BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Senin (16/02/2026) – Artikel berjudul “Islam yang Saya Anut” ini ditulis oleh L. Malaranggi yang berprofesi sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Wiralodra Indramayu.
“Agama bukanlah sekadar ritual; ia adalah revolusi.” ─ Ali Syariati, Sosiolog. Pemikir Muslim, Intelektual Revolusioner Iran.
Saya terus mempertanyakan kepada diri saya sendiri, kapan tepatnya agama mulai menjadi sesuatu yang personal dalam hidup saya. Dalam diri saya, saya selalu bertanya tentang semuanya, termasuk agama yang saya anut sampai saat ini. Agama yang saya yakini dari kecil dan saya imani hingga saat ini hadir secara perlahan. Ia kadang semacam kebingungan tersendiri. Ia kadang semacam kegelisahan. Ia juga kadang menjelma pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung selesai.
Agama yang saya anut ini, yakni Islam: kadang tumbuh dari berbagai keresahan yang saya rasakan, dari mulai ketidakadilan yang saya lihat sehari-hari, kadang dari pikiran yang tiba-tiba terlintas. Islam yang saya anut ini, nampaknya belum selesai di pikiran saya. Ia terus bergolak dan kadang menjadi penuntun untuk memahami realitas sehari-hari tentang apa yang terjadi di kehidupan ini. Melihat langsung buruh-buruh pabrik, melihat langsung para petani, melihat guru-guru honorer mengajar dengan ikhlas walau gaji kecil.
Saya tumbuh di daerah yang masyarakatnya menjadikan Islam lebih sebagai identitas ketimbang nilai. Saya mulai mempertanyakan diri saya dan berpikir ulang, mempertanyakan kembali makna di tengah gemerlap kehidupan sekarang ini. Saya melihat praktik ketidakadilan, ketidakjujuran, dan ketidakberpihakan pada yang lemah. Di situlah saya mempertanyakan diri saya sendiri dan disinilah kegelisahan saya bermula.

Absennya orang-orang beragama pada konteks sosial adalah bentuk yang paling rentan menurut saya, padahal semuanya beragama dan hidup jadi satu di dalam sebuah lingkungan sosial. Banyak sekali hal-hal yang tak seharusnya di lakukan, tetapi justru dilakukan.
Saya mengamati, melihat, kadang-kadang mendengar dengan seksama, lalu mengeceknya dengan perasaan yang tak yakin. Saya menyadari ini ada masalah. Masalahnya bukan pada agamanya atau ajarannya, tetapi pada bagaimana manusia-manusia pemeluk agama ini di bentuk oleh sistem.
Islam yang saya anut tidak lahir dari ceramah berjam-jam atau pengajian-pengajian ekslusif. Ia justru tumbuh secara perlahan dan menguat di hati saya ketika melihat suatu realitas yang rill: petani yang di serobot tanahnya, buruh pabrik yang ditindas, dan korban-korban kekerasan lainnya. Di situ saya mulai bertanya-tanya: apakah Islam hanya bahasa ritual? Terus kalau seperti itu di mana ia berdiri ketika ketidakadilan semakin ke sini semakin merajalela?
“Agama bukanlah sekadar ritual; ia adalah revolusi.”
Islam dan Luka sosial
Indonesia pada tahun 2025 kemarin hingga awal 2026 ini adalah lanskap kegelisahan kolektif warga. Kita menyaksikan banalitas begitu telanjang. Kita melihat bagaimana hukum semakin kehilangan kewibaannya. Kita juga melihat bagaimana demokrasi semakin dangkal, dan bagaimana kekuasaan semakin kesini justru semakin telanjang.
Kita juga bisa melihat korupsi yang terjadi di rentang waktu 2025 sampai 2026 ini ada berapa. Itu semua sudah biasa kita lihat dan hampir semuanya lumrah terjadi di negara ini. Ini menandakan bahwa ada suatu kebiasaan yang sudah mendarah daging dan membuat kita marah melihatnya.
