang dipercaya membuat hitungan. Kalau ada pertengkaran kecil antar saudara, dialah yang diminta memberi keputusan. Orang-orang memanggilnya dengan hormat, mendengarkan ucapannya, bahkan sering mengangguk penuh setuju.
Masalahnya, anggukan itu ternyata sering hanya berhenti di leher.
Biasanya kalua sudah begini, Rahmat hanya menatap beberapa detik, lalu berkata singkat, “Bisa dibicarakan sebelum dilakukan, bukan sesudah.”. Ia tidak berteriak, tidak membanting meja, tidak mengeluarkan kata kasar. Justru itu yang membuat orang sering salah mengukur dirinya. Mereka mengira diam berarti lunak. Mereka mengira tenang berarti mudah dibohongi.
Rahmat punya usaha distribusi bahan bangunan bersama dua rekan lama. Dalam rapat, mereka menyepakati aturan sederhana bahwa tidak mengambil barang gudang tanpa pencatatan. Semua setuju, bahkan salah satu rekannya menepuk meja sambil berkata, “Kita profesional.”. Namun seminggu kemudian, stok semen berkurang dua puluh sak. Setelah diperiksa, ternyata salah satu rekan meminjamkan barang kepada saudaranya tanpa nota. “Cuma sebentar, Mat. Besok diganti,” katanya enteng.
Rahmat mengangguk pelan. “Masalahnya bukan semen dua puluh sak. Masalahnya kata-kata yang kamu pakai saat rapat.” Rekannya tertawa kecil, mengira itu sekadar teguran biasa. Ia belum paham bahwa Rahmat sedang mencatat sesuatu yang jauh lebih penting daripada barang hilang yaitu kadar dapat dipercayanya seseorang.
Yang paling melelahkan justru datang dari orang terdekat. Anaknya pernah berjanji pulang sebelum tengah malam. Rahmat tidak melarang pergaulan, hanya meminta kabar dan batas waktu. Pesan itu dibalas dengan emoji jempol. Tengah malam lewat. Jam satu. Jam dua. Baru pulang menjelang subuh dengan alasan baterai habis dan jalanan macet. Rahmat menjawab datar, “Saya tidak marah karena pulangnya. Saya kecewa karena janjinya dianggap mainan.”
Ia paham satu hal yang tidak semua orang sadari bahwa pelanggaran kecil yang dibiarkan akan melatih orang menganggap remeh batasan. Anehnya, setiap kali ia mulai menjauh, orang-orang datang membawa penyesalan. Adiknya menangis, bercerita soal tekanan ekonomi. Rekan bisnisnya mengeluh sedang banyak utang. Anaknya memeluk sambil berkata ingin berubah. Mereka pandai menyusun kisah yang menyentuh hati, seolah drama bisa menghapus kebiasaan.
Dan sering kali, setelah itu, mereka yakin Rahmat akan kembali seperti semula, bersikap ramah, membantu, tersedia kapan saja.
Rahmat memang baik hati, tetapi ada satu hal yang tidak mereka mengerti bahwa kebaikan bukan berarti lupa. Maaf bukan berarti akses dipulihkan. Tenang bukan berarti bodoh.
Rahmat memiliki cara berpikir yang dingin dan akurat. Ia memisahkan emosi dari penilaian. Ia bisa menerima permintaan maaf, namun tetap mengubah jarak. Ia bisa tersenyum, tetapi tidak lagi menyerahkan kepercayaan yang sama. Ia bisa membantu sekali dua kali, tetapi tidak lagi menaruh kepercayaan.
Suatu malam, seorang kerabat datang ke rumah meminta modal usaha. Orang itu dulu pernah mengingkari kesepakatan pinjaman dan menghilang berbulan-bulan. Kini ia datang dengan wajah letih dan cerita panjang tentang nasib buruk. “Saya tahu dulu saya salah, Mat. Tapi kali ini sungguh-sungguh.”
Rahmat menuangkan teh ke dua gelas, lalu mendorong satu gelas ke hadapannya. “Saya percaya kamu ingin berubah,” katanya tenang. Wajah kerabat itu berbinar. “Jadi… dibantu?” Rahmat menggeleng pelan. “Saya percaya niatmu. Tapi saya juga percaya data.”. Kerabat itu terdiam.
Rahmat melanjutkan, “Niat adalah kata-kata hari ini. Data adalah kebiasaan kemarin. Saya menilai orang dari dua-duanya”. Tidak ada bentakan, tidak juga penghinaan. Hanya keputusan yang bersih.
Sejak itu, semakin banyak orang sadar bahwa kemarahan Rahmat bukan hal yang perlu ditakuti. Yang perlu ditakuti justru ketika ia berhenti marah. Saat ia tak lagi menegur, tak lagi menasihati, tak lagi bertanya. Itu adalah tanda dari Rahmat bahwa ia sudah selesai.
Ia masih datang ke acara keluarga, masih tersenyum, masih membantu bila perlu. Di kantor ia tetap profesional. Di rumah ia tetap menjadi ayah yang peduli. Dari luar, semuanya tampak biasa.
Namun orang-orang yang peka akan merasakan perbedaannya. Pintu yang dulu terbuka lebar kini hanya setengah. Akses yang dulu mudah kini terbatas. Kepercayaan yang dulu diberikan cuma-cuma kini harus dibayar dengan konsistensi.
Di teras rumah, kopi Rahmat akhirnya diminum juga. Sudah dingin, agak pahit. Ia tersenyum tipis.
Selama ini banyak orang mengira dirinya mudah ditenangkan karena tidak meledak-ledak. Padahal mereka keliru. Api besar memang menakutkan, tetapi cepat padam. Yang lebih menentukan justru bara yang diam-diam memutuskan tidak lagi menghangatkan siapa pun. Rahmat jadi teringat pada quotes yang jadi pedomannya bahwa kepercayaan lebih berharga daripada kekuasaan. Kekuasaan bisa memaksa, tetapi kepercayaan hanya bisa diraih dengan hati.(fsy)
Penulis : Febri Satria Yazid
Editor : Tiyut