Di tengah situasi yang antah-berantah ini, Islam sering hadir sebagai hiasan saja. Ia digunakan hanya untuk menenangkan massa dengan fatwa-fatwa, bukan menggugat struktur. Ia di jadikan alat legitimasi, tapi bukan di jadikan sumber kritik utama untuk mereka yang lupa dan lalai.
Ayat-ayat selalu di gaungkan dengan begitu megahnya dan menukik-nukik sampai otot lehernya keluar, mrupus. Kadang ia juga justru membungkam protes-protes warga, hadis digunakan untuk menjustifikasi kepatuhan dan jargon-jargon ukhuwah dikumandangkan untuk meredam kemarahan sosial.
Bagi saya, harusnya Islam justru menjadi bahasa utama perlawanan terhadap ketidakadilan yang secara nyata telanjang di depan mata kita semua. Semakin kesini, entah saya yang tidak menemukan Islam atau Islam yang disalahgunakan untuk menjadi tunggangan kekuasaan. Saya tidak menemukan Islam di mimbar yang membicarakan hak rakyat untuk melawan. Saya pun tidak menemukan Islam di pengajian yang menentang struktur korup untuk mengutuk segalah bentuk penindasan yang terjadi.
Saya menemukan Islam justru di diri para korban kekerasan, saya menemukan Islam di diri petani yang kehilangan lahan, saya menemukan Islam di anak-anak yang keracunan. Islam yang saya anut justru di sisi mereka yang hidupnya palin rentan dan papah.
Antara Moral dan Kekuasaan
Sepanjang rentang tahun 2025 sampai awal 2026 ini, kita banyak menyaksikan kejadian-kejadian yang seharusnya tidak terjadi demikian. Kita semua melihat bahwa hukum lebih cenderung menjadi alat kekuasaan bukan alat untuk menegakkan keadilan sesungguhnya. Banyak kasus terjadi sekarang, banyak kasus besar justru menguap, sementara pelanggaran kecil rakyat jelata diburu, di cari, di tersangkakan, sampai kelubang semut pun akan terus di kejar.
Kita semua tahu Agustus 2025 kemarin, ada ribuan aktivis yang dikriminalisasi, jurnalis diintimidasi, mahasiswa dipukuli, dan ruang untuk berekspresi semakin kecil dan mulai sempit sekali. Dalam situasi semacam ini, saya terus bertanya-tanya: di mana suara keagamaan? Di mana ulama? Di mana kiai? Di mana tokoh agama? Apakah mereka sibuk berebut kekuasaan? Atau mereka justru tertawa-tawa melihat semua keadaan yang semakin antah-berantah ini?
Islam yang saya anut tidak berhenti pada moral privat. Ia bagaimanapun caranya harus menembus ruang publik. Ia harus berani menyentuh kebijakan. Ia harus berani menggugat kekuasaan, sruktur, hukum, dan ekonomi. Ia harus berani terus menerus mengganggu kenyamanan status quo.
Jika Islam berhenti dan mengatur cara berpakaian dan tata cara ibadah, tetapi bungkam terhadap ketimpangan yang terjadi secara jelas ini maka ia telah kehilangan ruh pembebasannya.
Islam dan Politik
Saya tidak menolak politik. Saya menolak politisasi agama yang murahan. Sepanjang tahun-tahun terahkir, kita bisa melihat bagaimana simbol Islam digunakan dalam kontestasi politik. Agama dijual, dicecer oleh orang-orang yang justru kepentingannya hanya untuk diri sendiri dan kroninya.
Ayat-ayat dan doa-doa melambung-lambung, seakan-akan ketika ia di pekikkan semua yang beragama harus mengikutinya dan ketika tidak mengikutinya ia dicap kafir, dosa besar, neraka, dan kata-kata lainnya.
Islam yang saya anut justru menjaga jarak dari itu semua, saya ingin menggugat itu semua dan bertanya, mempertanyakan kembali makna beragama hari ini seperti apa? Bagi saya Islam bukan untuk menaklukkan, melainkan jalan untuk membebaskan.
Ramadan dan Kesadaran Sosial
Sebentar lagi kita memasuki bulan ramadan yang suci dan mari kita kembali mengupayakan yang masih bisa kita upayakan kedepannya. Kegelisahan tentu masih dan keadaan mungkin akan semakin memburuk.
Ramadan kali ini kita jadikan ruang refleksi bersama, membangun lagi kesadaran kolektif dan terus menguggat mereka yang mapan dan menyengsarakan. Islam yang saya anut memaknai puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, melainkan menahan diri dari ketidakpedulian.
Mari kita melatih empati, memupuk rasa solidaritas bersama dan berjejaring. Ramadan, bagi saya seharusnya menjadi momen untuk memperdalam keberpihakan sosial, bukan sekadar memperbanyak ritual.
Islam yang Terus Saya Cari
Islam yang saya anut ini, bukan sesuatu yang sudah selesai dengan argumentasi yang saya ajukan dan terangkan di atas. Ia mesti terus bergerak, berubah, dan berkembang. Ia harus tumbuh seiring pengalaman pahit tentang luka, dan perjumpaan. Ia tidak pernah final.
Mungkin disitulah pentingnya, di tengah realitas sosial-politik Indonesia yang kian kompleks di tengah hukum yang semakin kehilangan arah, di tengah demokrasi yang makin dangkal, saya sungguh ingin memeluk Islam sebagai jalan paling sunyi: jalan keberanian untuk berpihak pada mereka yang papah. Jalan kejujuran untuk mengkitik mereka yang lupa dan lalai, serta jalan kesetiaan pada kemanusiaan universal.
Menjelang Ramadan 2026 ini, saya ingin menyambut puasa bukan dengan kesalehan yang dipamerkan kepada orang-orang, tetapi dengan kesadaran yang diperdalam. Saya ingin berpuasa, tetapi berpuasa pada kesembongan, pada kebencian, pada penindasan. Saya ingin beribadah dengan cara memperjuangkan keadilan yang semakin hilang, sekecil apapun itu.
Inilah Islam yang saya anut: Islam yang resah akan ketidakadilan yang terjadi, resah akan penindasan, resah pada kerusakan, resah pada mereka yang lupa tentang tuhan dan alam. (L. Malaranggi).
***
Judul: Islam yang Saya Anut
Penulis: L. Malaranggi
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
L. Malaranggi atau akrab disapa “El” adalah seorang mahasiswa aktif yang tengah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Wiralodra Indramayu. Dengan minat yang kuat terhadap isu-isu keadilan sosial dan pemberdayaan masyarakat, ia terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan kapasitas diri baik secara akademis maupun organisasi. Di tengah kesibukan kuliah, ia tetap aktif mengikuti berbagai forum diskusi dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Keterlibatan El dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menjadi wujud nyata dari semangat juang dan dedikasinya terhadap perjuangan kaum marhaen. Saat ini, ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Kaderisasi GMNI Komisariat Hukum Universitas Wiralodra. Dalam posisi ini, ia berperan aktif dalam merancang dan melaksanakan program pengkaderan yang progresif, sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran ideologis di kalangan anggota muda.
Sebagai kader muda yang berpijak pada semangat Trisakti Bung Karno, El meyakini bahwa perubahan dimulai dari keberanian untuk berpikir kritis dan bertindak kolektif. Baginya, organisasi bukan sekadar ruang berkumpul, melainkan tempat untuk menempa diri dan menyumbangkan energi terbaik demi kemajuan rakyat dan bangsa. Komitmen ini menjadi dasar pijakannya dalam menjalani setiap proses perjuangan, baik di ranah akademik maupun pergerakan.
***